Jumat, 24 April 2026

Luar Negeri

Untuk Bisa Menikah, Perempuan Iran Harus Punya Sertifikat Perawan

Di Iran, perawan sebelum menikah adalah status yang penting bagi banyak perempuan dan keluarga mereka. Bahkan, kaum pria terkadang meminta sertifikat

Editor: Muliadi Gani
MEI.EDU
Lembaran pengesahan pernikahan mut'ah di Iran. 

PROHABA.CO, TEHERAN - Di Iran, perawan sebelum menikah adalah status yang penting bagi banyak perempuan dan keluarga mereka.

Bahkan, kaum pria terkadang meminta sertifi kat keperawanan pada calon istrinya.

Praktik ini telah dianggap Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan semakin banyak warga yang menentangnya selama setahun terakhir.

“Kamu tidak perawan. Kamu menipu saya sehingga saya menikahimu.

Tak ada orang yang mau menikahimu jika mereka tahu apa yang sebenarnya.

Ini adalah pernyataan suami Mariam kepadanya setelah mereka berhubungan seks untuk pertama kali.

Namun, Mariam berkeras meyakinkan suaminya bahwa dirinya tidak pernah berhubungan seks dengan lelaki lain, meskipun alat kelaminnya tidak mengeluarkan darah karena selaput dara yang pecah.

Suami Mariam tidak percaya dan meminta Mariam untuk mendapatkan sertifikat keperawanan.

Ini bukan hal yang janggal di Iran. Banyak perempuan mendatangi dokter setelah menikah guna menjalani tes yang membuktikan bahwa mereka tidak pernah berhubungan seks.

Akan tetapi, menurut WHO, tes keperawanan tidak ada landasan ilmiahnya.

Sertifikat yang didapat Mariam menyatakan selaput daranya tergolong “elastis”.

Baca juga: TEGA! Dua Pemuda Abdya Ditangkap Setelah Rudapaksa Gadis Disabilitas, Korban Alami Hal ini 

Itu artinya vaginanya bisa ya.saja tidak berdarah setelah berhubungan seks penetratif.

“Harga diri saya terluka. Saya tidak berbuat salah, tapi suami saya tetap menghina saya.

Saya sudah tidak tahan lagi.

Jadi, saya mengambil beberapa pil dan mencoba bunuh diri,” ungkapnya.

Mariam sempat mencoba bunuh diri, tapi gagal.

Dia dilarikan ke rumah sakit tepat pada waktunya dan berhasil selamat.

“Saya tidak pernah melupakan hari-hari kelam itu.

Berat badan saya menyusut 20 kg pada waktu itu,” kata dia.

Akhiri tes keperawanan Kisah Maryam dialami banyak perempuan lainnya di Iran.

Berstatus perawan sebelum menikah masih amat penting bagi banyak perempuan dan keluarga mereka.

Hal itu berakar pada konservatisme budaya.

Namun, baru-baru ini keadaan mulai berubah.

Baca juga: Menangis saat Ngajak Balikan Aurel Hermansyah, Atta Halilintar: Kalau soal Hati Laki-laki Lembek!

Sejumlah perempuan dan pria di Iran berkampanye untuk mengakhiri tes keperawanan.

November 2021 lalu, sebuah petisi daring menerima hampir 25.000 tanda tangan dalam waktu sebulan.

Inilah pertama kalinya tes keperawanan ditentang secara terbuka oleh sekian banyak orang di Iran.

“Praktik itu adalah pelanggaran privasi dan memalukan,” kata Neda.

Ketika Neda masih pelajar berusia 17 tahun di Teheran, keperawanannya hilang setelah berhubungan seks dengan pacarnya.

“Saya panik. Saya takut apa yang akan terjadi jika keluarga saya tahu,” katanya.

Di tengah kepanikannya, Neda memutuskan untuk memperbaiki selaput daranya.

Prosedur ini secara teknis tidak ilegal, tetapi dampak sosialnya berbahaya sehingga tiada rumah sakit yang setuju melakukannya.

Neda kemudian menemukan sebuah klinik swasta yang bersedia melakukannya secara diam-diam dengan biaya besar.

“Saya menghabiskan semua tabungan saya. Saya menjual laptop, ponsel, dan perhiasan emas saya,” paparnya.

Neda juga harus menandatangani dokumen yang menyatakan dirinya akan memikul tanggung jawab jika ada sesuatu yang salah.

Baca juga: Fuji dan Thariq Fitting Baju, Haji Faisal Bantah untuk Lamaran: Belum Ada Arah Menikah, Karier Dulu.

Seorang bidan melakukan prosedur perbaikan tersebut yang berlangsung sekitar 40 menit.

Namun, Neda perlu waktu berminggu-minggu untuk pulih.

“Saya merasa sangat kesakitan sampai-sampai saya tidak bisa menggerakkan kaki,” kenangnya.

Dia menyembunyikan kondisinya dari orang tuanya.

“Saya merasa sangat kesepian. Namun, kalau saya ingat-ingat, ketakutan bahwa orang tua mengetahui [saya tidak perawan] membuat saya bisa menahan sakit,” ucap Neda.

Semua upaya Neda ternyata sia-sia. Setahun kemudian dia bertemu seorang pria yang hendak menikahinya.

Tapi ketika mereka berhubungan seks, Neda tidak berdarah.

Prosedur perbaikan selaput dara yang dia jalani, gagal.

“Pacar saya menuduh saya mencoba menipu dia agar menikah.

Dia menuduh saya berbohong dan dia meninggalkan saya,” ungkap dia.

Meski WHO mengecam tes keperawanan sebagai sesuatu yang tidak etis dan kurang landasan ilmiah, praktiknya masih berlangsung di sejumlah negara, termasuk di Indonesia, Irak, dan Turki.

Organisasi Medis Iran menekankan bahwa mereka hanya menjalankan tes keperawanan dalam kondisi spesifik seperti kasus pengadilan dan tuduhan pemerkosaan.

Baca juga: Paramitha Rusady Masih Terihat Muda Saat Usianya 55 Tahun, Ingin Umurnya Lebih Berkah

Meski demikian, sebagian besar permintaan sertifikat keperawanan masih berasal dari para pasangan yang berencana menikah.

Para pasangan itu kemudian mendatangi klinik swasta bahkan dalam banyak kasus didampingi ibu mereka.

Dalam proses tersebut, seorang dokter ginekologi atau bidan akan melakukan tes dan merilis sertifikat berisi nama lengkap perempuan, nama ayahnya, nomor induk kependudukan, dan kadang kala disertai foto sang perempuan.

Status selaput daranya akan tertera pada sertifi kat tersebut disertai pernyataan:

Gadis ini tampaknya adalah perawan. Pada keluarga-keluarga yang lebih konservatif, sertifikat akan ditandatangani dua saksi biasanya kedua ibu masing-masing calon mempelai.

Dokter Fariba adalah salah satu dokter yang merilis sertifikat keperawanan selama bertahun-tahun.

Dia mengakui tes keperawanan adalah praktik yang memalukan bagi perempuan, tetapi dia meyakini bahwa sejatinya dia membantu banyak perempuan.

“Mereka berada dalam tekanan berat dari keluarga. Kadang kala saya berbohong secara verbal demi pasangan.

Jika mereka telah tidur bersama dan ingin menikah, saya akan mengatakan di depan keluarga mereka bahwa perempuan ini adalah perawan,” jelas dr Fariba.

Praktik tes keperawanan tetap berlangsung karena, bagi banyak pria, menikahi seorang perawan adalah sesuatu yang fundamental.

“Jika seorang perempuan kehilangan keperawanannya sebelum menikah, dia tidak bisa dipercaya.

Dia mungkin meninggalkan suaminya demi pria lain,” kata Ali, seorang teknisi listrik berusia 34 tahun dari Shiraz.

Namun, dia mengaku telah berhubungan seks dengan sepuluh perempuan.

“Saya tidak tahan,” ucapnya. Ali menerima ada standar ganda di masyarakat Iran, tetapi dia bersikukuh bahwa tiada alasan tradisi diakhiri.

“Norma-norma sosial menerima bahwa pria punya lebih banyak kebebasan dibandingkan perempuan,” ucap dia.

Pandangan Ali serupa dengan banyak orang, khususnya di wilayahwilayah pedesaan yang konservatif di Iran.

Meski rangkaian demonstrasi semakin banyak menentang tes keperawanan, tapi karena pandangan tes keperawanan sangat mengakar dalam budaya Iran, banyak pihak percaya diakhirinya tes keperawanan oleh pemerintah dan parlemen bakal sulit segera berlangsung.

(BBC News Indonesia/Kompas.com)

Baca juga: Minta Nafkah Sule Rp25 Juta, Nathalie Holscher Sebut Harga Sabun, Baju dan Susu Alergi Adzam Jutaan.

Baca juga: Empat Warga Diamankan di Polair Setelah Dipergoki Tangkap Ikan Menggunakan Setrum

Baca juga: Resep Tahu Bakso Goreng Petis, Camilan Enak dan Praktis

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved