Luar Negeri
Muda-Mudi Taiwan Persiapkan Diri Berperang Melawan Cina
Perang Ukraina telah berdampak besar di Taiwan. Akhir pekan lalu, di sebuah gedung pabrik yang tidak terpakai, setengah jam perjalanan dari Taipei,
PROHABA.CO, TAIPEI – Perang Ukraina telah berdampak besar di Taiwan.
Akhir pekan lalu, di sebuah gedung pabrik yang tidak terpakai, setengah jam perjalanan dari Taipei, wartawan BBC menyaksikan sekitar 30 anak muda mempelajari keterampilan senjata api dasar.
Senjata-senjata itu bertenaga udara terkompresi, tapi tampak identik dengan yang asli.
Perusahaan yang memberikan pelatihan ini dipimpin oleh Max Chiang.
“Sejak Februari 2022 jumlah peserta yang bergabung ke pelatihan ini melonjak 50 persen dan jumlah perempuan yang bergabung sekarang menjadi 40-50 persen dari beberapa kelas,” ucapnya.
“Orang-orang mulai menyadari kenyataan bahwa negara yang lebih kuat dapat menyerangnegara tetangganya yang lebih kecil.
Mereka melihat apa yang terjadi di Ukraina dan itu menunjukkan apa yang bisa terjadi di sini,” kata Chiang kepada BBC, Kamis (4/8/2022) lalu.
Di gedung sebelahnya, kelompok lain yang sudah lebih terampil sedang berlatih skenario pertempuran jalanan.
Grup ini berkamufl ase penuh, dengan pelindung tubuh, helm, dan peralatan komunikasi radio.
Baca juga: Cina Siapkan Operasi Militer ke Taiwan, Respons Kunjungan Ketua DPR AS
Di sebuah meja, Lisa Hsueh mengokang senjatanya.
“Kalau ketegangan kami dengan Cina berujung pada perang, saya akan melindungi diri saya dan keluarga saya.
Itulah alasan saya belajar menggunakan senjata,” katanya.
“Perempuan seperti saya tidak pergi bertempur di garis depan.
Tetapi jika perang pecah, kami akan dapat melindungi diri sendiri di rumah kami,” sambungnya.
Saat ditanya mengapa dia percaya bahwa persiapan berperang untuk Taiwan itu penting, Lisa menjawab, “Saya menghargai kebebasan kami. Kami hidup di negara demokratis.
Jadi, ini adalah hak dasar kami.
Dan kami harus menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut,” jawabnya.
Menurutnya, Cina adalah negara tanpa hak demokratis.
“Jadi saya merasa bersyukur telah dibesarkan di Taiwan,” tuturnya.
Baca juga: Cina Siapkan Operasi Militer ke Taiwan, Respons Kunjungan Ketua DPR AS
Di sisi lain, beberapa warga Taiwan mencermati narasi yang keluar dari media massa pemerintah Cina, terutama Global Times.
Mereka menyimpulkan bahwa kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan bisa berakhir dengan sangat buruk.
Beberapa pengamat Cina terkemuka yang berbasis di AS juga mengatakan hal yang sama.
Mereka menyebut kunjungan Pelosi sembrono.
Mereka juga mewanti- wanti Pemerintah AS agar tidak menyudutkan Beijing.
Namun, bukan halhal seperti itu yang dilihat warga Taiwan.
Freddy Lim pernah menjadi penyanyi musik heavy metal.
Sekarang dia menjadi anggota parlemen partai yang berkuasa di Taiwan.
Freddy sekarang selalu mengenakan potongan rambut pendek dan setelan profesional, tetapi masih terlihat tato di bawah lengan kemejanya yang rapi.
“Ada prinsip dasar bahwa kami menyambut politikus senior seperti Nancy Pelosi yang datang ke Taiwan.
Baca juga: 30 Jet Tempur Cina Terobos Zona Pertahanan Udara Taiwan
Ini sangat penting. Ini bukan provokasi terhadap Cina.
Ini tentang menyambut seorang kawan dengan cara yang normal, sama seperti negara-negara lain,” katanya kepada BBC.
Padangan ini disepakati oleh semua partai politik besar di Taiwan.
Charles Chen adalah anggota parlemen untuk partai oposisi KMT (Kuomintang). Dia pernah menjadi mantan juru bicara kepresidenan.
“Saya pikir kali ini jika Ketua DPR AS Nancy Pelosi bisa datang ke Taiwan, itu akan menjadi waktu yang krusial bagi Amerika Serikat untuk menunjukkan dukungan kepada Taiwan, kepada demokrasi Taiwan,” ujarnya.
Dari sudut pandang Taiwan, kedatangan politikus paling kuat ketiga di AS itu membawa makna simbolis yang sangat besar.
Kedatangannya sekaligus bisa menormalkan kunjungan pejabat tingkat tinggi lainnya.
Taiwan berharap akan ada lebih banyak kunjungan serupa di masa depan.
Kunjungan pejabat tinggi AS yang terakhir terjadi pada 25 tahun lalu.
Namun, kunjungan Nancy Pelosi tidak mengubah fakta yang mendasar bahwa status Taiwan yang bebas dan demokratis sedang terancam.
Semakin banyak orang sadar bahwa ancaman Cina untuk menyatukan kembali Taiwan, dengan paksa bila perlu, adalah nyata.
Baca juga: Biden Angkat Senjata jika Taiwan Diserang, Cina: Jangan Ikut Campur
Semakin banyak pula yang melihat bahwa kemampuan militer Cina sekarang sudah jauh melampaui Taiwan.
Pekan lalu, Taiwan memamerkan kekuatan militernya dalam latihan selama lima hari menggunakan amunisi betulan serta manuver udara, dan angkatan laut yang disebut Han Kuang 38.
Bagi banyak pengamat, peristiwa itu adalah pertunjukan kekuatan militer modern yang mengesankan.
Namun, bagi para spesialis, itu menunjukkan seberapa jauh Taiwan ketinggalan dari Cina.
Tank, artileri, dan jet tempur Taiwan sudah tua, kapal angkatan laut mereka tidak punya sistem radar maupun rudal paling modern.
Negara ini juga tidak memiliki kapal selam modern.
Nyaris tidak ada keraguan bahwa dalam pertarungan satu lawan satu, Cina akan mengalahkan Taiwan.
Namun, apa yang akan memicu serangan Cina ke Taiwan?
Bagi Beijing, selama ini garis merahnya adalah deklarasi kemerdekaan resmi oleh Taiwan.
Charles Chen, politikus partai oposisi Kuomintang, mengatakan, pemerintahan Taiwan di bawah Presiden Tsai Ingwen dan Partai Progresif Demokratik (DPP) semakin dekat dengan ancaman itu.
“Syarat Cina untuk menyerang Taiwan barangkali saat mereka percaya bahwa Taiwan akan merdeka dan tidak ada cara untuk mencegahnya,” kata Chen.
“Jadi, jika dalam pemilihan presiden berikutnya kandidat DPP menang lagi, maka mungkin Beijing akan membuat keputusan untuk melakukan serangan awal terhadap Taiwan demi mencegah kami merdeka.
” Itu adalah argumen yang agak oportunis dari sebuah partai yang kini berniat kembali berkuasa.
Namun, tetap saja itu menggambarkan garis pemisah dalam politik Taiwan.
Di satu sisi ada KMT, yang ingin meyakinkan Beijing bahwa Taiwan tidak akan mengubah status quo.
Di sisi lain terdapat orang-orang seperti Freddy Lim, yang percaya bahwa usaha menenangkan Cina telah gagal dan satu-satunya jawaban ialah memiliki pertahanan yang lebih kuat.
“Kami sudah berusaha menenangkan Cina selama beberapa dekade. Itu hanya membuktikan bahwa kami tidak bisa menenangkan mereka,” katanya.
“Setelah perang Ukraina, jajak pendapat dengan jelas menunjukkan bahwa orang-orang Taiwan mendukung pertahanan yang lebih kuat, terutama generasi muda yang menunjukkan kemauan yang kuat untuk mempertahankan negara kami sendiri,” ujarnya. (BBC/Kompas.com)
Baca juga: Petani Cina Boleh Bayar DP Rumah Pakai Semangka dan Bawang Putih
Baca juga: Zulfiandi, Pemain asal Bireuen Mantap dengan Madura United
Baca juga: Rumah Janda Warga Desa Geulanggang Teungoh Bireuen Terbakar, Begini Kronologi Kejadiannya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Saya-akan-melindungi-diri-saya-sendiri-dan-keluarga-saya-kata-Lisa-Hsueh.jpg)