Sabtu, 11 April 2026

Tahukah Anda

Mengapa Patah Hati Terasa Menyakitkan?, Berikut Penjelasannya

Patah hati bisa dialami siapa saja dan penyebabnya bisa sangat beragam, seperti berpisah dengan pasangan, dikhianati oleh teman dekat, dan lain-lain.

Editor: Muliadi Gani
Freepik.com
Ilustrasi patah hati. 

PROHABA.CO - Jatuh cinta rasanya begitu berbunga-bunga. Tetapi rasa bahagia itu bisa terasa menyakitkan ketika merasakan putus cinta.

Patah hati tak jarang membuat emosi seseorang menjadi negatif.

Bahkan sampai nekat menyakiti fisiknya sendiri.

Patah hati bisa dialami siapa saja dan penyebabnya bisa sangat beragam, seperti berpisah dengan pasangan, dikhianati oleh teman dekat, dan lain-lain.

Saat dilanda patah hati, kita merasa sedih, stres, dan tidak bersemangat.

Sementara itu, stres yang berkepanjangan atau meningkat dari waktu ke waktu, dapat berakibat buruk bagi kesehatan.

Mengapa patah hati sangat menyakitkan?

Ada alasan fi siologis mengapa patah hati bisa menjadi pengalaman yang menyakitkan.

Baca juga: Apakah Patah Hati Bisa Sebabkan Migrain, Berikut Penjelasannya

Saat seseorang jatuh cinta, terjadi pencurahan hormon secara alami di dalam tubuhnya.

Ini termasuk hormon oksitosin dan hormon dopamin.

Namun, saat putus cinta, kadar oksitosin dan dopamin turun, sementara pada saat yang sama terjadi peningkatan kadar hormon yang bertanggung jawab atas stres, yakni hormon kortisol.

Menurut sains, peningkatan kadar kortisol ini dapat menyebabkan kondisi seperti tekanan darah tinggi, penambahanberat badan, munculnya jerawat, peningkatan kecemasan, dan susah tidur.

Menurut sebuah studi tahun 2011 di jurnal Biological Sciences, penolakan sosial, seperti putus dari pasangan, juga mengaktifkan area otak yang berhubungan dengan rasa sakit fisik.

Dalam penelitian tersebut, peserta studi yang baru saja putus cinta diperlihatkan foto mantan pasangannya.

Pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) terhadap para peserta menemukan, area otak yang biasanya berhubungan dengan cedera fisik, termasuk korteks somatosensori sekunder dan insula posterior dorsal, diaktifkan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved