Kesehatan
Mengenal Hipotensi dan Hipertensi, Ini Perbedaannya
Hipotensi dan hipertensi adalah dua jenis kondisi fisik yang bekaitan dengan tekanan darah, tetapi keduanya memiliki arti dan implikasi yang berbeda.
Penulis: Safira Aznura Yunda | Editor: Muliadi Gani
Gaya hidup tidak sehat: diet tinggi garam, kurangnya aktifitas fisik, kelebihan berat badan, hingga merokok bisa menjadi penyebab Hipertensi.
PROHABA.CO - Hipotensi dan hipertensi adalah dua jenis kondisi fisik yang bekaitan dengan tekanan darah, tetapi keduanya memiliki arti dan implikasi yang berbeda.
Hipotensi
Hipotensi adalah kondisi dimana tekanan darah seseorang lebih rendah dibandingkan tekanan darah normal.
Hipotensi sering kali dianggap sebagai tekanan darah yang kurang dari 90/60 mmHg.
Penyebab
Dehidrasi : kurangnya cairan dalam tubuh dapat berpengaruh besar menyebabkan hipotensi.
Kehilangan darah: cedera, pendarahan, hingga donor (donasi) darah yang terlalu berlebihan.
Efek samping obat: beberapa obat dapat menyebabkan hipotensi sebagai efek samping.
Infeksi: infeksi berat dapat menyebabkan perubahan tekanan darah.
Gangguan jantung: beberapa masalah jantung juga dapat mempengaruhi tekanan darah.
Baca juga: Lima Kebiasaan Makan yang Lemahkan Sistem Imun Tubuh
Gejala
Pusing atau pingsan.
Pucat.
Kelelahan, higga lemas.
Kedinginan.
Pengobatan
Meningkatkan asupan cairan tubuh.
Menyesuaikan dosis obat jika hipotensi disebabkan oleh efek samping obat.
Mengatasi penyebab yang mendasari, seperti infeksi atau kehilangan darah.
Baca juga: Inilah Manfaat Minum Air Rebusan Daun Putri Malu, Cek Juga Resep Diabetes ala dr Zaidul Akbar
Hipertensi
Hipetensi atau tekanan darah tinggi ialah kondisi dimana tekanan darah arteri terlalu tinggi secara berkelanjutan.
Hipertensi sering dianggap sebagai tekanan darah yang sama dengan atau melebihi 130/80 mmHg.
Penyebab
Faktor genetik: riwayat keluarga hipertensi dapat meningkatkan resiko.
Gaya hidup tidak sehat: diet tinggi garam, kurangnya aktifitas fisik, kelebihan berat badan, hingga merokok bisa menjadi penyebab Hipertensi.
Usia: bertambahnya usia juga dapat menjadu resiko hipertesi.
Stres: situas stress kronis dapat mempengaruhi tekanan darah.
Gejala
Hipertensi biasa tidak menunjukkan gejala yang signifikat, sehingga sering disebut sebagai pembunuh diam diam.
Gejala pada umumnya biasa seperti, pusing atau sakit kepala, sesak napas, nyeri dada, hingga pada tahap lanjut yang dapat menyebabkan kerusakan organ seperti jantung, ginjal, dan otak.
Baca juga: Enam Buah Penurun Darah Tinggi, Salah Satunya Kiwi
Pengobatan
Perubahan gaya hidup: diet sehat, olahraga teratur, mengurangi konsumsi garam.
Obat obatan: diuretik, ACE inhibator, beta-blocker, dll.
Manajemen stress.
Monitoring dan perawatan rutin oleh dokter.
Kemungkinan kematian
Hipotensi: kondisi ini jarang menyebabkan kematian,, kecuali jika disebabkan oleh situasi darurat medis seperti syok.
Hipertensi: hipertensi yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi serius seperti serangan jantung, stroke, atau kerusakan organ yang dapat mengancam jiwa.
Penting untuk diingat bahwa baik hipertensi maupun hipotensi, keduanya dapat memilikki dampak signifikat pada kesehatan, dan pengelolaan yang tepat diperlukan untuk mencegah komplikasi yang serius.
Konsultasikan pada professional atau ahli kesehatan untuk diagnosis dan perawatan yang tepat.
(Penulis adalah Siswi magang dari SMKN 2 Lhokseumawe)
Baca juga: Manfaat Mendoakan Kebaikan Bagi Orang Lain, Begini Penjelasan Buya Yahya
Baca juga: Apa Manfaat Buah Pepaya Bagi Kesehatan Kulit dan Rambut, Simak Penjelasannya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Ilustrasi-hipertensi-atau-tekanan-darah-tinggi.jpg)