Kamis, 11 Juni 2026

Ramadhan 2026

Hasil Sidang Isbat, Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

Pemerintah Indonesia resmi menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
KOMPAS.com/FIRDA JANATI
SIDANG ISBAT - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam konferensi pers sidang isbat 1 Ramadhan 1447 H, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026). Pemerintah Indonesia resmi menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. (KOMPAS.com/FIRDA JANATI) 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, berdasarkan sidang isbat dan hasil hisab-rukyat.
  • Hilal tidak memenuhi kriteria MABIMS, sehingga awal Ramadhan ditetapkan sehari lebih lambat dari penetapan Muhammadiyah.
  • Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan pada 18 Februari 2026, menegaskan penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal, sementara pemerintah mengajak umat menyikapi perbedaan dengan tasamuh.

 

PROHABA.CO, JAKARTA - Pemerintah Indonesia resmi menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Keputusan ini diambil melalui sidang isbat penentuan awal Ramadhan yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) RI pada Selasa (17/2/2026) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menyampaikan bahwa penetapan tersebut berdasarkan hasil hisab dan rukyat.

“Berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” ujarnya dalam konferensi pers.

Baca juga: Besok Mulai Puasa, Hilal Belum Terlihat di Aceh

Kriteria MABIMS Tidak Terpenuhi

Nasaruddin menjelaskan, pemantauan hilal di sejumlah titik di Indonesia tidak memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang menjadi pedoman pemerintah.

Menurut kriteria MABIMS, tinggi hilal minimum adalah 3 derajat dan elongasi minimum 6,4 derajat.

Namun, hasil pemantauan menunjukkan sudut elongasi masih sangat minim, yakni antara 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.

“Secara hisab, data hilal pada hari ini tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS,” ujar Nasaruddin.

Sidang isbat dihadiri berbagai pihak, termasuk Komisi VIII DPR RI, Majelis Ulama Indonesia (MUI), BMKG, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Observatorium Bosscha, Planetarium Jakarta, Badan Informasi Geospasial, perwakilan ormas Islam, pondok pesantren, serta Tim Hisab Rukyat Kemenag.

Keterlibatan banyak lembaga ini menunjukkan pendekatan kolektif dan berbasis keilmuan dalam penetapan awal Ramadhan.

Baca juga: Bupati Aceh Utara Laporkan Temuan Tumpukan Kayu ke Kementerian Kehutanan, Diduga Penyebab Banjir

Perbedaan dengan Muhammadiyah

Hasil sidang isbat yang dilakukan Kemenag ini sekaligus mengonfirmasi bahwa awal bulan Ramadhan 2026 yang ditetapkan pemerintah berbeda dengan penetapan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sehari lebih awal.

Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang kini sepenuhnya diadopsi.

Dengan pendekatan astronomi global, Muhammadiyah menerapkan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia, tanpa bergantung pada lokasi geografis masing-masing negara.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved