Rabu, 13 Mei 2026

Tahukah Anda

Benarkah Stres Bisa Sebabkan Kebotakan, Ini Penjelasan Medisnya

Stres tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memicu gangguan fisik, termasuk kerontokan rambut yang parah

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
SHUTTERSTOCK/docent
ILUSTRASI KEBOTAKAN - Ilustrasi kebotakan. Benarkah stres bisa menyebabkan kebotakan? Berikut penjelasannya. 

PROHABA.CO -  Stres tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memicu gangguan fisik, termasuk kerontokan rambut yang parah. 

Salah satu kondisi yang sering dikaitkan dengan stres berat adalah alopecia areata, yakni penyakit autoimun yang menyebabkan kebotakan pada area tertentu di kulit kepala.

Menurut dr Riati Sri Hartini, MSc, SpKj, psikiater sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, peningkatan hormon stres (kortisol) dapat memicu respons kekebalan tubuh yang keliru.

Folikel rambut disalahartikan sebagai ancaman dan diserang, sehingga rambut rontok secara masif.

“Peningkatan kortisol akan mengurangi protein di folikel rambut dan memperpanjang fase istirahatnya. 

Hormon tersebut bisa mengganggu sistem kekebalan tubuh hingga akhirnya salah mengenali folikel rambut sebagai “musuh” yang harus diserang.

“Peningkatan kortisol akan mengurangi protein di folikel rambut dan memperpanjang fase istirahatnya.

Pertumbuhannya akan terganggu dan siklus rambut menjadi tidak normal.

Manifestasinya bisa berupa ‘alopecia areata’,” jelas dr Riati dalam program IPB Pedia di kanal YouTube IPB Tv. Selain ‘alopecia’, stres juga dapat memicu kebiasaan mencabuti rambut sendiri, yang dikenal sebagai ‘trichotillomania’.

Gangguan ini biasanya berhubungan dengan masalah psikologis lain, seperti depresi atau kecemasan.

Namun, dr Riati menegaskan bahwa tidak semua orang yang mengalami stres pasti akan mengalami kerontokan rambut.

“Faktor risiko tidak hanya stres saja.

Baca juga: Mengapa Banyak Anak Muda yang Cepat Botak? Ini Alasaanya

Baca juga: Rambut Rontok Karena Zat Kimia? Atasi dengan Bahan Alami Ini

Jika faktor lain tidak ada, kerontokan belum tentu terjadi,” ujarnya.

Kebotakan akibat ‘alopecia areata’ tidak hanya mengubah penampilan, tetapi juga berpengaruh pada kondisi psikologis.

Banyak penderita mengalami penurunan percaya diri, muncul rasa cemas, hingga berisiko mengalami depresi.

Cara mengatasi

Penanganan ‘alopecia areata’ dapat dilakukan dari dua sisi: medis dan psikologis.

Secara medis, dokter kulit biasanya memberikan kortikosteroid (suntikan, oles, atau oral); obat perangsang pertumbuhan rambut; dan imunomodulator JAK inhibitor untuk menyeimbangkan protein dalam tubuh.

Secara psikologis, pengelolaan stres menjadi kunci utama.

Beberapa cara yang dianjurkan, antara lain: menjalani gaya hidup sehat; rutin berolahraga; relaksasi, yoga, atau meditasi; dan konsultasi dengan psikolog atau psikiater jika diperlukan.

“Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga fisik. 

Dari sisi psikologis, pengelolaan stres menjadi langkah kunci.

Gaya hidup sehat, olahraga rutin, teknik relaksasi seperti yoga atau meditasi, serta konsultasi ke profesional kesehatan jiwa merupakan bagian penting dari terapi.

“Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga fisik. Jika mengalami stres berat atau gejala kebotakan yang tidak biasa, segera cari bantuan profesional,” pungkas dr Riati.(*)

Baca juga: Kabar Baik, Peneliti Temukan Gula Alami untuk Atasi Rambut Rontok

Baca juga: Sering Mengalami Kerontokan Rambut yang berlebihan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Benarkah Stres Bisa Sebabkan Kebotakan? Begini Penjelasan Ahli", 

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved