Tahukah Anda
Seperti Tsunami Aceh, Gempa Turkiye pun Diwarnai Teori Konspirasi
Teori konspirasi mencuat di tengah duka akibat musibah gempa bumi di Turkiye dan Suriah, seperti halnya saat gempa dan tsunami meluluhlantakkan Aceh
Namun, David Hysell, profesor ilmu bumi dan atmosfer di Universitas Cornell, mengatakan bahwa HAARP tidak lebih berbahaya daripada pembangkit listrik atau stasiun radio pada umumnya.
Baca juga: Kisah Gempa Turkiye, Ayah Pegang Tangan Putrinya yang Tewas, Enggan Dilepas Meski Cuaca Dingin
Justru, para peneliti mengidentifikasi ada kesamaan di antara tudingan atas HAARP dan teori konspirasi tentang telekomunikasi 5G yang muncul selama pandemi Covid-19.
Jutaan orang melihat postingan Facebook yang mengeklaim ada pesawat dari HAARP memancarkan radiasi 5G yang membawa virus corona.
Unggahan tersebut menunjukkan foto benda terbang meninggalkan contrails. Sebuah analisis oleh AFP Fact Check menunjukkan bahwa foto tersebut adalah montase.
"Saya tidak tahu dari mana teori konspirasi seputar HAARP berasal," kata Hysell.
Hysell justru menduga ada upaya mengacaukan tujuan penelitian HAARP yang adalah mempelajarai bahaya yang terjadi secara alami di luar angkasa dengan pengoperasian fasilitas tersebut.
Teori konspirasi tsunami Aceh
Seperti halnya gempa Turkiye dan Suriah, peristiwa gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 juga diterpa teori konspirasi.
Bedanya, musibah yang menewaskan lebih dari 270.000 orang di Aceh saja ini disebut dipicu oleh ledakan nuklir milik Amerika Serikat.
Gempa 9,3 skala Richter yang memicu tsunami disebut sebagai kelanjutan "Project Manhattan" yang terbengkalai dan dinamai "Project Seal".
Ledakan nuklir disebut menggunakan 26 megaton TNT yang memicu tsunami setinggi 33 meter di pantai barat Aceh.
Dalam teori konspirasi tentang gempa dan tsunami Aceh, argumentasi yang dipakai adalah perbedaan antara gempa alami dan buatan.
Dalam gempa alami harus ada dua gelombang getaran besar, yaitu P-wave (primary wave atau gelombang utama) dan S-wave (secondary wave, shear wave, atau gelombang susulan).
Baca juga: Warga Lamteumen Timur Gelar Zikir dan Doa Bersama pada Peringatan 18 Tahun Tsunami Aceh
Gempa Aceh disebut hanya mengirimkan P-wave tanpa diikuti S-wave, sehingga dituding sebagai hasil ledakan bawah laut.
Oleh teori itu, gempa Aceh pun disebut terjadi terlalu tiba-tiba.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Satu-satunya-rumah-yang-tersisa-di-Desa-Lambung-saat-tsunami-Aceh-26-Desember-2004-itu.jpg)