Breaking News:

Tahukah Anda

Matahari Buatan Cina Cetak Rekor Baru, Menyala 17 Menit

Matahari buatan Cina kembali mencatat rekor baru. Dilansir dari CGTN, Jumat (31/12/2021) saat ini matahari artifisial itu diklaim mampu menyala ...

Editor: Muliadi Gani
FOTO:AFP
Personel teknis memeriksa perangkat fusi nuklir HL-2M Cina, yang dikenal sebagai matahari buatan, di laboratorium penelitian di Chengdu, Provinsi Sichuan, Cina, Jumat (4/12/2020). Cina berhasil menyalakan matahari buatan, menandai kemajuan besar dalam kemampuan penelitian tenaga nuklir negara itu. 

PROHABA.CO - Matahari buatan Cina kembali mencatat rekor baru.

Dilansir dari CGTN, Jumat (31/12/2021) saat ini matahari artifisial itu diklaim mampu menyala selama 1.056 detik atau sekitar 17 menit pada suhu plasma tinggi.

Laporan mengenai penyalaan matahari buatan bernama experimental advanced superconducting tokamak (EAST) yang menyala lebih lama pertama kali diwartakan kantor berita Xinhua.

Para peneliti mengumumkan kabar ini pekan lalu dan mengatakan bahwa EAST akan melewati pengujian oleh Institute of Plasma Physics yang berada di bawah naungan Chinese Academy of Sciences (ASIPP).

"Kali ini, operasi plasma bertahan selama 1.056 detik pada suhu mendekati 70 juta derajat Celcius, menaruh padatan ilmiah dan eksperimental ini menuju berjalannya reaktor fusi," ujar peneliti di Institute of Plasma Physics, Gong Xianzu, Jumat (31/12/2021).

EAST adalah reaktor fusi nuklir yang disebut-sebut akan menjadi sumber energi di masa depan.

Matahari buatan ini memanfaatkan medan magnet untuk bisa menghasilkan plasma panas dari fusi nuklir.

Menurut China National Nuclear Corp, matahari buatan yang menggunakan hidrogen dan gas deuterium sebagai bahan bakar itu akan menciptakan fusi nuklir seperti matahari serta menghasilkan energi yang bersih dan stabil.

Baca juga: Matahari Buatan Korsel Pecahkan Rekor Baru Dunia

Baca juga: Matahari Buatan Cina Menyala, Apa Fungsinya?

Berbeda dengan bahan bakar fosil termasuk batu bara, minyak, maupun gas alam yang terancam habis dan mencemari lingkungan, bahan mentah yang dibutuhkan untuk matahari artifisial, atau matahari buatan China ini sangat tak terbatas.

Oleh karena itu, energi fusi dianggap sebagai 'energi pamungkas' yang ideal di masa depan.

Direktur ASIPP, Song Yuntao mengatakan lembaganya telah berkolaborasi dengan peneliti ilmiah internasional untuk mewujudkan matahari buatan menggunakan perangkat besar ini.

Sementara itu, di bulan Mei 2021 lalu EAST juga pernah menyala selama 101 detik pada suhu 120 juta derajat Celsius.

Kemudian, peneliti kembali menguji EAST di bulan Juni 2021, di mana perangkat ini menghasilkan suhu 160 juta derajat Celsius, suhu yang sepuluh kali lebih panas daripada matahari.

Saat ini EAST telah mencapai ketiga target yang telah ditentukan oleh para peneliti, yakni menghasilkan arus sebesar 1 juta ampere dalam durasi 1.000 detik, dan suhu 100 juta derajat Celsius.

Para peneliti menuturkan, misi terakhir matahari buatan dari perangkat EAST yang dikembangkan Cina ini adalah mencapai semua target tersebut dalam sekali percobaan. (Kompas.com)

Baca juga: Pesawat Luar Angkasa NASA Berhasil Menyentuh Matahari

Baca juga: Internet di Seluruh Dunia Terganggu Badai Matahari

Baca juga: Ahli Prediksi Kehidupan Baru Muncul Setelah Matahari Mati

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved