Selasa, 2 Juni 2026

Berita Bireuen

Bertahan di Tenda Oranye, Syamsiah Menanti Huntap Menjelang Puasa

Di atas tanah yang dulu berdiri rumah sekaligus warung kopi sederhana milik Syamsiah (47), kini hanya ada sebuah tenda oranye bantuan Badan Nasional

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
SERAMBINEWS.COM/YUSMANDIN IDRIS
KISAH KORBAN BANJIR – Salah seorang korban banjir bernama Syamsiah, warga Desa Pante Baro Kumbang, Peusangan Siblah Krueng, Bireuen menceritakan kisah hidupnya yang harus bertahan hidup di tenda pengungsian pada bekas pertapakan rumahnya yang hancur diterjang banjir pada akhir November 2025 lalu. Tenda itu menjadi tempat tinggal sementara bertahan hidup bagi Syamsiah, suaminya Syarifuddin (60), serta dua anak mereka, Mareza (23) dan Muhajar (14), setelah banjir bandang meluluhlantakkan desa tersebut. (Serambinews.com/Yusmandin Idris) 

Ringkasan Berita:
  • Banjir bandang di Pante Baro Kumbang, Bireuen, menghancurkan 310 rumah, termasuk rumah dan warung milik Syamsiah.
  • Syamsiah dan keluarganya kini bertahan di tenda darurat BNPB, mengandalkan bantuan posko dan memasak dengan kayu bakar.
  • Korban berharap pemerintah segera membangun hunian tetap dan memberikan bantuan modal agar bisa memulai kembali kehidupan dan usaha yang hilang.

 

PROHABA.CO, BIREUEN - Dusun Balee Kuning, Gampong Pante Baro Kumbang, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen kini menyimpan kisah pilu sekaligus keteguhan hati.

Di atas tanah yang dulu berdiri rumah sekaligus warung kopi sederhana milik Syamsiah (47), kini hanya ada sebuah tenda oranye bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 

Tenda itu menjadi tempat tinggal sementara bertahan hidup bagi Syamsiah, suaminya Syarifuddin (60), serta dua anak mereka, Mareza (23) dan Muhajar (14), setelah banjir bandang meluluhlantakkan desa tersebut.

Gampong Pante Baro Kumbang menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah.

Banjir bandang yang datang bersama luapan Krueng Peusangan menghancurkan sedikitnya 310 rumah.

Banyak warga kehilangan tempat tinggal sebagian mengungsi ke meunasah, sebagian menumpang di rumah keluarga, sementara lainnya bertahan di tenda darurat.

Syamsiah memilih tetap tinggal di lokasi rumahnya yang kini tinggal puing.

“Semua sudah tidak ada lagi. Kami bertahan di sini bersama suami dan anak-anak,” ujarnya lirih.

Baca juga: Banjir Bandang Hancurkan 63 Rumah di Desa Salah Sirong Bireuen, Akses Jalan Masih Terputus

Rumah yang dahulu menjadi tempat berlindung sekaligus sumber penghidupan keluarga itu kini hanya menyisakan puing seng dan peralatan rumah tangga yang terbawa arus banjir hingga sekitar 100 meter.

Di dalam tenda, beberapa tas berisi pakaian tersusun seadanya.

Untuk memasak, Syamsiah mengandalkan kayu bakar.

Jika hujan turun, keluarga ini terpaksa menginap di rumah tetangga, lalu kembali ke tenda keesokan harinya.

Sementara itu, Syarifuddin berusaha mencari nafkah dengan membantu warga membersihkan rumah dari lumpur sisa banjir.

“Bapak sudah keluar, mungkin membantu membersihkan rumah orang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved