Sabtu, 11 April 2026

Tahukah Anda

Pembuatan Obat di Masa Depan Bisa Jadi di Luar Angkasa

Obat generasi berikutnya di masa depan bisa jadi akan diproduksi di luar angkasa. Langkah ini sebenarnya bahkan sudah mulai dirintis.

Editor: Muliadi Gani
Image Credit: NASA/ESA–T. Pesquet
Ilustrasi Stasiun Luar Angkasa Internasional(Image Credit: NASA/ESA–T. Pesquet) 

PROHABA.CO - Kemajuan terbaru dalam pesawat ruang angkasa generasi berikutnya telah menghidupkan kembali kegembiraan masyarakat terhadap kehidupan di luar Bumi.

Namun, untuk menjaga kesehatan dan keselamatan manusia di lingkungan luar angkasa yang tidak bersahabat, inovasi dalam manufaktur farmasi dan pengiriman obat patut mendapat perhatian segera.

Kondisi terkini penyediaan obat-obatan di luar angkasa dieksplorasi, disertai dengan pandangan ke depan mengenai masa depan manufaktur farmasi di luar angkasa.

Obat generasi berikutnya di masa depan bisa jadi akan diproduksi di luar angkasa.

Langkah ini sebenarnya bahkan sudah mulai dirintis.

Tanggal 21 Februari lalu, sebuah kapsul selebar satu meter mendarat di gurun Utah, Amerika Serikat, setelah delapan bulan mengorbit.

Muatannya adalah sejumlah Ritonavir, obat antivirus yang digunakan dalam pengobatan HIV dan Covid-19.

Baca juga: Benda Luar Angkasa Jatuh dan Tembusi Atap Rumah Warga, NASA Terpaksa Turun Tangan

Upaya memproduksi obat di luar angkasa ini dilakukan oleh perusahaan rintisan asal California bernama Varda Space Industries.

Misi ini bertujuan untuk menunjukkan potensi pembuatan obat-obatan farmasi secara otomatis di luar angkasa, yang mungkin membuka jalan bagi metode pengembangan obat-obatan yang baru dan lebih efisien.

Astronaut saat berada di luar angkasa. Astronaut NASA diklaim paling berpengalaman soal isolasi dan karantina mandiri selama berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Astronaut saat berada di luar angkasa. Astronaut NASA diklaim paling berpengalaman soal isolasi dan karantina mandiri selama berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). (FOTO: NASA)

Misi kemudian diluncurkan dengan roket SpaceXFalcon 9 pada Juni 2023.

Kapsul itu sendiri memiliki berat sekitar 90 kg dan secara teoretis mampu menghasilkan hampir 100 kg produk selama beberapa bulan dihabiskan di orbit.

Namun, untuk misi awal ini, hanya sejumlah kecil Ritonavir yang diproduksi dalam uji coba 27 jam.

Analisis dalam penerbangan menunjukkan bahwa proses manufaktur berjalan sesuai rencana.

Akan tetapi mengapa harus susah payah untuk membuat obat di luar angkasa?

Baca juga: Kesal karena Dipecat, Karyawan Hapus Server hingga Perusahaan Rugi Rp11 Miliar

Mengutip Sciencefocus, Selasa (11/6/2024) selama beberapa dekade terakhir, percobaan di Stasiun Luar Angkasa Internasional dan wahana lainnya telah membuktikan bahwa produksi obat-obatan farmasi dalam jumlah kecil dapat dilakukan di luar angkasa.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved