Rabu, 29 April 2026

Tahukah Anda

Temuan Terbaru: Tanaman Ternyata Bisa Bersuara, Berikut Penjelasannya

 Ilmuwan dari Tel Aviv University membuktikan bahwa tumbuhan bisa berinteraksi dengan hewan melalui suara ultrasonik

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
SHUTTERSTOCK
DENGAR SUARA TANAMAN - Ilustrasi kupu-kupu hinggap di atas bunga. tumbuhan bisa berinteraksi dengan hewan melalui suara ultrasonik, yang mengubah pandangan lama bahwa tumbuhan adalah makhluk diam, tidak bisa bicara, apalagi mendengar. hewan bisa mendengar suara tanaman. Demikian hasil riset terbaru. 

PROHABA.CO - Ilmuwan dari Tel Aviv University membuktikan bahwa tumbuhan bisa berinteraksi dengan hewan melalui suara ultrasonik, yang mengubah pandangan lama bahwa tumbuhan adalah makhluk diam, tidak bisa bicara, apalagi mendengar.

Suara ultrasonik yang dihasilkan oleh tanaman stres, seperti saat kekeringan, terbukti memengaruhi perilaku ngengat dalam memilih tempat bertelur.

Penemuan ini membuka babak baru dalam ilmu komunikasi antar spesies.

Untuk pertama kalinya, ilmuwan membuktikan bahwa tumbuhan dan hewan bisa berinteraksi lewat suara. 

Namun, penelitian terbaru membalikkan anggapan itu. 

Yang lebih mengejutkan, hewan seperti ngengat bisa mendengar suara-suara ini dan menggunakannya untuk membuat keputusan penting.

Tim ilmuwan dari Tel Aviv University dan hasilnya dipublikasikan di jurnal eLife. 

Mereka menemukan bahwangengat betina dari spesies Spodoptera littoralis memiliki kemampuan mendengar suara klik ultrasonik yang dihasilkan oleh tanaman stres.

Rentang pendengaran ngengat ini ada di frekuensi 20–60 kHz, dengan sensitivitas tertinggi di 38 kHz—tepat di titik di mana banyak suara tanaman jatuh.

Tanaman memang tidak punya mulut atau telinga, tapi mereka punya cara tersendiri untuk berkomunikasi.

Mereka mengirimkan sinyal kimia lewat akar, daun, bahkan udara untuk memperingatkan bahaya, meminta bantuan, atau berbagi sumber daya.

Baca juga: Ilmuan Temukan Ada Bakteri yang Tertarik pada Darah Manusia

Misalnya, ketika ulat memakan daun tanaman, beberapa spesies akan melepaskan senyawa volatil yang menyebar ke tanaman sekitar.

Tanaman tetangganya lalu bersiap dengan membentuk senyawa pahit atau memperkeras permukaan daun.

Di bawah tanah, jaringan jamur mikoriza—dijuluki “Wood Wide Web”--menghubungkan akar-akar tanaman, memungkinkan mereka bertukar nutrisi, mengirim sinyal stres, dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Yang mengejutkan, beberapa tanaman hanya mengirimkan sinyal stres jika kerabat dekatnya berada di sekitar, menunjukkan adanya pengenalan “keluarga”.

Bahkan ada tanaman yang bisa membedakan teman dan musuh berdasarkan aroma.

Para peneliti membuat serangkaian eksperimen untuk menguji hipotesis bahwa ngengat betina menggunakan suara dari tanaman sebagai sinyal memilih tempat bertelur.

Hasilnya? Menakjubkan. Dalam lingkungan tanpa tanaman, ngengat lebih suka bertelur di dekat pengeras suara yang memutar rekaman suara tanaman stres.

Namun, jika ngengat dibuat tuli, preferensi itu menghilang.

Ini menandakan bahwa suara memang menjadi faktor utama.

Akan tetapi, ketika diberikan pilihan antara dua tanaman sehat, di mana salah satunya diiringi suara stres, ngengat memilih tanaman yang diam.

Artinya, ngengat bisa menginterpretasikan suara sebagai tanda peringatan.

“Kami sudah membuktikan sebelumnya bahwa tanaman menghasilkan suara,” ujar Prof Yossi Yovel, salah satu penulis studi.

Baca juga: Ilmuan Ungkap Banyak Gunung Berapi Aktif Sebagian Besar Berada Ada di Bawah Laut

“Kami ingin tahu apakah ada hewan yang mendengar suara itu dan bereaksi, khususnya serangga yang banyak berinteraksi dengan tanaman.”

Dalam arena eksperimen yang lebih panjang, ngengat meletakkan lebih banyak telur di dekat pengeras suara atau sumber gula di tengah dan tidak ada telur yang diletakkan di sisi tanpa suara.

Ketika diamati, ngengat menghabiskan lebih banyak waktu di sisi yang memiliki suara tanaman stres.

Menariknya, suara perkawinan dari ngengat jantan yang berada di frekuensi serupa tidak memengaruhi keputusan ngengat betina untuk bertelur.

Ini membuktikan bahwa respons ngengat adalah khusus terhadap suara tanaman.

“Kami fokus pada ngengat betina karena mereka memilih tempat bertelur yang ideal, yakni tanaman sehat yang bisa memberikan nutrisi bagi larva,” jelas Prof Lilach Hadany, penulis lain studi ini.

“Jika tanaman menunjukkan tanda kekeringan, apakah ngengat akan menghindarinya?

Eksperimen kami menunjukkan: iya.” Keputusan cerdas Penelitian ini juga mengungkap bahwa ngengat tak hanya mengandalkan suara.

Ketika diberikan pilihan antara suara dan aroma tanaman, ngengat menunjukkan preferensi berdasarkan konteks.

Saat tidak ada tanaman terlihat, suara menjadi petunjuk.

Namun, ketika ada tanaman sungguhan, ngengat menggunakan kombinasi antara suara dan bau.

Menggunakan elektroantenogram (alat perekam respons antena serangga), para ilmuwan juga menemukan bahwa antena ngengat mampu membedakan bau dari tanaman yang sehat dan yang kekeringan.

Ini menunjukkan bahwa ngengat memiliki sistem integrasi multisensorial yang kompleks.

Penemuan ini membuka bab baru dalam ilmu ekologi dan komunikasi lintas spesies.

Mungkin bukan hanya ngengat, serangga penyerbuk, predator, atau hewan lain pun bisa jadi memanfaatkan suara tanaman dalam hidupnya.

Walau suara klik dari tanaman kemungkinan besar awalnya hanyalah hasil sampingan dari kehilangan air, kini mereka memiliki fungsi ekologis yang signifikan.

“Ini adalah bukti pertama adanya interaksi akustik antara tanaman dan serangga,” tutup tim peneliti.

 “Kami yakin ini baru permulaan.

Dunia interaksi suara antara tumbuhan dan hewan masih luas dan belum terjamah.” 

Penelitian ini kembali mengingatkan kita bahwa kehidupan di bumi sangat kompleks, dan bahwa komunikasi tidak selalu terbatas pada suara yang kita dengar.

Baca juga: Ilmuan Ciptakan Berlian Super Keras di Laboratorium

Baca juga: Peneliti Temukan Nisan Aceh Satu-satunya di Maros, Sebuah Sejarah Baru Terkuak

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penemuan Baru: Tanaman Ternyata Bisa Bersuara dan Ngengat Mendengarnya", 

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved