Minggu, 26 April 2026

Tahukah Anda

Apa Korelasi Air Zamzam dan Pelaksanaan Ibadah Haji?

Di dalam kompleks masjid tersebut, terdapat sumur zamzam yang airnya dianggap suci oleh umat Islam di seluruh dunia dan diyakini memiliki khasiat ...

Editor: Muliadi Gani
AFP via BBC News Indonesia
Air Zamzam bisa dinikmati oleh jemaah haji dan umrah di Arab Saudi. 

PROHABA.CO, RIYADH - Hampir semua umat Islam yang beribadah haji dan umrah pulang membawa air Zamzam sebagai oleh-oleh.

Air Zamzam sering dibagikan kepada sanak saudara dan teman, dengan keyakinan bahwa air itu dapat menangkal bahaya, penyakit, dan kejahatan.

Shalat di Masjidil Haram dan mengunjungi sumur Zamzam merupakan bagian tak terlepaskan dari ibadah haji dan umrah umat Islam.

Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi, merupakan masjid terbesar di dunia dan mengelilingi tempat paling suci bagi umat Islam, Ka’bah.

Di dalam kompleks masjid tersebut, terdapat sumur zamzam yang airnya dianggap suci oleh umat Islam di seluruh dunia dan diyakini memiliki khasiat penyembuhan.

Shalat di Masjidil Haram dan mengunjungi sumur zamzam merupakan bagian tak terlepaskan dari ibadah haji dan umrah umat Islam.

Bahkan, hampir semua umat Islam yang beribadah haji dan umrah pulang membawa air zamzam sebagai oleh-oleh.

Air zamzam sering dibagikan kepada sanak saudara dan teman, dengan keyakinan bahwa air itu dapat menangkal bahaya, penyakit, dan kejahatan.

Dipercaya juga bahwa air itu sendiri adalah keajaiban karena tidak ada habisnya.

Sekitar dua juta orang diperkirakan tiba di Makkah dari seluruh dunia setiap tahun untuk menunaikan ibadah haji.

Baca juga: Air Zamzam Merupakan Air Terbarukan dan Tidak Habis

Namun, jumlah jamaah haji diperkirakan jauh lebih tinggi karena tidak semua pengunjung terdaftar dan banyak di antaranya merupakan penduduk lokal atau melakukan perjalanan melalui laut dan darat dari negara tetangga.

Lalu, mengapa air zamzam penting bagi umat Islam? Air ini penting bagi umat Islam karena berakar kuat dalam narasi sejarah dan agama.

Cendekiawan Islam, Imam Bukhari Abdullah Ibn Abbas, menyusun enam jilid hadis yang dikenal sebagai Sahih al-Bukhari pada tahun 860.

Hadis menduduki peringkat kedua setelah Al-Qur’an sebagai sumber utama pedoman agama dan moral.

Hadis juga diyakini sebagai kompilasi dari tradisi, ritual pribadi, dan ajaran Nabi Muhammad sepanjang hidupnya, seperti diriwayatkan oleh orang-orang terdekatnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved