Selasa, 12 Mei 2026

Tahukah Anda

Hilangnya Serangga Sebabkan 1/3 Tanaman Pangan Terancam

Pasokan makanan kita terancam mengalami penurunan lantaran hilangnya serangga. Ahli mengungkapkan bahwa 1/3 (sepertiga) tanaman pangan terancam ...

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
FOTO: SHUTTERSTOCK
Ilustrasi tanaman pangan dan serangga. Keberlangsungan tanaman pangan di dunia terancam karena hilangnya serangga. Faktanya kini, populasi serangga terus menurun. 

PROHABA.CO - Pasokan makanan kita terancam mengalami penurunan lantaran hilangnya serangga.

Ahli mengungkapkan bahwa 1/3 (sepertiga) tanaman pangan terancam karena penurunan populasi serangga.

Seperti yang diketahui populasi serangga secara global dilaporkan terus menurun.

Salah satunya terjadi pada lebah.

Data dari Auburn University mengungkapkan sepanjang April 2020 hingga April 2021, peternak lebah di Amerika Serikat kehilangan sekitar 45 persen koloni mereka.

International Union for Conservation of Nature juga menambahkan bahwa kupu-kupu Monarch, salah satu serangga paling populer dan dikenal di dunia resmi masuk ke dalam daftar merah spesies yang terancam punah.

Lalu apa hubungan tanaman pangan terancam karena hilangnya serangga dengan makanan yang selama ini kita konsumsi?

Baca juga: Populasi Serangga Berkurang, Apa Dampaknya bagi Manusia?

Serangga merupakan hewan penyerbuk. Artinya tanpa bantuan mereka buah-buahan, sayuran, serta tanaman lain, termasuk tanaman pangan tak akan diserbuki dan bereproduksi.

Bahan makanan yang biasa kita konsumsi jumlahnya pun bakal terancam menurun akibat hilangnya serangga yang penting bagi tanaman pangan.

"Satu dari setiap tiga makanan yang kita makan terhubung langsung dengan penyerbuk," kata Ron Magill, Direktur Komunikasi dan Pakar Satwa Liar di Zoo Miami.

Seperti dikutip dari CNN, Senin (15/8/2022) apel, melon, cranberry, labu, brokoli, dan almond adalah beberapa makanan yang paling rentan terhadap penurunan serangga penyerbuk.

Namun, semuanya sangat terkait dan efek domino bisa saja terjadi.

Misalnya, jika Anda makan ayam goreng.

Ayam yang menjadi bahan utama itu makan buah, sayuran, dan tanaman lain yang bergantung pada hewan penyerbuk. Efek domino bisa saja terjadi.

Baca juga: Krisis Iklim Makin Mengkhawatirkan, Kenali 6 Penyebab Pemanasan Global

Krisis iklim yang menyebabkan kekeringan lebih intens dan berkepanjangan telah merugikan penyerbuk pula.

Suhu yang lebih hangat juga menyebabkan tanaman pangan mekar lebih cepat dan tak sinkron dengan metamorfosis serangga.

Hal tersebut pada gilirannya akan sangat memengaruhi kemampuan para serangga untuk bereproduksi dan bertahan hidup.

"Laporan PBB tahun 2019 menemukan satu juta spesies berada dalam risiko kepunahan dalam beberapa dekade mendatang seiring dengan percepatan krisis iklim.

Kita mulai melihat hal itu terjadi pada populasi serangga.

Dan itu bencana," papar Magill.

Selain serangga, kelelawar pun juga memainkan peran tak tergantikan dalam ketahanan pangan.

Kelelawar bukan hanya penyerbuk vital, mereka juga dianggap sebagai pemakan hama dan juga penyebar benih utama dan penting bagi ekosistem kita.

Baca juga:  Sepertiga Populasi Ikan Air Tawar Dunia Terancam Punah

"Benih dari buah yang mereka makan berkecambah setelah melalui sistem pencernaan dan kemudian terdistribusikan di seluruh jangkauan wilayah mereka," kata Magill.

Sayangnya, kelelawar pun juga tak luput dari pengaruh krisis iklim seperti halnya kupu-kupu dan lebah.

"Ada banyak kelelawar yang mati akibat kenaikan suhu karena mereka rentan terhadap panas," kata Magill.

Ini tentu merupakan permasalah global yang harus ditanggulangi dalam skala global.

Namun, masih ada cara yang bisa dilakukan oleh masing-masing individu.

Magill berpendapat itu bisa dilakukan, misalnya saja dengan menanam tanaman ramah penyerbuk yang penting bagi kelangsungan hewan-hewan penyerbuk ini.

"Ketika Anda menanam tanaman ramah penyerbuk, Anda menyediakan makanan bagi satwa liar yang membutuhkan itu untuk bertahan hidup," ungkap Magill.

Ia juga menyarankan untuk mengurangi penggunaan pestisida dan bahan kimia di sekitar rumah.

Alternatif yang baik, termasuk menggunakan produk kompos organik untuk kesehatan tanah. (Kompas.com)

Baca juga: Efek Perubahan Iklim, Satwa Liar Jepang Lebih Ganas Serang Warga

Baca juga: Krisis Iklim Makin Mengkhawatirkan, Kenali 6 Penyebab Pemanasan Global

Baca juga: Perubahan Iklim Berpotensi Sebabkan Pandemi Berikutnya

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved