Jumat, 1 Mei 2026

Konflik Palestina vs Israel

Serangan Houthi di Laut Merah Hambat Kondisi Ekonomi Mesir, Pendapatan Terusan Suez Anjlok

Serangan milisi Houthi di Laut Tengah yang tak kunjung mereda, telah menghambat sektor bisnis pasar global hingga pendapatan jalur Terusan Suez

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
Maritime Executive
Pendapatan Mesir dari Terusan Suez turun drastis pasca serangan militer yang dilancarkan kelompok bersenjata Houthi atas kapal-kapal niaga yang melintas di Laut Merah. Foto: Maritime Executive 

PROHABA.CO, KAIRO – Serangan yang dilakukan oleh pemberontak Houthi Yaman di Laut Merah telah menyebabkan perusahaan pelayaran menghindari Terusan Suez, yang menjadi sumber utama pendapatan Mesir sementara negara itu berjuang menghadapi krisis ekonomi yang parah.

Pendapatan Terusan Suez Mesir anjlok hampir setengahnya sepanjang Januari, kata seorang pejabat tinggi, setelah serangan militan Houthi terhadap kapal-kapal Laut Merah. 

Pendapatan terjun bebas, salah satunya dipicu nasib perusahaan-perusahaan pelayaran besar menghindari jalur air tersebut.

Serangan milisi Houthi di Laut Tengah yang tak kunjung mereda, telah menghambat sektor bisnis pasar global hingga pendapatan jalur Terusan Suez yang ada di Mesir menyusut 40 sampai 50 persen.

Menurut laporan yang dirilis Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, pendapatan di Terusan Suez yang merupakan mesin uang utama Mesir dalam setahun bisa menghasilkan pemasukan mencapai 10 miliar dolar AS.

Namun sejak November lalu, tepatnya pasca milisi Houthi mulai melancarkan serangan terhadap kapal kargo yang terafiliasi dengan Israel di Laut Merah ratusan kapal dagang mulai menangguhkan semua perjalanan menuju Terusan Suez dengan alasan keselamatan.

Pejabat Houthi beranggapan blokade dan penyerangan yang mereka lakukan adalah bentuk protes atas agresi Israel di Gaza, Palestina yang telah menewaskan lebih dari 29.000 jiwa.

Baca juga: Houthi Yaman Kembali Serang Kapal Dagang Inggris di Laut Merah

Akan tetapi akibat serangan tersebut, para pengapal global terpaksa untuk mengalihkan rute menuju jalur Semenanjung Harapan yang berada di Afrika dan meninggalkan jalur perdagangan paling kondang di dunia yakni Terusan Suez.

PBB mengatakan pada akhir Januari jumlah keseluruhan kapal yang melewati Terusan Suez, yang menghubungkan Laut Merah dengan Mediterania telah menyusut sebanyak 42 persen.

Tak hanya itu jumlah transit kapal kontainer mingguan di Terusan Suez juga dilaporkan turun 67 persen

Sementara lalu lintas kapal tanker turun 18 persen, transit kapal kargo curah yang membawa biji-bijian dan batu bara anjlok enam persen dan transportasi gas dan minyak berhenti total.

“Anda lihat Terusan Suez, yang biasanya menghasilkan hampir 10 miliar dolar AS per tahun bagi Mesir, kini pendapatan itu telah menurun sebesar 40 hingga 50 persen dan Mesir harus terus membayar perusahaan dan negara mitra,” kata Presiden Al-Sisi.

Baca juga: Wow! Mesir Kerahkan 40 Tank ke Perbatasan Gaza, Ini Tujuannya

Mesir Terancam Krisis

Sebagai informasi Terusan Suez sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan via laut paling penting di seluruh dunia.

Dibangun 1869, rute perdagangan yang memiliki panjang 193 km ini dapat mengumpulkan sekitar 8,6 miliar dolar AS untuk Mesir pada tahun fiskal 2022-2023.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved