Tahukah Anda

Selama Lockdown, Aktivitas Petir di Dunia Berkurang

Sejak virus corona merebak, berbagai negara mulai melakukan karantina wilayah atau lockdown untuk mencegah penularannya ...

Editor: Muliadi Gani
(pixabay
Ilustrasi petir 

PROHABA.CO - Sejak virus corona merebak, berbagai negara mulai melakukan karantina wilayah atau lockdown untuk mencegah penularannya.

Selama upaya tersebut dilakukan di tahun 2020, ditemukan pula terjadi penurunan aktivitas petir secara global.

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa fenomena ini berkaitan dengan aktivitas manusia, saat lockdown.

Para peneliti berkata, ketika banyak negara di dunia memberlakukan lockdown, masyarakat menggunakan lebihsedikit energi, dan cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Atmospheric Environment tahun 2021, peneliti mengatakan bahwa partikel kecil di atmosfer yang disebut sebagai aerosol berkontribusi terhadap aktivitas petir.

Kegiatan yang dilakukan manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, dapat melepaskan aerosol.

Lantaran aktivitas pembakaran tersebut berkurang, maka lebih sedikit aerosol yang dilepaskan selama lockdown berlangsung.

Baca juga: Hujan Es Terbesar di Dunia Tewaskan Ratusan Orang

Sehingga, konsentrasi aerosol di atmosfer ikut menurun.

Tim telah mempresentasikan hasil studi yang menunjukkan bahwa penurunan aerosol atmosfer, terjadi bersamaan dengan penurunan aktivitas petir pada pertemuan American Geophysical Union di New Orleans bulan lalu.

Dipaparkan peneliti sekaligus ahli meteorologi fisik di Massachusetts Institute of Technology, Earle Williams timnya menggunakan tiga metode berbeda untuk mengukur aktivitas petir.

“Semua hasil menunjukkan tren yang sama, yaitu aktivitas petir berkurang terkait dengan konsentrasi aerosol berkurang,” ujarnya seperti dilansir dari Discover Magazine, Kamis (17/3/2022).

Williams menjelaskan, beberapa aerosol di atmosfer dapat mengumpulkan uap air, dan membentuk tetesan awan.

Saat terdapat lebih banyak konsentrasi aerosol, uap air di awan didistribusikan ke lebih banyak tetesan, sehingga tetesan yang berukuran lebih kecil dapat bergabung menjadi tetesan hujan yang lebih besar.

Tetesan yang lebih kecil ini tetap berada di awan dan membantu pembentukan hujan es kecil yang disebut graupel ataupun kristal es kecil.

Baca juga: Serangan Rusia Hancurkan Antonov-225, Pesawat Terbesar di Dunia Milik Ukraina

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved