Jumat, 1 Mei 2026

Tahukah Anda

Bumi Tak Lagi Hanya Memanas, tapi Mendidih, Ini Alasannya

Kenaikan suhu Bumi akibat pemanasan global memicu intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem. Parahnya, Bumi saat ini bukan lagi memanas, melainkan

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
FOTO: SHUTTERSTOCK
Ilustrasi cuaca panas. Belakangan ini cuaca di Indonesia terasa tidak menentu. 

PROHABA.CO - Kenaikan suhu Bumi akibat pemanasan global memicu intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem. Parahnya, Bumi saat ini bukan lagi memanas, melainkan mendidih.

Termosfer Bumi baru-baru ini mencapai suhu puncak dalam 20 tahun terakhir dan alasan salah satu lapisan atmosfer tersebut panas mendidih.

Termosfer adalah lapisan atmosfer kedua paling tinggi dari permukaan Bumi.

Lapisan yang juga dikenal dengan nama ionosfer ini adalah perisai Bumi karena menyerap sebagian besar dari sinar ultraviolet Matahari.

Selain itu, ion yang terbentuk di termosfer digunakan oleh manusia sebagai pemantul sinyal radio dari satu belahan Bumi ke belahan lain.

Suhu termosfer diperkirakan akan terus memanas setelah mencapai suhu puncaknya.

Seperti diketahui, baru- baru ini di sosial media (sosmed) banyak yang mengangkat isu mengenai Bumi memasuki era pendidihan global.

Baca juga: Depresi sebagai Tantangan Global dan Upaya Pencegahan yang Perlu Dilakukan

Seperti apa pendidihan global yang dimaksud? Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyatakan Bumi telah memasuki era pendidihan global, bukan hanya pemanasan global.

Hal tersebut ditandai dengan rekor suhu terpanas yang terjadi secara berturut-turut pada tahun 2023.

Beberapa bulan terpanas dalam sejarah tercatat terjadi di tahun tersebut, seperti: Juli 2023 menjadi bulan terpanas sepanjang sejarah manusia.

Agustus 2023, memrupakan bulan dengan tiga bulan terpanas dan es laut Antartika di titik terendah.

September 2023 menjadi bulan terpanas dalam catatan sejarah.

Istilah “pendidihan global”digunakan karena kenaikan suhu bumi yang jauh lebih ekstrem dibandingkan dengan pemanasan global biasa.

WMO juga memperingatkan kemungkinan 66 persen bahwa setidaknya dalam satu dari lima tahun ke depan, suhu global akan melebihi ambang batas 1,5 °C di atas tingkat praiindustri, di atas ambang batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Baca juga: Apa Saja Dampak Cuaca Panas terhadap Fisik dan Mental Manusia?

Baca juga: Adaptasi Hewan di Kutub: Strategi Bertahan Hidup di Bawah Suhu Ekstrem

Akibat suhu yang tinggi, terdapat banyak dampak pemanasan global yang terliat selama beberapa bulan terakhir seperti, kekeringan menjadi lebih intens dan parah, kebakaran hutan besar-besaran terjadi lebih awal dan di luar musim, kematian massal ikan dan pemutihan karang, dikutip dari Active Sustainability.

Para ilmuwan menyingkapkan bahwa peningkatan emisi bahan bakar fosil dan kelambanan dalam menangani krisis iklim adalah faktor utama di balik pendidihan global ini.

Situasi ini membunyikan alarm bahaya bagi seluruh umat manusia.

Diperlukan tindakan global yang ambisius dan segera untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencegah konsekuensi yang lebih buruk.

Langkah penanganan pendidihan global Sekejen PBB tersebut menghimbau para pemimpin “harus mengambil langkah dalam aksi iklim dan keadilan iklim”, khususnya mereka yang berasal dari negara-negara industri terkemuka G20, yang bertanggung jawab atas 80 persen emisi global.

Guterres menyoroti perlunya target emisi nasional baru dari anggota G20 dan mendesak semua negara untuk berupaya mencapai emisi nol bersih pada pertengahan abad ini.

PBB mengatakan, semua aktor harus bersatu untuk mempercepat transisi yang adil dan merata dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, sekaligus menghentikan ekspansi minyak dan gas ,serta menghapuskan batu bara pada tahun 2040.

(Kompas.com)

Baca juga: Ada 8 Cara Menjaga Kesehatan Saat Cuaca Panas Ekstrem, Berikut Penjelasannya

Baca juga: Arab Saudi Dilanda Cuaca Panas Ekstrem, Namun Jama’ah Haji Tidak Putus Semangat

Baca juga: Suhu Laut Makin Panas, Apa Dampaknya bagi Kehidupan?

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bumi Tak Lagi Hanya Memanas tapi "Mendidih", Apa Maksudnya?", 

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved