Minggu, 12 April 2026

Luar Negeri

Tari Ratoh Jaroe dan Goyang Maumere Bikin Warga Namibia Ikut Berjoget

Penari sanggar OYO pun menyampaikanketertarikan mereka untuk mempelajari tarian Indonesia lainnya yang bercorak dinamis, seperti ratoh jaroe dari Aceh

Penulis: Redaksi | Editor: Muliadi Gani
Dok. Humas KBRI Windhoek
Kepala Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Windhoek Ari Hadiman mengatakan, kepiawaian para penari bergerak mengikuti irama musik tradisional Aceh merupakan hasil pelatihan intensif oleh KBRI. 

PROHABA.CO, WINDHOEK – Tiga tari tradisional Indonesia berhasil membuat warga Namibia turut larut dan ikut berjoget saat dimainkan dalam gelaran seni yang diinisiasi Ombetja Yehinga Organisation (OYO) di Pusat Kebudayaan Prancis di Namibia (FNCC), Windhoek, Jumat (14/4/2023).

Adapun tiga tari yang dipamerkan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Windhoek dalam acara Dancea-thon, yakni Ratoh Jaroe (tarian berasal dari Aceh), Pendet (tarian Jawa), dan Goyang Maumere (asal Papua).

Dancea-thon sendiri merupakan salah satu rangkaian acara perayaan ulang tahun ke-20 OYO.

Pada kesempatan itu, istri Duta Besar RI untuk Namibia, YM Wisnu Edi Pratignyo, Nyonya Anti Pratignyo, menjelaskan makna tari pendet dan ikut memeragakan beberapa gerakan dasarnya.

Kemudian, empat anak perempuan staf KBRI Windhoek pun tampil gemulai membawakan tari pendet.

Setelah penampilan tari pendet disusul oleh tari ratoh jaroe asal Aceh.

Baca juga: Jenis-jenis Tarian Saman, Simak Ulasan Berikut.

Warga Namibia pun menyambut meriah saat menyaksikan tarian tradisional Indonesia itu.

Keharmonisan gerakan tari ratoh jaroe dibawakan dengan apik oleh tujuh penari yang merupakan warga lokal asal Kota Windhoek, Namibia.

Kepala Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Windhoek, Ari Hadiman mengatakan, kepiawaian para penari bergerak mengikuti irama musik tradisional Aceh merupakan hasil pelatihan intensif oleh KBRI.

“Latihan dilakukan selama satu bulan oleh anggota staf KBRI dan Anggota Darma Wanita Persatuan KBRI Windhoek,” ujar Ari dalam keterangan resmi yang diterima Kompas. com, Kamis (27/4/2023).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Sanggar Seni OYO Phillipe Talavera mengapresiasi partisipasi KBRI dalam Dancea- thon.

“Kami berterima kasih atas dukungan KBRI dalam pertunjukan yang kami gelar.

Baca juga: Gempa 7,8 Magnitudo Guncang Turki, KBRI Ankara: Apartemen WNI Alami Rusak Parah

Baca juga: Seorang Laki-laki Ditemukan Tewas Tegantung di Kantin Belakang Kantor DSI Aceh Timur

Tarian tradisional Indonesia sangat menarik dengan pakaian tari tradisional yang berwarna-warni,” kata Filipe.

Penari sanggar OYO pun menyampaikan ketertarikan mereka untuk mempelajari tarian Indonesia lainnya yang bercorak dinamis, seperti ratoh jaroe dari Aceh.

Ari Hadiman mengatakan, kepiawaian para penari bergerak mengikuti irama musik tradisional Aceh merupakan hasil pelatihan intensif oleh KBRI.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved