Khutbah Jumat

Bencana dan Transformasi Diri

Digambarkan bahwa kaum ‘Ad dihancurkan oleh Allah karena perbuatan mereka yang menantang Nabi Hud serta mereka tidak mau menyembah Allah.

|
Editor: IKL
FOR PROHABA/M Anshar
MASJID DAN KHATIB - Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry Banda aceh, Dr Fahmi Sofyan MA (insert), yang menjadi khatib Jumat di Masjid Raya Baiturrahman pada hari ini, 23 Januari 2026, akan menyampaikan khutbah dengan judul ‘Rancana dan Transformasi Diri.’ 

Khutbah ini disampaikan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat 23 Januari 2026, Oleh Dr Fahmi Sofyan MA, Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Kaum muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah Swt. 

ADAKALANYA musibah diterjemahkan sebagai suatu laknat atau kehancuran dan adakalanya musibah itu sebagai suatu ujian/cobaan, sebagaimana yang diceritakan di dalam Al-Qur’an tentang ditenggelamkannya para pembangkang Nabi Nuh alaihissalam, kaum Ad yang dihancurkan dengan angin badai, kaum Tsamud dengan angin badai dan gempa, kaum Nabi Luth alaihissalam yang diluluhlantakkan Allah, dan banyak lagi cerita dalam Al-Qur’an yang menceritakan kaum-kaum yang dilaknat. 

Ada juga cerita di dalam Al- Qur‘an bagaimana Nabi Yunus ditelan oleh ikan, kekalahan kaum muslimin ketika Perang Uhud, serta dilemparnya Rasulullah saw dengan kotoran hewan ketika berada di Thaif. 

Baca juga: Khutbah jumat di Masjid Agung Ruhama - Tgk Ihsan Harun, MA Uraikan Hikmah Isra’ dan Mikraj

Lalu, di mana posisi kita sekarang? Termasuk ke dalam kaum yang dilaknat atau yang sedang diuji oleh Allah? Kita harus memandang setiap musibah yang datang dari dua sisi. 

Yang pertama, kalau seandainya sebelum diturunkan musibah kita orang yang jauh dari Allah, berbuat maksiat, menzalimi orang lain, serta tidak pernah mendengar perintah Allah, maka kita termasuk kelompok yang sedang dilaknat oleh Allah Swt. Hal inilah yang diingatkan Allah di dalam Al- Qur’an Surah Al-Haqqah ayat 5 yang artinya, “Adapun kaum Tsamud Kami hancurkan, sebab mereka itu pembangkang.” 

Digambarkan bahwa kaum ‘Ad dihancurkan oleh Allah karena perbuatan mereka yang menantang Nabi Hud serta mereka tidak mau menyembah Allah. Begitu juga kaum Tsamud, mereka diluluhlantakkan karena menantang Allah dan Nabi Saleh. Maka, azab itu akan datang apabila kita berbuat maksiat. 

Oleh karenanya, Allah tidak mengazab suatu kaum sebelum mengutus rasul dan mengajak mereka untuk menyembah Allah Swt, tapi mereka membangkang dan mengolok-olok rasulnya. 

Surah Al-Qasas ayat 59 menegaskan, yang artinya, “Allah tidak menghancurkan penduduk kampung sebelum mengirim utusan ke kampung itu, yang mengajak mereka dengan membacakan ayat-ayat Kami, dan Kami sekali-kali tidak menghancurkan mereka, kecuali karena mereka sendiri yang berbuat zalim.” 

Kedua, apabila sebelum diturunkan azab kita patuh kepada Allah dan rasul-Nya, mendengar perintah, dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya, maka musibah yang datang berupa ujian dari Allah. 

Sesungguhnya, Allah Swt tidak begitu saja percaya terhadap amal ibadah yang sudah kita lakukan, tetapi harus diuji terlebih dahulu. 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (Al-Ankabut: 2) Ujian yang datang kepada seorang mukmin untuk mengetahui mana mukmin yang sebenarnya dan mana pendusta, dan hanya mukmin yang terpilihlah yang sanggup menghadapi ujian ini. 

Oleh karenanya, tidak salah kalau Allah menjuluki mereka dengan ‘orang-orang sabar’, sabar terhadap ujian dan ia tahu kalau ujian itu berasal dari Allah. 

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”( Al-Baqarah: 155) 

Ma’asyiral muslimin yang dirahmati Allah Swt. 

Ketahuilah bahwa Allah tidak begitu saja percaya dengan amal ibadah yang dilakukan seseorang, melainkan harus diuji terlebih dahulu. 

Oleh karenanya, kita jangan pernah bangga dengan amal ibadah yang kita lakukan. Ujian yang diberlakukan kepada orang-orang mukmin sifatnya menguji seseorang dan meluruskan agar seorang mukmin melakukan pembenahan terhadap dirinya sendiri, kepada hal yang lebih baik. 

“Apakah kamu mengira akan masuk ke dalam surga begitu saja? Padahal, belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imram: 142) 

Makanya, ada dua poin penting ujian Allah bagi orangorang yang beriman: 1) untuk mengetahui bagaimana seseorang bermujahadah melawan hawa nafsunya dan 2) bagaimana tingkat kesabaran mereka ketika menerima musibah. 

Oleh karena itu, mari kita melakukan transformasi diri yang dimulai dengan mendidik kembali hati dan membersihkan hati, serta membiasakan diri untuk sabar. 

Doktor Yasir Burhami di dalam bukunya A’malul Qulub mengatakan bahwa sabar itu dibagi kepada tiga. 

Pertama, sabar terhadap perintah Allah adalah sabar terhadap segala apa-apa yang diperintahkan oleh Allah, seperti shalat, puasa, zakat, dan perintah-perintah lainnya. 

Kedua, sabar untuk tidak berbuat maksiat, adalah bersabar untuk meninggalkan segala bentuk yang dilarang oleh Allah, seperti mencuri, berzina, dan sebagainya. 

Ketiga, sabar terhadap musibah yang menimpa, seperti sakit dan datangnya bencana alam. 

Adapun balasan dari muhasabah diri yang dilakukan oleh seorang mukmin tidak tanggung-tanggung diberikan oleh Allah. 

Untuk mereka akan dipersiapkan surga karena mereka adalah orang-orang pilihan yang sanggup menghadapi ujian/cobaan dan mereka bukan orang-orang munafik yang hanya pandai bicara, tetapi tidak berbuat. 

Bahkan, Ibn Abbas menyikapi Surah Lukman ayat 17 menyatakan bahwa hakikat iman itu ada tiga: mendirikan shalat, amar makruf nahi mungkar, dan bersabar terhadap musibah yang menimpa. Artinya, kalau ingin menilai keimanan seseorang itu, maka nilailah dari salah satu tiga unsur di atas. 

Seorang yang beriman tidak terlepas dari ketiga unsur tersebut, yang pada hakikatnya semua bermuara pada sifat sabar. Yang namanya shalat dan amar makruf nahi mungkar sangat butuh kepada kesabaran. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved