Tahukah Anda
Mengapa Cuma Nyamuk Betina yang Mengisap Darah Manusia?
Namun, ternyata hanya nyamuk betina saja yang mampu menggigit manusia dan hewan untuk mengambil darahnya. Hal itu diungkapkan dalam studi ...
Sebab, proses mengisap darah merupakan fase transfer virus ke manusia.
Baca juga: Cara-cara Ini Dapat Mengusir Kecoak dari dalam Rumah Anda, Praktis, Cepat, dan Mudah
Cara nyamuk kenali darah Menurut studi lainnya yang dipublikasikan jurnal Neuron tahun 2020, nyamuk Aedes aegypti betina harus akurat dalam membedakan darah dan nektar.
Tim peneliti dari The Rockefeller University, New York, mengungkap kemampuan nyamuk untuk mengenali darah sudah menjadi bawaan sejak lahir.
Maka, untuk melihat keistimewaan darah di mata nyamuk, peneliti menggunakan nyamuk betina yang dimodifikasi secara genetik.
Tujuannya adalah mengamati kelompok neuron atau sel saraf mana yang menyala, ketika mereka mencicipi darah.
Saat sel saraf tertentu aktif, tanda fluoresen pada serangga yang dimodifikasi secara genetik bersinar.
Selama penelitian, nyamuk diberikan campuran empat senyawa yang dikembangkan secara khusus untuk meniru rasa darah.
Campuran tersebut mengandung glukosa, natrium klorida, natrium bikarbonat, dan adenosin trifosfat (ATP), yakni senyawa yang menyediakan energi untuk sel.
Baca juga: Anjing Laut Bantu Peneliti Jepang Kumpul Data di Bawah Es Antartika
Hasilnya menunjukkan, meskipun nyamuk menyukai darah sintetis ini, mereka tidak tertarik pada campuran gula dan larutan garam.
Studi itu juga membuktikan bahwa glukosa yang ditemukan dalam nektar dan darah, tidak secara konsisten mengaktifkan sel saraf tertentu.
Akan tetapi, natrium klorida, natrium bikarbonat, dan ATP masing-masing mengaktifkan kelompok saraf spesifik Aedes aegypti, nyamuk penyebar demam berdarah, zika, demam kuning, serta virus chikungunya.
Para peneliti turut menemukan satu kelompok neuron yang hanya diaktifkan oleh darah, termasuk darah asli dan darah sintetis yang disiapkan.
“Perbedaan antara darah dan nektar karena itu dikodekan dalam neuron khusus pada tingkat pertama deteksi sensorik pada nyamuk,” kata peneliti dalam studi dilansir dari India Today, 16 Oktober 2020.
Mereka pun meyakini, studi ini akan membuka jalan untuk pengembangan obat agar dapat menutupi senyawa dalam darah yang dapat menarik bagi nyamuk.
“Jika nyamuk tidak dapat mendeteksi rasa darah, maka secara teori mereka tidak dapat menularkan penyakit,” papar Veronica Jove, salah satu peneliti utama dalam studi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Nyamuk-anopheles-pembawa-parasit-Plasmodium-sp-yang-menyebabkan-penyakit-malaria.jpg)