Rabu, 6 Mei 2026

Mahasiswa Unila Meninggal Diduga Akibat Disiksa Senior saat Diksar

Seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila), Pratama Wijaya Kusuma, dinyatakan meninggal dunia usai mengikuti

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
tribunlampung/bayu saputra
KORBAN DIKSAR - Korban Diksar Mahepel FEB Unila, Muhammad Arnando Al Faaris saat diwawancarai Tribun Lampung di gedung KONI Lampung, Kamis (29/5/2025). 

PROHABA.CO, BANDAR LAMPUNG -  Seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila), Pratama Wijaya Kusuma, dinyatakan meninggal dunia usai mengikuti kegiatan Pendidikan Dasar (Diksar) organisasi mahasiswa pecinta alam Mahepel FEB Unila

Mahasiswa jurusan Bisnis Digital angkatan 2024 itu diduga menjadi korban penganiayaan berat yang dilakukan oleh seniornya selama kegiatan berlangsung.

Universitas Lampung (Unila) berduka, satu mahasiswanya bernama Pratama Wijaya Kusuma dari jurusan Bisnis Digital Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unila angkatan 2024 meninggal dunia. 

Korban meninggal diduga usai mengikuti pendidikan dasar (diksar) organisasi kemahasiswaan Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan, pada 11-14 November 2024 dan ia tutup usia 28 April 2025.

Salah seorang peserta diksar Mahepel FEB Unila, Muhammad Arnando Al Faaris yang merupakan rekan korban mengakui bahwa telah terjadinya penyiksaan terhadap dirinya, Pratama yang meninggal dunia, serta empat teman lainnnya. 

"Saya berusaha melaporkan kekerasan yang terjadi yang dilakukan oleh kakak tingkat di Mahepel.

Saya sendiri mengalami dan saya mengharapkan ada keadilan, tapi malah saya mendapatkan tekanan," kata Muhammad Arnando Al Faaris saat diwawancarai di depan kantor KONI Lampung, Kamis (29/5/2025). 

Ia mengatakan, dirinya malah dicap oleh kakak tingkat dan kampus sebagai pembuat masalah.

"Saya meminta bantuan kepada mereka, tapi mereka tidak mau membantunya," ujar Faaris. 

Baca juga: Tragis, Bocah Kelas SD di Inhu Muntah Darah hingga Tewas Akibat Dibully Kakak Kelas

Dia juga diperintahkan menandatangani suatu surat agar cerita ke siapapun dan kekerasan diksar tertulis hanya sebagai sukarela. 

"Saya tidak ikhlas dengan apa yang terjadi.

Saya kecewa dengan sikap kampus, makanya saya keluar Unila," kata Faaris.

Ia mengatakan, pihaknya mendapatkan kekerasan saat tiba di Desa Talang Mulya, Kabupaten Pesawaran.

Pada 11 November 2024 itu, dirinya kumpul jam 10.00 WIB di Unila dengan membawa tas yang berat. 

Peserta diksar berjumlah 6 orang yakni dirinya, bersama Pratama Wijaya Kesuma (S1 Bisnis Digital), Sukril Kamal (S1 Ekonomi Pembangunan). 

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved