Jumat, 17 April 2026

Gletser Terbesar di Antartika Diprediksi Segera Runtuh

Salah satu gletser terbesar di Antartika yang disebut sebagai Gletser Kiamat, tak lama lagi akan mengalami keruntuhan...

Editor: Muliadi Gani
FOTO: SHUTTERSTOCK
Salah satu gletser terbesar di Antartika yang disebut sebagai Gletser Kiamat, tak lama lagi akan mengalami keruntuhan. 

Gletser Kiamat di Antartika ini berukuran sekitar 74.000 mil persegi, kira-kira seukuran Florida di Amerika Serikat, dan sangat rentan terhadap perubahan iklim dan laut.

Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa gunung es yang retak dan jatuh dari gletser utama dalam proses yang dikenal sebagai ‘iceberg calving’, dapat mencegah daripada berkontribusi terhadap bencana keruntuhan.

Sebab, jika bongkahan es terjebak pada singkapan dasar laut, maka mereka dapat memberikan tekanan balik pada gletser untuk membantu menstabilkannya.

Bassis mencatat, bahkan jika gletser tidak runtuh secara besar-besaran, mengekspor tebing es tinggi maka masih bisa memicu kemunduran beberapa kilometer per tahun.

Selanjutnya, akan berkontribusi besar terhadap kenaikan permukaan laut di masa depan.

Meskipun jelas bahwa Thwaites dan gletser lainnya mencair, kecepatan kematian mereka sangat menarik bagi daerah pesisir saat mereka mengembangkan strategi untuk beradaptasi dan membangun ketahanan.

Ilmuwan memperingatkan potensi tsunami dahsyat atau megatsunami di Alaska sebagai akibat pencairan gletser dan tanah longsor.

Baca juga: Mineral Mars Terkubur di Antartika, Kok Bisa?

Kendati demikian, memprediksi mundurnya gletser adalah masalah yang sangat rumit.

Sebab, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling memengaruhi, baik tekanan dan ketegangan miliaran ton es yang bergeser, perubahan suhu udara dan air, serta efek dari aliran air cair.

Akibatnya, prediksi runtuhnya Gletser Thwaites berkisar dari beberapa dekade hingga berabad-abad.

Studi baru, kata Bassis, merupakan langkah penting untuk menghasilkan prediksi yang akurat dan dapat ditindaklanjuti.

“Penelitian ini menawarkan harapan bahwa kita tidak mendekati kehancuran total, ada langkah- langkah yang dapat mengurangi dan menstabilkan keadaan.

Dan kita masih memiliki kesempatan untuk mengubah banyak hal dengan membuat keputusan tentang hal-hal seperti emisi energi—metana dan CO2,” jelas Bassis.

Anna Crawford, mahasiswa pascasarjana, peneliti lain yang tergabung, mengatakan temuan penelitian ini juga akan berguna untuk memprediksi nasib gletser lain dan formasi es di Kutub Utara dan Antartika.

“Wawasan penting ini akan menginformasikan penelitian masa depan tentang mundurnya Gletser Thwaites dan gletser besar lainnya dari lapisan es Antartika Barat yang rentan untuk mundur melalui kegagalan tebing es dan ketidakstabilan tebing es laut,” katanya. (kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved