Rabu, 6 Mei 2026

Tahukah Anda

Seperti Tsunami Aceh, Gempa Turkiye pun Diwarnai Teori Konspirasi

Teori konspirasi mencuat di tengah duka akibat musibah gempa bumi di Turkiye dan Suriah, seperti halnya saat gempa dan tsunami meluluhlantakkan Aceh

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
Satu-satunya rumah yang tersisa di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh setelah tsunami 26 Desember 2004 itu. Jelang dewasa, kawasan ini adalah rumah keduaku. Terlalu banyak kenangan di sini. Tempat belajar, bermain, tertawa, dan ...I Love You, Lambung. Foto ini saya rekam, Rabu (14 hari setelah tsunami) Pukul 16:58 Wib, dari depan lorong Merpati itu. 

Para ahli pun menyatakan bahwa kilatan cahaya jamak terlihat selama gempa bumi terjadi.

Beragam teori muncul atas fenomena kilatan cahaya selama genpa.

Dalam beberapa kasus, kilatan cahaya itu bersumber dari jaringan listrik atau pembangkit listrik yang terguncang gempa. 

HAARP adalah fasilitas yang dijalankan oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat, sebelum pada 2015 diserahkan ke University of Alaska Fairbanks.

Michael Lockwood, profesor fisika lingkungan luar angkasa di University of Reading, menduga tudingan HAARP berada di balik gempa Turkiye dan Suriah serta digunakan sebagai senjata berasal dari penggunaan gelombang radio untuk komunikasi dengan kapal selam, praktik yang sudah usang selepas perang dingin usai.

Baca juga: Ini Sebabnya Mengapa Gempa Turkiye Begitu Kuat dan Tergolong Langka?

Lockwood mengaku sudah pernah mendengar tudingan penggunaan HAARP untuk pengendalian pikiran massal. Namun, ujar dia, belum pernah sebelumnya dia mendengar HAARP bisa menghasilkan gempa bumi. 

Sejumlah postingan di media sosial menuduh HAARP dipakai untuk merekayasa badai dan gelombang panas.

Dari situ, perubahan iklim disebut dapat terjadi sehingga otoritas dapat membatasi aktivitas masyarakat, bahkan mengurangi populasi.

Rujukan yang dipakai untuk tudingan itu adalah paten perangkat yang dirancang untuk memanaskan ionosfer bagi tujuan pertahanan.

Diajukan pada 1985 di tengah puncak Perang Dingin, dokumen itu mengeklaim bahwa teknologinya dapat digunakan untuk penghancuran rudal atau pesawat sekaligus modifikasi cuaca.

Namun, paten itu sudah kadaluwarsa dan tak ada bukti sejauh ini bahwa ada pengembangan teknologi tersebut. 

Sementara itu, pemancar HAAP mengirim gelombang radio sejauh 80-500 kilometer di atas permukaan bumi, disebut berlebihan bagi sinyal semacam itu memengaruhi cuaca atau iklim. 

"Gagasan bahwa teknologi ini entah bagaimana dapat menyebabkan peristiwa ekstrem (seperti gempa Turkiye dan Suriah) tidak masuk akal," kata Ella Gilbert, ahli meteorologi di Survei Antartika Inggris, kepada AFP.

Menurut Gilbert, secara teknis sangat sulit untuk memengaruhi sistem yang begitu besar, kompleks, dan semrawut seperti cuaca. 

HAARP juga dituding dapat mengganggu komunikasi dan listrik, bahkan membahayakan keselamatan manusia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved