Kamis, 21 Mei 2026

Berita Subulussalam

Harga Sawit Terus Anjlok, Netap Ginting: Permainan tidak Sehat PMKS

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kota Subulussalam terus anjlok dan dikhawatirkan mencapai titik terendah

Tayang:
Editor: Bakri
FOR PROHABA.CO
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh 

SUBULUSSALAM - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kota Subulussalam terus anjlok dan dikhawatirkan mencapai titik terendah.

Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kota Subulussalam, Netap Ginting, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (3/6/2022).

Dikatakan, sejak sepuluh hari terakhir harga TBS sawit di Subulussalam terus mengalami penurunan setelah sempat naik beberapa kali.

Tidak diketahui pasti penyebab penurunan itu.

Padahal pemerintah sudah membuka keran ekspor crude palm oil (CPO).

Selain itu, tender CPO sejauh ini juga dikabarkan masih stabil.

Namun fakta di lapangan, harga TBS sawit di Kota Subulussalam justru merosot setiap hari.

Berdasarkan informasi yang disharing Netap Ginting, harga TBS di semua pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) di Subulussalam setiap hari turun antara Rp 30 hingga Rp 50 per kilogram.

Baca juga: Delapan Perampok Truk Sawit di Asahan Diciduk

Baca juga: Kernet Tewas Tersengat Listrik Saat Potong Pelepah Sawit

Sejauh ini harga TBS di PMKS berkisar Rp 1.800-Rp 1.890 per kilogram.

Harga ini pun dikhawatirkan akan terus anjlok karena setiap hari terjadi penurunan.

Harga tersebut di atas merupakan pembelian di tingkat pabrik, sementara supplier dan agen membeli lebih rendah ke petani.

“Setiap hari terjadi penurunan, lagi-lagi pihak pabrik tidak mengindahkan penetapan harga TBS oleh pemerintah, kita harapkan petani harus kompak untuk mempersoalkan masalah ini,” kata Netap Di sisi lain, warga petani kelapa sawit mengaku kondisi harga sawit yang makin anjlok dan tak kunjung membaik membuat perekonomian di sana terseok.

Alasannya, mayoritas masyarakat Subulussalam selama ini mengandalkan pendapatan dari TBS karena komoditas ini satu-satunya paling banyak digeluti penduduk Kota Sada Kata itu.

Apalagi, anjloknya harga TBS bukan hanya berdampak pada petaninya namun ada sejumlah kalangan terimbas karena terkait dengan kegiatan tersebut.

Di sisi lain, harga sarana produksi pertanian khususnya kelapa sawit kini makin melambung.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved