Kamis, 28 Mei 2026

Tahukah Anda

Mengapa Kita Bermimpi Saat Tidur?

Terkadang mimpi yang baik bisa membuat seseorang bahagia, tapi mimpi yang buruk justru bisa sangat mengganggu bahkan menakutkan ...

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
Shutterstock
Ilustrasi tidur telentang. 

Mimpi juga dianggap sebagai cara otak untuk memutar ulang ingatan dari peristiwa yang baru-baru ini terjadi.

Kendati demikian, belum ada penyebab yang pasti mengapa kita bisa bermimpi saat tidur.

Para ahli di bidang ilmu saraf dan psikologi pun terus melakukan percobaan untuk menemukan apa yang terjadi pada otak selama tidur.

“Mengapa kita bermimpi dan fungsi dari mimpi telah menjadi perdebatan selama bertahun-tahun,” ujar dokter di Piedmont, Dr Jennifer Butler seperti dilansir dari Piedmont, Senin (21/2/2022).

Waktu untuk bermimpi Mayoritas orang akan bermimpi sekitar dua jam per malam.

Baca juga: Inul Daratista Akui Temannya Lebih Banyak Pebisnis Ketimbang Artis

Sementara itu, mimpi dapat terjadi dalam setiap fase tidur, tapi mimpi yang paling intens adalah pada tahap REM (rapid eye movement).

Selama tahap tidur REM, aktivitas otak meningkat dibandingkan dengan tahap non-REM.

Selama kondisi tersebut, mimpi biasanya tampak lebih jelas dan aneh.

Sedangkan pada mimpi non-REM cenderung melibatkan melibatkan pikiran atau ingatan yang didasarkan pada waktu dan tempat tertentu.

Pada tahapan tidur REM, mimpi biasanya muncul sebelum seseorang terbangun.

Maka tidak jarang, beberapa jam sebelum kita terbangun mengalami mimpi yang cukup aneh.

Sejumlah psikolog berpendapat bahwa mimpi memberikan wawasan tentang jiwa seseorang atau kehidupan sehari-hari.

Beberapa ahli pun mengatakan bahwa mimpi dapat membawa kembali pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya dan mungkin telah terdistorsi.

“Penelitian menunjukkan konten (isi) mimpi bisa menjadi aneh karena korteks prefrontal di otak tidak diaktifkan saat kita bermimpi,” kata Butler.

Baca juga: Kondisi Kesehatan Pelawak Sekaligus Presenter Tukul Arwana Terus Menunjukkan Peningkatan.

Dia menambahkan bahwa korteks prefrontal dikaitkan dengan penalaran tingkat tinggi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved