Jumat, 8 Mei 2026

Palestina vs Israel

Ekonomi Tepi Barat Lumpuh akibat Konflik Hamas-Israel

PBB menyebutkan bahwa pada tahun 2019 pendudukan Israel telah menyebabkan kerugian Palestina sebesar 47,7 miliar dolar AS.

Tayang:
Penulis: Luthfi Alfizra | Editor: Jamaluddin
AFP/Mahmud Hams
Seorang perwira Palestina melakukan penjagaan di Pasar al-Zawiya menjelang bulan suci Ramadhan di Kota Gaza pada 20 April 2020 lalu. 

Melansir Aljazeera, PBB menyebutkan bahwa pada tahun 2019 pendudukan Israel sudah menyebabkan kerugian Palestina sebesar 47,7 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dalam pendapatan fiskal antara tahun 2000 dan 2017.

Tapi, sejak 7 Oktober 2023 lalu, keadaan semakin memburuk.

“Kami biasa mengimpor produk senilai hampir 2 miliar dolar AS melalui pelabuhan Ashdod di Israel,” kata Rashad Yousef, Kepala Kebijakan dan Perencanaan Kementerian Ekonomi Nasional Otoritas Palestina (PA) kepada Aljazeera.

Selain itu, sebagian besar dari 200.000 pekerja Palestina di Israel dan di pemukiman ilegal Israel di Tepi Barat, kini menganggur.

“Kami biasanya menghasilkan 1,2 miliar dolar AS dari gaji pekerja di Israel dan pemukiman, yang akan membantu perekonomian.

Angka tersebut menurun drastis--hanya sekitar 5 persen dari pekerja yang akan bekerja,” kata Yousef.

Yousef menambahkan, sebelum dimulainya perang, Otoritas Palestina memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Tepi Barat akan meningkat 3 persen pada tahun 2023.

Tapi, kini mereka memperkirakan PDB akan turun sebesar jumlah tersebut.

“Pabrik terpaksa menurunkan kapasitas produksinya karena tidak dapat mengangkut produknya ke wilayah lain di Tepi Barat.

Kami juga menghadapi banyak kesulitan dalam mengimpor dan mengekspor melalui perbatasan dengan Yordania,” tambahnya.

Otoritas Palestina prihatin dengan rendahnya pasokan bahan-bahan pokok seperti minyak sayur, beras, tepung, dan gula.

“Jelas bahwa perang di Gaza dan penutupan Tepi Barat yang semakin intensif akan berdampak negatif terhadap perekonomian Palestina dalam jangka waktu yang panjang,” jelas Yousef.

“Dampaknya akan terus terasa dalam beberapa bulan ke depan, dan kami memperkirakan harga akan naik,” tambah dia.

Namun, para sopir, buruh, dan pemilik toko di Tepi Barat mengatakan bahwa apa yang mereka alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan situasi yang dialami warga Palestina di Jalur Gaza yang terkepung.

Sekembalinya ke Terminal Bus Ramallah, Taleb, seorang sopir mengatakan bahwa meski ia mengkhawatirkan masa depan Tepi Barat, situasinya masih dapat ditanggung.

“Lihatlah orang-orang di Gaza, setidaknya kita masih punya makanan dan air.

Anak-anak kami masih aman, hidup, dan bermain-main di sekitar kami,” ungkapnya. (Penulis adalah mahasiswa internship dari Universitas Teuku Umar, Meulaboh)

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved