Selasa, 12 Mei 2026

Tahukah Anda

Cara Mudah Mengetahui Tingkat Penuaan Seseorang

Apakah Anda bisa berdiri dengan satu kaki selama 10 detik tanpa kehilangan keseimbangan?  Jika tidak bisa, tubuhmu mungkin sedang memberikan sinyal

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
Shutterstock
Ilustrasi posisi keseimbangan tubuh atau yoga. Apakah Anda bisa berdiri dengan satu kaki selama 10 detik tanpa kehilangan keseimbangan?  Jika tidak bisa, tubuhmu mungkin sedang memberikan sinyal penting tentang kondisi kesehatannya.  

PROHABA.CO -  Tahukah anda, mereka yang sudah berusia paruh baya atau lebih senior lagi dan tidak dapat menjaga keseimbangan tubuh saat berdiri pada satu kaki selama 10 detik.

Kemampuan keseimbangan tubuh obyektif yang menghilang dengan cepat setelah usia 50-an tahun meningkatkan risiko untuk terjatuh pada situasi-situasi tertentu ataupun bentuk kesehatan memburuk lainnya. 

Sejatinya, proses penuaan dimulai dengan menurunnya bahkan terhentinya fungsi berbagai organ tubuh.

Akibat penurunan fungsi itu, muncul berbagai tanda dan gejala proses penuaan.

Apakah Anda bisa berdiri dengan satu kaki selama 10 detik tanpa kehilangan keseimbangan

Jika tidak bisa, tubuhmu mungkin sedang memberikan sinyal penting tentang kondisi kesehatannya. 

Meski terdengar sepele, kemampuan ini ternyata menyimpan petunjuk besar tentang bagaimana kita menua.

“Kemampuan berdiri di satu kaki adalah salah satu indikator paling prediktif dalam proses penuaan,” ungkap Clayton Skaggs, pendiri Central Institute for Human Performance (CIHP).

Sebuah studi dari Mayo Clinic tahun 2024 menunjukkan bahwa kemampuan untuk menjaga keseimbangan dalam posisi berdiri satu kaki lebih akurat dalam menggambarkan kondisi penuaan seseorang dibandingkan dengan kekuatan otot atau cara berjalan.

Tes ini mencerminkan kesehatan neuromuskular dan bahkan bisa menandai adanya penyakit yang belum tampak gejalanya.

Baca juga: Kabar Baik, Olahraga di Akhir Pekan Sama Manfaatnya dengan Latihan Setiap Hari, Ini Penjelasannya

“Kami menggunakan tes keseimbangan secara diagnostik, untuk mengelompokkan kemungkinan penyakit,” jelas Paraminder Padgett, spesialis neurologi dan terapis fisik di Dartmouth Hitchcock Medical Center.

“Kurangnya aktivitas fisik memang bisa menyebabkan keseimbangan buruk, tapi masalah di otak pun bisa memberikan dampak serupa,” ujarnya.

Penyakit kronis seperti diabetes, artritis, multiple sclerosis, Parkinson, hingga Alzheimer secara perlahan dapat menggerogoti keseimbangan tubuh.

Beberapa di antaranya mengganggu saraf dan kemampuan propriosepsi (kemampuan tubuh mengenali posisinya), sedangkan yang lain memengaruhi fungsi kognitif dan pengambilan keputusan.

Semua ini berkontribusi terhadap kestabilan tubuh.

Semakin sulit Banyak sistem tubuh berperan dalam menjaga keseimbangan: penglihatan, sistem somatosensorik (yang menangkap informasi dari kulit, otot, dan sendi), serta sistem vestibular di telinga bagian dalam. 

Sayangnya, semua sistem ini mulai melemah setelah usia 40, apalagi jika gaya hidup kita cenderung pasif.

“Seperti halnya keriput di permukaan kulit, otak kita juga mengalami keriput di dalam,” kata Padgett.

“Namun, jika kita terus menggunakannya dengan tepat, sistem-sistem otak tetap bisa beradaptasi,” tambahnya. 

Banyak orang menganggap penurunan fungsi tubuh sebagai bagian alami dari penuaan.

Namun, menurut Skaggs, seringkali penurunan ini sebenarnya disebabkan oleh pola hidup yang diabaikan.

Baca juga: Mengapa Berenang Disebut Olahraga Terbaik? Berikut Penjelasannya

Ia mencontohkan, ketika seseorang terbiasa menggunakan tangan untuk bangun dari kursi, tubuh akan membentuk pola baru yang justru mempercepat pelemahan otot kaki.

Bisa dipulihkan Kabar baiknya, keseimbangan bukanlah sesuatu yang hilang selamanya.

Dengan latihan dan keterlibatan otak yang tepat, kita bisa menjaganya bahkan memulihkannya di usia berapa pun. 

“Kita didesain untuk menstabilkan tubuh lewat batang tubuh (core). Otot inti seharusnya menjadi pusat keseimbangan,” jelas Skaggs.

Sayangnya, banyak orang setelah memasuki usia pensiun mulai mengurangi aktivitas fisik, merasa cukup hanya dengan duduk di kursi malas sambil menonton televise atau mengisi teka-teki silang.  

Padgett menegaskan, itu tidak cukup. Ia menyarankan pentingnya latihan “dual tasking”, yakni menggabungkan tantangan fisik dan kognitif secara bersamaan.

Misalnya, berjalan sambil menyebutkan nama buah dari huruf A hingga Z.

Latihan ini mendorong otak untuk tetap aktif dalam pengambilan keputusan dan reaksi terhadap gerakan.

Variasi gerakan juga sangat penting, terutama untuk merangsang sistem vestibular.

Gerakan seperti yoga dengan posisi kepala di bawah (misalnya downward dog) dapat membantu otak memproses arah dan posisi tubuh.

Latihan yang melibatkan elemen tak terduga 'seperti bermain frisbee, mendaki, atau juggling' juga merangsang keseimbangan reaktif.

Bahkan, berjalan tanpa alas kaki pun bisa menjadi terapi yang efektif.

“Informasi sensorik yang masuk saat kita tidak memakai alas kaki jauh lebih kaya,” kata Padgett, “mobilitas kaki pun akan meningkat.”

Perubahan kecil seperti berdiri di atas busa, berjalan di jalur berbatu, atau menutup mata saat latihan keseimbangan bisa mengaktifkan sistem tubuh yang jarang digunakan.

Dan yang paling penting: temukan gerakan yang kamu sukai. Padgett menambahkan, “Saya mungkin tidak selalu menikmati semua latihan, tapi saya selalu merasa lebih baik setelahnya.

Saya tahu itu membuat saya tetap bisa melakukan hal-hal yang saya sukai tanpa banyak rasa sakit.”

 Penelitian juga menunjukkan bahwa latihan keseimbangan secara sistematis bukan hanya memperbaiki fungsi fisik, tapi juga meningkatkan memori dan kemampuan spasial.

“Hal terpenting yang bisa kita lakukan adalah bergerak dan bergerak sebanyak mungkin,” tutup Padgett.

Baca juga: Olahraga Berlebihan Bisa Menyebabkan Impotensi? Benarkah

Baca juga: Risiko Cedera Akibat Kurangnya Pemanasan Sebelum Olahraga Berat

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ingin Tahu Tingkat Penuaanmu? Berdirilah Dengan Satu Kaki Selama 10 Detik", 

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved