Khutbah Jumat
Bencana dan Transformasi Diri
Digambarkan bahwa kaum ‘Ad dihancurkan oleh Allah karena perbuatan mereka yang menantang Nabi Hud serta mereka tidak mau menyembah Allah.
Ketahuilah bahwa Allah tidak begitu saja percaya dengan amal ibadah yang dilakukan seseorang, melainkan harus diuji terlebih dahulu.
Oleh karenanya, kita jangan pernah bangga dengan amal ibadah yang kita lakukan. Ujian yang diberlakukan kepada orang-orang mukmin sifatnya menguji seseorang dan meluruskan agar seorang mukmin melakukan pembenahan terhadap dirinya sendiri, kepada hal yang lebih baik.
“Apakah kamu mengira akan masuk ke dalam surga begitu saja? Padahal, belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imram: 142)
Makanya, ada dua poin penting ujian Allah bagi orangorang yang beriman: 1) untuk mengetahui bagaimana seseorang bermujahadah melawan hawa nafsunya dan 2) bagaimana tingkat kesabaran mereka ketika menerima musibah.
Oleh karena itu, mari kita melakukan transformasi diri yang dimulai dengan mendidik kembali hati dan membersihkan hati, serta membiasakan diri untuk sabar.
Doktor Yasir Burhami di dalam bukunya A’malul Qulub mengatakan bahwa sabar itu dibagi kepada tiga.
Pertama, sabar terhadap perintah Allah adalah sabar terhadap segala apa-apa yang diperintahkan oleh Allah, seperti shalat, puasa, zakat, dan perintah-perintah lainnya.
Kedua, sabar untuk tidak berbuat maksiat, adalah bersabar untuk meninggalkan segala bentuk yang dilarang oleh Allah, seperti mencuri, berzina, dan sebagainya.
Ketiga, sabar terhadap musibah yang menimpa, seperti sakit dan datangnya bencana alam.
Adapun balasan dari muhasabah diri yang dilakukan oleh seorang mukmin tidak tanggung-tanggung diberikan oleh Allah.
Untuk mereka akan dipersiapkan surga karena mereka adalah orang-orang pilihan yang sanggup menghadapi ujian/cobaan dan mereka bukan orang-orang munafik yang hanya pandai bicara, tetapi tidak berbuat.
Bahkan, Ibn Abbas menyikapi Surah Lukman ayat 17 menyatakan bahwa hakikat iman itu ada tiga: mendirikan shalat, amar makruf nahi mungkar, dan bersabar terhadap musibah yang menimpa. Artinya, kalau ingin menilai keimanan seseorang itu, maka nilailah dari salah satu tiga unsur di atas.
Seorang yang beriman tidak terlepas dari ketiga unsur tersebut, yang pada hakikatnya semua bermuara pada sifat sabar. Yang namanya shalat dan amar makruf nahi mungkar sangat butuh kepada kesabaran. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Khutbah-Jumat-23-Januari-2026.jpg)