Selasa, 19 Mei 2026

Banjir Aceh

Warga Bintang Aceh Tengah Terisolasi Pascabencana, 25 Kampung Hidup Tanpa Listrik

Sejak bencana hidrometeorologi melanda pada 26 November 2025, warga di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, masih hidup dalam kegelapan

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
KOMPAS.COM/ IWAN BAHAGIA
TANPA LISTRIK - Sejunlah warga di Kampung Gunung Suku Rawe, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, membersihkan lumpur pada 10 Desember 2025. Sejak bencana hidrometeorologi melanda pada 26 November 2025, warga di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, masih hidup dalam kegelapan tanpa aliran listrik. 

Ringkasan Berita:
  • Warga Kecamatan Bintang, Aceh Tengah, masih hidup tanpa listrik dan komunikasi sejak bencana 26 November 2025, sehingga aktivitas rumah tangga dan akses informasi lumpuh.
  • 25 kampung terisolasi, tiga kampung bahkan belum bisa dimasuki alat berat, warga terpaksa menggunakan perahu dengan biaya tinggi untuk membeli kebutuhan pokok.
  • PLN mulai memulihkan jaringan transmisi utama melalui pembangunan tower darurat, sehingga sistem kelistrikan Aceh perlahan terhubung kembali dengan Sumatera.

 

PROHABA.CO, ACEH TENGAH - Sejak bencana hidrometeorologi melanda pada 26 November 2025, warga di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, masih hidup dalam kegelapan tanpa aliran listrik.

Sebanyak 25 kampung di wilayah tersebut terdampak langsung, membuat aktivitas rumah tangga lumpuh.

Tidak hanya peralatan elektronik yang tak bisa digunakan, warga juga kehilangan akses terhadap jaringan internet maupun komunikasi seluler.

Mazmin Putra, warga Kampung Gele, menuturkan bahwa sejak bencana terjadi, jaringan komunikasi di wilayahnya benar-benar lumpuh.

Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), gas, dan kebutuhan pokok semakin menipis.

“Gas dan BBM sudah tidak ada. Bahan pokok kurang. Masyarakat masih berharap dengan bantuan pascabencana,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Jumat (19/12/2025).

Mayoritas kampung di Kecamatan Bintang berada di sekitar Danau Laut Tawar.

Setelah bencana, akses darat menuju wilayah tersebut rusak parah.

Satu-satunya cara untuk keluar masuk kampung adalah menggunakan perahu.

Ketika BBM habis, sebagian warga bahkan harus mengayuh perahu dengan tangan.

Selama hampir 20 hari terakhir, warga terpaksa mempercayakan pembelian kebutuhan pokok kepada beberapa orang yang menggunakan perahu mesin menuju Kota Takengon.

Ada pula yang menempuh perjalanan lebih jauh hingga ke Jalan KKA di Kabupaten Bener Meriah untuk membeli BBM, beras, dan sembako lainnya.

Ongkos perjalanan dengan speedboat sempat mencapai Rp 200.000 per orang pada pekan pertama pascabencana, sebelum turun menjadi Rp 80.000–100.000 pada pekan berikutnya.

“Tidak semua warga punya uang saat itu, jadi banyak yang kesulitan,” kata Mazmin.

Baca juga: Terungkap! Pemuda di Empat Lawang Terima Rp100 Ribu dalam Aksi Pembunuhan Tetangganya

Kampung Terisolasi 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved