Senin, 1 Juni 2026

Tahukah Anda

Bagaimana Cara Sel-Sel Otak Mengirim Pesan, Berikut Penjelasannya

Dalam sepersekian detik, otak kita dapat memunculkan pikiran, merasakan sensasi, dan merespons segala yang kita lihat. Semburan aktivitas otak

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
PEXELS/MEO
ilustrasi otak manusia, berpikir 

Jika cukup banyak reseptor yang diaktifkan, neuron penerima dapat menghasilkan potensial aksinya sendiri dan meneruskan pesan ke neuron lain dalam jaringan.

Karena hanya sel-sel yang terhubung melalui sinaps yang dapat berkomunikasi melalui neurotransmiter, pesan yang dikirim dapat dianggap sebagai “pesan rahasia” yang hanya dapat dideteksi oleh kedua neuron tersebut dan bukan oleh neuron di sekitarnya.

Namun, Mike Ludwig, profesor neurofisiologi di Edinburgh University, Inggris, mengatakan bahwa neuron juga dapat menyiarkan “pesan publik”.

Neuron melakukan ini dengan melepaskan fragmen protein kecil, yang disebut neuropeptida, melalui membran selnya.

Potensi aksi memicu pelepasan neuropeptida, tetapi alih-alih melintasi nanometer ke neuron berikutnya seperti yang dilakukan neurotransmiter, neuropeptida justru menempuh perjalanan jauh mengelilingi otak.

Mengambang di sekitar cairan yang mengelilingi otak, neuropeptida akhirnya berikatan dengan reseptor di daerah otak yang jauh.

Jenis komunikasi ini jauh lebih lambat dibandingkan sinyal sinaptik, tetapi memiliki efek yang luas.

Ludwig menjalaskan, hal yang penting bukanlah molekul pemberi sinyal itu sendiri, melainkan distribusi reseptornya.

Baca juga: Apa Saja Hal yang Bisa Dilakukan Tiap Malam untuk Menjaga Kesehatan Otak?

Dalam penelitian pada hewan, ketika para ilmuwan mengubah lokasi dan kepadatan reseptor tertentu, hal itu mengubah perilaku hewan.

Hal ini menunjukkan bahwa pikiran dan tindakan tidak hanya bergantung pada sel-sel saraf yang terhubung langsung, tetapi juga pada sensitivitas sel-sel otak yang berbeda terhadap neuropeptida yang memiliki jangkauan luas.

Misalnya, neuropeptida oksitosin, yang disebut hormon sosial, dilepaskan di otak tikus padang rumput (Microtus ochrogaster) ketika mereka kawin dan memfasilitasi pembentukan ikatan monogami.

Ketika peneliti memblokade reseptornya, hewan tersebut kurang tertarik untuk berpasangan.

Dan jika reseptornya diekspresikan secara berlebihan, yang berarti jumlahnya sangat tinggi, hewan betina akan lebih bersemangat untuk menetap dengan pasangan pilihannya.

Oksitosin juga tampaknya mendorong hubungan romantis dan kekeluargaan pada manusia. Ibu dengan kadar hormon oksitosin yang lebih tinggi menunjukkan keterikatan yang lebih kuat dengan bayinya dibandingkan ibu dengan kadar hormon yang lebih rendah.

Demikian pula, neuropeptida lain, hormon perangsang alfa-melanosit (alpha-MSH), tampaknya menekan nafsu makan dan merangsang hasrat seksual baik pada hewan laboratorium maupun manusia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved