Perseteruan Iran vs Amerika
Presiden Iran Klaim AS dan Israel Memang Tak Mau Kesepakatan Tercapai
Soal negosiasi dengan AS ini, Pezeshkian memperingatkan apa yang dia sebut sebagai "musuh-musuh negara" telah memblokir semua jalan
Soal negosiasi dengan AS ini, Pezeshkian memperingatkan apa yang dia sebut sebagai "musuh-musuh negara" telah memblokir semua jalan dan mencegah kesepakatan tercapai
PROHABA.CO - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memanfaatkan peristiwa demonstrasi besar di Iran yang terjadi baru-baru ini.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengungkapkan Presiden Amerika Serikat dan Perdana Menteri Israel itu menghasut, meski diakui oleh Teheran bahwa demonstrasi berujung kerusuhan itu menimbulkan banyak korban jiwa.
Di sisi lain, pandangan AS, jatuhnya korban jiwa lantaran tindakan represif rezim Iran.
Atas hal itu pula, kata Trump, rezim saat ini di Iran harus diganti.
AS kemudian mengancam akan menyerang Iran, dengan berbagai dalil yang kemudian berkembang menjadi proses negosiasi yang masih berlangsung.
Soal negosiasi dengan AS ini, Pezeshkian memperingatkan kalau apa yang dia sebut sebagai "musuh-musuh negara" telah memblokir semua jalan dan mencegah kesepakatan tercapai.
Kantor Berita Tasnim melaporkan kalau Pezeshkian mengatakan itu pada Kamis (12/2/2026), dalam pertemuan dengan sekelompok intelektual, aktivis politik, sosial, dan budaya terpilih di provinsi Golestan di Iran utara.
Baca juga: Kapal Induk dan Helikopter AS Terpantau Berada di Dekat Selat Hormuz, Iran Siaga
"Para pemuda yang berdemonstrasi di Iran tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi, mengingat kekurangan terletak pada para pejabat karena tidak memberi mereka pendidikan yang layak dan kesempatan kerja yang cukup," katanya seperti dilaporkan Khaberni, Jumat (13/2/2026).
Dia menambahkan bahwa "musuh dan Zionis mengeksploitasi peristiwa di negara itu, dan berkontribusi dalam menciptakan dan memperburuk masalah."
Pezeshkian menyerukan kepada warga untuk berupaya menyembuhkan "luka" setelah kerusuhan berdarah yang dialami negara itu, dengan mengatakan, "Itu adalah luka yang pahit, tetapi harus disembuhkan dan tidak diperdalam hingga menyebabkan infeksi."
Dia menjelaskan bahwa sekarang perlu untuk melihat ke depan dan berdamai, alih-alih terus berdebat dan menyerahkan negara kepada "musuh asing".
Menurut statistik resmi, lebih dari 3.000 orang tewas dalam kekerasan antara akhir Desember lalu dan awal Januari lalu, sementara Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS memperkirakan jumlah korban tewas mencapai lebih dari 7.000 dalam laporan terbarunya.
Gelombang protes besar-besaran meletus di Iran akhir tahun lalu, di tengah memburuknya kondisi ekonomi dan kehidupan, khususnya jatuhnya nilai mata uang lokal dan meningkatnya angka inflasi serta pengangguran.
Baca juga: Donald Trump: Israel dan Iran Sepakat Gencatan Senjata, Semua Pihak Tahan Diri
Hal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington, menyusul kedatangan kapal induk AS dan kapal perang pengiringnya di wilayah tersebut, setelah ancaman berulang kali dari Presiden Trump untuk campur tangan atas penindakan berdarah terhadap protes di Iran.
Teheran
Presiden Iran
Donald Trump
Benjamin Nethanyahu
Masoud Pezeshkian
Amerika Serikat
Iran vs Amerika
Harian Prohaba
Prohaba.co
| Muhammad Aril dan Talha Della Sintia Juara Duta Baca USK 2026 |
|
|---|
| Disbudpar Aceh dan GEKRAFS Jalin Kerja Sama, Genjot Promosi Wisata dan Ekraf |
|
|---|
| Bank Aceh Gandeng Taspen, Perkuat Layanan Pembayaran Pensiun di Aceh |
|
|---|
| RSIA Cempaka Az-Zahra Banda Aceh Kembali Terima Pasien BPJS, Ini Fasilitas yang Disiapkan |
|
|---|
| Demo Tolak Pergub JKA di Kantor Gubernur Aceh Berujung Ricuh, Sejumlah Massa Diamankan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/KIRIM-KAPAL-INDUK-KE-PERAIRAN-IRAN.jpg)