Selasa, 19 Mei 2026

Gempa Afghanistan

Korban Tewas Gempa di Afghanistan Lebih dari 2.000 Orang

Gempa di Afghanistan berkekuatan 6,3 skala Richter, dengan menewaskan lebih dari 2.000 orang meninggal dunia dan lebih dari 9.000 orang terluka.

Tayang:
Penulis: Dedek Sumarnim | Editor: Jamaluddin
AFP/MOHSEN KARIMI
Korban gempa Afghanistan menyingkirkan puing-puing dari rumah yang rusak di desa Sarbuland, Distrik Zendeh Jan, Provinsi Herat, Sabtu (7/10/2023). 

Gempa tersebut merupakan salah satu gempa paling mematikan di dunia dalam satu tahun setelah gempa di Turki dan Suriah menewaskan sekitar 50.000 orang pada Februari 2023 lalu.

PROHABA.CO, AFGHANISTAN – Gempa di Afghanistan berkekuatan 6,3 skala Richter, sudah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan lebih dari 9.000 orang terluka.

Dikutip dari CNBC, Survei Geologi AS (USGS) pada Minggu (8/10/2023) mengatakan, "Gempa terjadi pada Sabtu (7/10/2023), di bagian barat itu terjadi 35 Km (20 mil) barat laut Kota Herat, dengan salah satu gempa berkekuatan 6,3 skala Richter."

Gempa ini merupakan gempa paling mematikan yang mengguncang negara pengunungan dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintahan Taliban pada Minggu (8/10/2023), menyebutkan, lebih dari 2.000 orang tewas dan lebih dari 9.000 orang terluka akibat gempa bumi di Afghanistan.

Gempa tersebut merupakan salah satu gempa paling mematikan di dunia dalam satu tahun setelah gempa di Turki dan Suriah menewaskan sekitar 50.000 orang pada Februari 2023 lalu.

Dikutip dari situs monitorindonesia.com, Juru Bicara Kementerian Bencana Afghanistan, Janan Sayeeq, mengatakan, 2.053 orang meninggal dunia, 9.240 orang luka-luka ,dan 1.320 rumah rusak atau hancur.

Jumlah korban meninggal dunia bertambah dari 500 yang dilaporkan sebelumnya pada Minggu oleh Bulan Sabit Merah.

“Sepuluh tim penyelamat berada di daerah yang berbatasan dengan Iran,” kata Sayeeq dalam konferensi pers.

Baca juga: Hamas Serang Israel, Ini Alasan Kelompok Militan Islam Palestina

Pejabat Departemen Kesehatan Herat, Dr Danish, mengatakan, lebih dari 200 orang meninggal dunia sudah dibawa ke berbagai rumah sakit dan menambahkan sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak.

“Jenazah dibawa ke beberapa tempat, pangkalan militer, rumah sakit,” ujarnya.

Menurut foto yang beredar di media sosial, tempat tidur disiapkan di luar rumah sakit utama di Herat untuk menerima banyak korban.

Kepala Kantor Politik Taliban di Qatar, Suhail Shaheen, dalam pesannya kepada media mengatakan, makanan, air minum, obat-obatan, pakaian, dan tenda sangat dibutuhkan untuk penyelamatan dan bantuan.

Menara abad pertengahan Herat mengalami beberapa kerusakan seperti yang ditunjukkan dalam foto-foto di media sosial, dengan retakan terlihat dan ubin berjatuhan.

Dikelilingi pegunungan, Afghanistan memiliki sejarah gempa bumi yang kuat.

Sebagian besar terjadi di wilayah terjal Hindu Kush yang berbatasan dengan Pakistan.

Jumlah korban meninggal dunia sering kali meningkat ketika informasi datang dari daerah-daerah terpencil di sebuah negara yang dilanda perang selama beberapa dekade yang menyebabkan infrastruktur berantakan, dan operasi pertolongan dan penyelamatan sulit diorganisir.

Sistem layanan kesehatan Afghanistan, yang hampir seluruhnya bergantung pada bantuan asing, mengalami pemotongan yang sangat besar dalam dua tahun sejak Taliban mengambil alih kekuasaan dan banyak bantuan internasional yang menjadi tulang punggung perekonomian, dihentikan.

Baca juga: Penyanyi ‘Rayuan Perempuan Gila’ Alami Pelecehan, Nadin Amizah: Semoga Lu Cepat Mati

Para diplomat dan pejabat bantuan mengatakan kekhawatiran atas pembatasan Taliban terhadap perempuan dan krisis kemanusiaan global yang terjadi menyebabkan para donor menarik kembali bantuan keuangannya.

Pemerintah Islam sudah memerintahkan sebagian besar staf bantuan perempuan Afghanistan untuk tidak bekerja, meskipun dengan pengecualian di bidang kesehatan dan pendidikan.

Pada Agustus 2023 lalu, Juru Bicara Komite Palang Merah Internasional mengatakan, kemungkinan besar mereka akan mengakhiri dukungan keuangan untuk 25 rumah sakit di Afghanistan karena keterbatasan pendanaan.

Belum jelas apakah Rumah Sakit Herat ada dalam daftar tersebut atau tidak. (Penulis adalah mahasiswa internship dari Universitas Teuku Umar Meulaboh Aceh Barat)

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved