Tahukah Anda
Ada Lima Mitos tentang Gula, Apa Saja?
Minuman dan makanan manis menjadi pilihan kudapan menarik bagi siapa saja. Ketika senang, kita ingin makan manis dan saat merasa sedih, sebagian orang
PROHABA.CO - Minuman dan makanan manis menjadi pilihan kudapan menarik bagi siapa saja.
Ketika senang, kita ingin makan manis dan saat merasa sedih, sebagian orang juga melampiaskannya dengan makanan manis mengandung banyak gula.
Walaupun begitu, makanan manis tinggi gula sering disebut tidak sehat.
Berbagai opini dan asumsi tentang gula pun bermunculan sehingga banyak mitos yang tidak benar mengenai si pemanis makanan atau minuman ini.
Lalu, apa saja mitos tentang gula?
1. Gula bersifat adiktif
Beberapa ahli berpendapat bahwa gula bersifat adiktif.
Pendapat ini berdasar pada sebuah narasi yang menyebutkan bahwa gula menyebabkan efek seperti obat pada hewan.
Efek yang dimaksud adalah keinginan untuk memakan kudapan manis, ketagihan, hingga efek opioid.
Sayangnya, lebih banyak penelitian yang mematahkan narasi tersebut.
Baca juga: Enam Mitos Menyusui Ini Bisa Hambat ASI Eksklusif, Tak Boleh Makan Ikan hingga Hindari Kopi
Kondisi seperti ketagihan terhadap gula ternyata hanya terjadi dalam angka yang rendah pada pasien obesitas.
Namun, bukanlah mitos apabila efek gula sebenarnya adalah dapat menimbulkan rasa ingin makan lebih banyak, melebihi yang dapat diterima tubuh.
Selain itu, gula memang menimbulkan efek psikologis, seperti menimbulkan rasa bahagia, tetapi bukan ketagihan.
2. Gula membuat anak hiperaktif
Pernah mendengar istilah “sugar rush” pada anak?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Gula-bahan-makanan-yang-sering-dianggap-sumber-penyakit.jpg)