Berita Aceh Besar

Hakim MS Jantho Hukum 150 Bulan Penjara Pemerkosa Anak

Mahkamah Syar’iyah (MS) Jantho, Aceh Besar, menjatuhkan hukuman 150 bulan penjara kepada HB (23) karena terbukti melakukan rudapaksa/pemerkosaan ...

Editor: Muliadi Gani
Serambinews.com
HB (23), pelaku pemerkosaan diapit oleh personel Unit PPA Satuan Reskrim Polresta Banda Aceh, setelah diringkus pada Jumat (25/3/2022). 

PROHABA.CO, JANTHO - Mahkamah Syar’iyah (MS) Jantho, Aceh Besar, menjatuhkan hukuman 150 bulan penjara kepada HB (23) karena terbukti melakukan rudapaksa/pemerkosaan terhadap anak di bawah umur.

Amar putusan itu dibacakan majelis hakim pada 24 Oktober 2022 lalu oleh majelis hakim yang diketuai Muhammad Redha Valevi dengan hakim anggota masing-masing Fadhlia dan Putri Munawarah.

“Menyatakan terdakwa HB terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan jarimah pemerkosaan terhadap anak, sebagaimana dalam putusan primair,” kata hakim ketua seperti dilihat Prohaba dalam salinan putusan MS Jantho, Rabu (26/10/2022).

Majelis hakim menjatuhkan putusan terhadap HB setelah mempertimbangkan asas keadilan hukum dan perlindungan terhadap anak, serta bukan berdasarkan unsurpembalasan dendam kepada terdakwa.

Menurut kronologi kejadian yang dalam putusan tersebut, kejadian pemerkosaan itu terjadi pada 24 Januari lalu di rumah korban di salah satu kecamatan di Aceh Besar.

Baca juga: MS Jantho Hukum Pelaku Pelecehan Seksual Anak 150 Bulan

Pada saat itu korban yang masih berusia 9 tahun, baru selesai mandi.

Saat itu terdakwa pergi ke rumah korban dengan tujuan untuk memperbaiki sepeda motor ayah korban.

Terdakwa yang juga anak kepala desa gampong setempat memiliki usaha bengkel.

Kejadian pemerkosaan itu terjadi pada sore hari, saat ayah korban pergi ke luar untuk membeli kopi.

Kemudian terdakwa, pergi ke kamar mandi dengan alasan hendak buang kecil.

Saat itu, terdakwa melihat korban ke luar dari kamar mandi dan pelaku meraba seluruh tubuh korban dan melakukan pelecehan seksual.

“Aksi terdakwa terhenti ketika ayah korban kembali dari membeli kopi.

Lalu terdakwa memberi tahu kepada korban agar tidak memberi tahu perbuatannya kepada orang lain.

Baca juga: Mahkamah Syariah Blangpidie Vonis Bebas Terdakwa Pemerkosa Anak, Keluarga Meradang

Baca juga: Polresta Banda Aceh Tangkap Lagi Predator Anak Setelah Setahun Bebas dari Penjara

Korban saat itu tidak bisa melawan dikarenakan kondisi rumah kosong,” jelas hakim.

Aksi itu terbongkar setelah korban menceritakan kepada orang tuanya.

Tak terima atas tindakan terdakwa, orang tua korban pun membuat laporan ke polsek setempat.

Bukti pelecehan seksual itu dikuatkan setelah adanya bukti visum et repertum selaput dara korban yang mengalami luka robek akibat benda tumpul.

Menimbang bahwa terdakwa HB telah menjalani masa tahanan, maka sesuai ketentuan Pasal 23 ayat (2) Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat, lamanya masa penangkapan dan/atau penahanan dikurangkan seluruhnya dari ‘uqubat yang dijatuhkan, kecuali ‘uqubat hudud.

“Maka sebagaimana ketentuan Pasal 194 ayat (3) Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat, majelis hakim memandang perlu menetapkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan,” ujar hakim. (i)

Baca juga: Tega, Wanita Penyandang Disabilitas Dirudapaksa oleh Pria Asal Aceh Besar, Pelaku Akhirnya Diringkus

Baca juga: 2 dari 19 Sampo Unilever yang Ditarik di AS Punya Izin Edar di Indonesia, Tapi Tak Ada di Pasaran

Baca juga: Kereta Api Baru Jepang Marunouchi 2023 Apa Yang Baru?

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved