Bahla, Kota Oasis Kuno Dikenal Kota Jin di Oman
Di Kota Bahla ada kepercayaan tak tergoyahkan mengenai jin, yang digambarkan sebagai makhluk gaib yang berbeda dari manusia dan malaikat, tetapi suka
PROHABA.CO, BAHLA - Jauh di pedalaman Oman yang kering, Bahla terkenal sebagai kota jin.
Kota oasis kuno ini sering memikat wisatawan karena cerita-cerita mistisnya, mulai dari manusia yang berubah jadi keledai hingga hyena yang mulutnya mengeluarkan api dan suka memangsa unta.
Bahla, kota tenang yang dipenuhi kebun-kebun palem dan rumah-rumah berdinding batako yang tak berpenghuni, terletak sekitar 200 kilometer dari barat daya ibu kota Oman, Muscat.
Kota di provinsi Al-Dakiliya ini dikenal dunia karena pintu gerbang gandanya yang megah dan menjadi salah satu warisan dunia UNESCO.
Di Kota Bahla ada kepercayaan tak tergoyahkan mengenai jin, yang digambarkan sebagai makhluk gaib yang berbeda dari manusia dan malaikat, tetapi suka hidup berdampingan dengan manusia.
Hamad al-Rabaani, seorang pemandu wisata, termasuk satu di antara mereka yang percaya.
Ia bahkan percaya bahwa kekuatan supranatural membangun tembok sepanjang 13 kilometer di sekeliling kota dalam satu malam, untuk melindungi kota dari penjajah.
Baca juga: Iran Sita Kapal Tanker Minyak Menuju AS di Teluk Oman
Jauh di pedalaman Oman yang gersang, Bahla, sebuah kota oasis kuno, penuh dengan mitos tentang pemakan unta, hyena bermulut api, dan manusia yang berubah menjadi keledai, sebuah reputasi keajaiban dan misteri yang masih ada sampai sekarang.
Bahla juga dikenal sebagai kota jin.
“Menurut legenda, ada dua saudara perempuan, keduanya jin yang tinggal di Bahla.
Satu dari mereka membangun tembok untuk melindungi kota dari bandit, sedangkan yang lain menciptakan sistem irigasi kuno untuk pertanian,” jelasnya.
Karena begitu sering terdengar cerita-cerita misterius di sana, tak heran banyak di antara mereka yang pernah berkunjung ke sana ikut terpengaruh.
“Orang-orang cenderung memercayai legenda jin di kota itu karena begitu banyak ceritanya.
Cerita-cerita itu bahkan meresap ke pikiran sebagian orang, terutama mereka yang berusia di atas 70 tahun, atau orang-orang yang belum hidup dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Baca juga: Imigrasi Pastikan Tak Ada Imigran Ilegal dan Rombongan Rohingya yang Mendarat di Sabang
Merekalah yang umumnya percaya pada cerita-cerita itu,” jelas Rabaani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Sebuah-foto-menunjukkan-pemandangan-Benteng-Bahla-1.jpg)