Jumat, 1 Mei 2026

Kriminal

Tangani Wabah Ebola, 21 Staf WHO di Kongo Lecehkan Wanita dan Anak-anak

Penelitian independen mengungkap sejumlah wanita dan anak perempuan di Kongo dilecehkan secara seksual oleh pekerja bantuan dari WHO.

Tayang:
Editor: IKL
CELLOU BINANI / AFP
Seorang petugas kesehatan berjalan menuju pasien yang menjalani karantina di pusat perawatan Nongo ebola di Conakry, Guinea pada 21 Agustus 2015. 

"Saya minta maaf atas apa yang dilakukan kepada Anda oleh orang-orang yang dipekerjakan oleh WHO untuk melayani dan melindungi Anda," katanya.

"Ini adalah prioritas utama saya bahwa para pelaku tidak dimaafkan, tetapi dimintai pertanggungjawaban," kata Dr Tedros saat konferensi pers, Selasa (28/9/2021).

Dia mengaku akan bertanggung jawab, berjanji melindungi para korban, serta bersumpah akan merombak struktur dan budaya WHO.

Seorang balita menjalani vaksinasi campak di sebuah pusat di Temba, dekat Seke Banza, DR Kongo barat pada 3 Maret 2020. 73 ribu anak dari usia 6 bulan hingga 15 tahun perlu divaksinasi campak di provinsi Kongo tengah di bagian barat Republik Demokratik Kongo sebagai bagian dari tahap kedua tanggapan terhadap epidemi yang telah menyebabkan ribuan kematian di negara itu pada tahun-tahun terakhirnya, bahkan termasuk orang dewasa.
Seorang balita menjalani vaksinasi campak di sebuah pusat di Temba, dekat Seke Banza, DR Kongo barat pada 3 Maret 2020. 73 ribu anak dari usia 6 bulan hingga 15 tahun perlu divaksinasi campak di provinsi Kongo tengah di bagian barat Republik Demokratik Kongo sebagai bagian dari tahap kedua tanggapan terhadap epidemi yang telah menyebabkan ribuan kematian di negara itu pada tahun-tahun terakhirnya, bahkan termasuk orang dewasa. (JUNIOR KANNAH / AFP)

Komisi independen dalam laporannya menyoroti "kegagalan struktural yang jelas dan ketidaksiapan untuk mengelola risiko insiden eksploitasi dan pelecehan seksual di Kongo".

Para penyelidik menemukan bahwa sebagian besar korban sangat rentan.

Korban kebanyakan adalah perempuan muda yang terjebak dalam situasi ekonomi sulit.

Salah satu terduga korban termuda, Jolianne menceritakan bahwa seorang staf WHO tiba-tiba berhenti dan menawarinya tumpangan pulang.

Itu terjadi saat dirinya tengah menjual kartu telepon di pinggir jalan di kota Mangina pada April 2019.

Seorang petugas kesehatan dari Kementerian Kesehatan Guinea membersihkan kontak yang dicurigai dari lengan pasien Ebola sebelum memberikan vaksin anti-Ebola di Gueckedou, Guinea, pada 23 Februari 2021.
Seorang petugas kesehatan dari Kementerian Kesehatan Guinea membersihkan kontak yang dicurigai dari lengan pasien Ebola sebelum memberikan vaksin anti-Ebola di Gueckedou, Guinea, pada 23 Februari 2021. (CAROL VALADE / AFP)

"Sebaliknya, dia membawanya ke sebuah hotel di mana dia mengatakan dia diperkosa oleh orang ini," kata laporan itu.

Penyakit virus ebola (EVD) atau demam berdarah Ebola (EHF) adalah penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus Ebola.

Lebih dari 2.000 orang tewas dalam wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo.

WHO, yang mempelopori upaya global untuk mengekang penyebaran penyakit ini menyatakannya wabah ini berakhir pada Juni tahun lalu.(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul 21 Staf WHO Lecehkan Wanita dan Anak-anak saat Tangani Wabah Ebola di Kongo

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved