Berita Simeulue
Dokter RSUD Simeulue Mogok, Puluhan Pasien Terkatung-katung
Mogoknya para dokter membuat pelayanan di rumah sakit itu lumpuh sehingga warga yang hendak berobat di sejumlah poli maupun puluhan pasien di ruang
PROHABA.CO, SINABANG - Para dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Simeulue melakukan mogok kerja.
Hal itu dipicu oleh besaran tunjangan kinerja (tukin) yang mereka terima tidak sesuai lagi dengan tahun-tahun sebelumnya.
Mogoknya para dokter membuat pelayanan di rumah sakit itu lumpuh sehingga warga yang hendak berobat di sejumlah poli maupun puluhan pasien di ruang rawat inap rumah sakit itu jadi terkatung-katung.
Karena “penghentian” pelayanan tidak diumumkan, masyarakat sempat menunggu lama untuk berobat.
Namun, karena pelayanan tak kunjung ada, pasien akhirnya pulang dengan perasaan kecewa dan penasaran.
Anggota Komisi D DPRK Simeulue, Ihya Ulumuddin, yang mengetahui hal itu, langsung datang ke rumah sakit dan menemukan memang tak ada pelayanan di ruang poliklinik.
Baca juga: Kejati Tetapkan Tersangka SPPD Fiktif DPRK Simeulue, Ada 6 dan Satu di Antaranya Mantan Ketua
Ihya menyayangkan kejadian itu.
"Terkait masalah ini, Pemkab Simeulue harus bertanggung jawab.
Soal keluhan dokter juga harus segera dicari solusinya.
Semua pihak terkait harus duduk mencari jalan keluar sehingga kejadian ini tidak berdampak Panjang bagi masyarakat yang ingin berobat," jelasnya, Jumat (23/9/2022).
Sementara itu, Direktur RSUD Simeulue, drg Farhan, yang dikonfirmasi wartawan membenarkan adanya mogok pelayanan di bagian poli rumah sakit tersebut sejak Kamis (22/9/2022).
Pihaknya, kata Farhan, sudah berupaya untuk mencari jalan keluar agar tunjangan kinerja (tukin) para dokter di rumah sakit itu tidak dikurangi dari sebelumnya.
Menurut Farhan, tahun-tahun sebelumnya tukin diterima Rp20 juta.
Baca juga: Harga Emas Spot ke Level Terendah 2,5 Tahun Ini karena Kenaikan Suku Bunga The Fed
Baca juga: Suami Tega Bunuh Istri Berprofesi ASN di Simeulue, Motifnya, Korban Selingkuh dan Nikah Siri
Sekarang, nilainya bervariasi, ada yang Rp16 juta, Rp9 juta, Rp6 juta, bahkan ada yang hanya Rp1 jutaan.
Hal itulah, sambung Farhan, yang memicu para dokter melakukan protes dengan cara mogok kerja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Anggota-DPRK-Simeulue-meninjau-warga-yang-hendak-berobat-di-pelayanan-poli-RSUD-Simeulue.jpg)