Minggu, 10 Mei 2026

Khutbah Jumat

Musibah, Ujiankah atau Azab?

Orang yang menganggap bahwa musibah sebagai azab dengan mengaitkan musibah dengan kebijakan yang disengaja untuk merusak alam

Tayang:
Editor: IKL
FOR PROHABA
MASJID DAN KHATIB - Masjid Al Ikhlas Ie Alang, Kuta Cot Glie, Aceh Besar. Anggota MPU Aceh Besar, Ustaz Afrizal Sofyan MPd (insert), yang menjadi khatib Jumat di Masjid Al Ihklas Kuta Cot Glie pada hari ini, 12 Desember 2025, akan menyampaikan khutbah dengan judul ‘Musibah, Ujiankah atau Azab?.’ 

”Dan semua terjadi pada masa umat terdahulu. Namun, status ini tidak bisa dipastikan pada suatu musibah modern di masa kita sekarang ini seperti banjir bandang dan longsor yang menimpa Aceh, Sumut, dan sebagian Sumatra Barat, karena tidak ada wahyu setelah Rasulullah saw. 

Maka, musibah banjir bandang ini tidak tepat kalau disebut sebagai azab.

Musibah adalah peringatan
Imam Ibn Taimiyah kembali menegaskan dalam Majmû‘ al-Fatâwânya bahwa, “ Musibah yang menimpa manusia bisa jadi azab, bisa jadi ujian, dan kita tidak boleh memastikan musibah yang menimpa pada individu atau daerah ter tentu sebagai azab.” 

Pernyataan ibn Taimiyah juga selaras dengan pernyataan Imam Il-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn dengan menyebutkkan,  “Azab secara umum sudah terputus sejak wafatnya Rasulullah SAW, yang tersisa hanyalah ujian, peringa tan, dan hukuman duniawi yang tidak bisa dipastikan sebagai azab akhirat.” 

Semua muslim harus meyakini  bahwa setiap musibah mengandung hikmah baik untuk membersihkan dosa, mengangkat derajat, sebagai pengingat, atau sebagai azab bagi yang pantas.  Kerana tidak ada suatu musibah pun yang terjadi kecuali dengan izin Allah Swt. 

Sebagaimana Allah Swt tegaskan dalam Surat At-Taghâbun ayat 11, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” 

Imam Ibn Qayyim  dalam kitab Zâdul Ma‘âd menulis, “Jika musibah membuatmu dekat dengan Allah, itu adalah Rahmat. Namun, jika musibah membuatmu jauh dari Allah, maka itu adalah azab.”

Pengelompokan musibah
Para ulama seperti Ibnul Qayyim, As-Sa’di, Ibnu Taimiyah memberikan beberapa indikator dalam mengelompokkan musibah

Pertama, musibah itu sebagai ujian jika membuat manusia bertobat, mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan amal saleh, dan memperbaiki akhlak. 

Kedua, musibah itu bisa sebagai azab, jika musibah itu membuat manusia menambah maksiat, menambah kufur nikmat, menimbulkan kesombongan, dan semakin jauh dari Allah Swt. 

Maka, dapat disimpulkan bahwa jika banjir bandang dan semua efeknya menjadikan kita semakin dekat dan taat kepada Allah Swt, maka musibah ini adalah ujian untuk kita semua, sehingga semua kelelahan, kes ulitan, kesedihan dan kekhawatiran kita adalah pengampunan dosa dan pengangkatan derajat di Sisi Allah Swt. 

Namun sebaliknya, jika musibah ini masih membuat kita lalai dari perintah Allah Swt dan masih bermaksiat kepada-Nya, maka banjir bandang ini menjadi azab bagi kita semua. 

Berikutnya, kita bahas tentang sikap yang tepat bagi seorang muslim dalam meng hadapi musibah

Sikap seorang muslim yang benar dalam menghadapi musibah banjir bandang adalah: 

Pertama, bersabar (ﺍﻝﺹﺏﺭ) dan tidak berkeluh kesah sebagaimana firman Allah, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah berkata: Inna lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.” (Al-Baqarah 155–156). 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved