Sabtu, 9 Mei 2026

Info USK

Rekonstruksi Aceh Pascabadai Senyar, USK Usulkan Pendekatan Mitigasi Berkelanjutan

Pascabencana Badai Siklon Senyar 2025, Universitas Syiah Kuala mengambil peran strategis dalam upaya membangun kembali Aceh

Tayang:
Editor: IKL
serambi/ist
Rekonstruksi Aceh Pascabadai Senyar, USK Usulkan Pendekatan Mitigasi Berkelanjutan 

PROHABA.CO, BANDA ACEH – Pascabencana Badai Siklon Senyar 2025, Universitas Syiah Kuala (USK) mengambil peran strategis dalam upaya membangun kembali Aceh dengan pendekatan mitigasi bencana jangka panjang, tidak sekadar pemulihan fisik wilayah terdampak.

Dorongan tersebut sejalan dengan keterlibatan aktif USK dalam mendukung Pemerintah Aceh menyusun Dokumen Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Provinsi Aceh.

Rektor USK Prof Dr Marwan menyampaikan bahwa USK mengusulkan pembangunan kembali wilayah terdampak melalui pendekatan Daerah Aliran Sungai (DAS) utama sebagai strategi kunci pengurangan risiko bencana di masa mendatang.

“Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable, yaitu membangun kembali wilayah terdampak dengan kondisi yang lebih baik, lebih aman, dan berkelanjutan,” ujar Prof Marwan.

Dalam mendukung penyusunan R3P Aceh, USK mengerahkan 14 tim pakar lintas disiplin yang tergabung dalam lima gugus kerja tematik rehabilitasi dan rekonstruksi.

Keterlibatan tersebut bertujuan agar proses pembangunan pascabencana tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga memperkuat mitigasi dan pengurangan risiko bencana jangka panjang.

Salah satu fokus utama usulan USK adalah pembangunan dan penguatan infrastruktur pengendalian banjir pada DAS yang melintasi kawasan perkotaan, seperti DAS Krueng Meureudu, DAS Krueng Peusangan, dan DAS Krueng Tamiang. 

Ketiga sungai tersebut dinilai tidak lagi memadai dalam menampung debit puncak banjir tahunan, terutama pada kondisi cuaca ekstrem seperti saat Badai Siklon Senyar.

Usulan tersebut meliputi pengerukan dan normalisasi sungai, pembangunan tanggul banjir, penetapan sempadan sungai sebagai kawasan lindung, perbaikan tutupan hutan di wilayah hulu dan tengah DAS, serta penataan permukiman di kawasan rawan bencana.

Satgas USKK
TURUN KE KAWASAN BENCANA - Tim USK saat turun ke kawasan terdampak bencana di Aceh, beberapa waktu lalu.

Rektor USK juga menekankan pentingnya Aceh belajar dari negara-negara yang memiliki pengalaman panjang dalam mitigasi bencana badai, seperti Jepang dan Taiwan. 

Meski kerap dilanda bencana serupa, negara-negara tersebut dinilai mampu menekan dampak dan jumlah korban secara signifikan.

Selain infrastruktur sungai, USK memberi perhatian serius pada pemulihan kawasan lindung, khususnya hutan di wilayah hulu DAS. 

Melalui pemanfaatan citra satelit, tim USK memetakan tingkat kerusakan hutan akibat badai serta menyusun rekomendasi perbaikan kawasan hutan agar kembali menjalankan fungsi ekologisnya dalam menahan limpasan air dan mengurangi risiko banjir di masa depan.

Tidak hanya pada aspek perencanaan dan kebijakan, USK juga menunjukkan kontribusi nyata sejak awal terjadinya bencana. 

Melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Respons Badai Siklon Senyar, USK bergerak sejak hari kedua pascabencana, tepatnya 28 November 2025, dengan menurunkan relawan, tenaga medis, dan bantuan logistik ke berbagai wilayah terdampak di Aceh.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved