Jumat, 10 April 2026

Ramadhan 2026

Tarawih Kilat di Indramayu, 23 Rakaat Selesai dalam 6 Menit

Dalam Shalat tarawih ini, jemaah menjalankan 23 rakaat hanya dalam durasi kurang lebih enam sampai tujuh menit.

Editor: Misran Asri
Kompas.com/Handika Rahman
SHALAT TARAWIH KILAT - Pelaksanaan shalat tarawih kilat 23 rakaat yang durasinya hanya 6-7 menit di Pondok Pesantren Al-Quraniyah, Desa Dukuh Jati, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Minggu (22/2/2026) malam. 

Dalam Shalat tarawih ini, jemaah menjalankan 23 rakaat hanya dalam durasi kurang lebih enam sampai tujuh menit

PROHABA.CO - Shalat tarawih kilat yang digelar di Pondok Pesantren Al-Qur'aniyah, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan. 

Tradisi unik yang sudah bertahan selama 17 tahun terakhir ini tetap dilaksanakan meskipun ritmenya sangat cepat.

Dalam Shalat tarawih ini, jemaah menjalankan 23 rakaat hanya dalam durasi kurang lebih enam sampai tujuh menit. 

Meski sangat cepat, puluhan jemaah baik laki-laki maupun perempuan, yang didominasi anak muda, tetap antusias mengikuti Shalat di Desa Dukuh Jati, Kecamatan Krangkeng ini. 

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Minggu (22/2/2026) malam, gerakan Shalat sejatinya tidak berubah, namun ritmenya berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan Shalat tarawih pada umumnya. 

Saking cepatnya, beberapa jemaah tampak kewalahan mengikuti gerakan imam. 

Baca juga: 7 Manfaat Pisang Saat Berbuka Puasa, Energi Cepat Pulih dan Jaga Kesehatan Jantung

Baca juga: Fadhilah Shalat Tarawih Malam ke-5 Ramadhan, Pahala Sama dengan Shalat di 3 Masjid Suci

“Enggak ngerasa kelelahan juga, soalnya sudah dari tahun kemarin-kemarin juga tarawih di sini, jadi sudah kebiasaan,” ujar Akilah, salah satu jemaah perempuan asal Desa Dukuh Jati. 

Imam sekaligus Ketua Yayasan Ponpes Al-Qur'aniyah, KH Azun Mauzun, menjelaskan bahwa pelaksanaan Shalat tarawih kilat ini sengaja dipisahkan di pelataran masjid. 

Sementara di ruang utama, Shalat tarawih tetap dilaksanakan dengan durasi normal. 

“Tradisi tarawih kilat masih tetap kita lestarikan. Namun tempatnya kita bedakan, kenapa? Karena ini tarawih merupakan tradisi yang sudah ada dari turun temurun, makanya tiap tahun kita pertahankan,” jelas KH Azun Mauzun. 

Azun tidak menampik bahwa praktik ini kerap menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. 

Namun, pihak pesantren memilih mempertahankan tradisi tersebut dengan tujuan utama mengajak generasi muda agar mau melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. 

Baca juga: Fadhilah Bulan Haram Termasuk Zulkaidah Diungkap Ustadz Khalid Basalamah, Bulan Mulia Umat Islam

“Kalau kita hilangkan berarti seakan-akan kita menghilangkan tradisi tarawih kilat tersebut,” kata Azun. 

Hanya mengambil rukun shalat 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved