Kamis, 11 Juni 2026

Mengapa Awal Ramadhan 2022 di Indonesia Berbeda?

Kementerian Agama (Kemenag) mengumumkan bahwa 1 Ramadhan 1443 Hijriah di Indonesia berdasarkan ketetapan pemerintah jatuh pada Minggu, 3 April 2022

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
Pexels/Towfiqu barbhuiya
Alasan perbedaan jatuhnya awal bulan Ramadhan dari tahun ke tahun. 

Ketinggian hilal di seluruh Indonesia pada posisi 1 derajat 6,78 menit sampai dengan 2 derajat 10.02 menit berdasarkan hisab.

Dengan begitu, hilal di Indonesia terlalu rendah dan tidak mungkin terlihat, karena masih di bawah 3 derajat.

Mengacu pada MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura), untuk menetapkan 1 Ramadhan 1443 Hijriah, tinggi bulan minimal adalah 3 derajat dengan elongasi minimal 6,4 derajat.

Baca juga: Bulan Ramadhan Ubah Perilaku Konsumen, Penonton TV Naik 7 Kali Lipat

“Artinya, di Indonesia ini hilal terlalu rendah dan tidak mungkin bisa mengalahkan cahaya syafaq sehingga tidak mungkin untuk terlihatnya hilal,” ujar anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriah Kemenag, Thomas Djamaluddin.

Thomas menambahkan, tinggi bulan atau hilal di wilayah Jakarta hanya 1 derajat 42 menit, yang artinya tidak sesuai dengan kriteria penentuan awal Ramadhan, yang mana menjadi penentu awal puasa.

Metode penetapan awal Ramadhan dari PP Muhamadiyah menetapkan awal Ramadhan atau 1 Ramadhan 1443 Hijriah pada 2 April berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Ketetapan itu dikeluarkan dalam maklumat tertanggal 3 Februari 2020 yang ditandatangani oleh Prof Haedar Nashir selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Agung Danarto selaku sekretaris.

“1 Ramadhan 1443 H jatuh pada hari Sabtu Pon, 2 April 2022 Masehi,” demikian tulis maklumat tersebut.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof Syamsul Anwar dalam Muhammadiyah. or.id mengatakan, metode hisab hakiki wujudul hilal digunakan karena sifatnya masih zonal dan belum global.

Artinya, hanya bisa ditetapkan di Indonesia dan tidak masyarakat muslim di tempat-tempat lain.

Prof Syamsul menegaskan, antara Kalender Islam Global dan kalender wujudul hilal pada prinsipnya sama, yaitu pada aspektransfer imkanu rukyat, yang hanya dipakai untuk wilayah Indonesia.

Imkanu rukyat yang terjadi di Kepulauan Riau, berlaku juga untuk daerah Ambon atau daerah lain yang berada di kawasan timur Indonesia.

Baca juga: 7 Tips Berpuasa Agar Tidak Lemas dan Tetap Sehat, Perhatikan Pola Tidur

Diskusi pendekatan hisab danrukyat Peneliti ObservasulitObservatorium Bosscha Bandung, Muhammad Yusuf menjelaskan bahwa perbedaan ketetapan awal Ramadhan itu pasti akan selalu ada, karena memang pendekatannya berbeda.

“Rukyat itu mengonfi rmasi perhitungan, sedangkan hisab itu mengonfi rmasi pengamatan apakah hilalnya sudah terlihat atau tidak,” kata Yusuf dalam Konferensi Pers Daring Observatorium Bosscha FMIPA Institut Teknologi Bandung, Kamis (31/3/2022).

Yusuf menambahkan, kedua metode ini memang harus dilakukan bersamaan atau saling melengkapi data yang ada.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved