Jumat, 24 April 2026

Benarkah Konten Kesehatan Mental Dimedia Sosial Mengakibatkan Self Diagnose, Ini Faktanya

Mudahnya mengakses konten edukasi kesehatan mental dimedia sosial, membuat orang mempercayai sebuah informasi dan bahkan melakukan self diagnose

Penulis: Nurul Husna | Editor: Muliadi Gani
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi gangguan kesehatan mental 

PROHABA.CO - Kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan psikologis yang memugkinkan seseorang untuk mengatasi tekanan hidup dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik.

Kesehatan mental yang terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, gangguan kemampuan berfikir, serta susah mengendalikan emosi.

Ini rentan terjadi kepada pelajar yang kehidupan sehari-harinya dekat dengan media sosial.

Sehingga mudah untuk mendapatkan informasi yang tidak terfilter contoh seperti berita negatif yang membuat marah, cemas, atau takut yang menyebabkan lebih mudah terkena mental healty. 

Semakin majunya teknologi informasi tersebut , kesadaran akan kesehatan mental juga semakin meningkat.

Hal ini pun menjadi kabar baik, karena mulai banyak masyarakat Indonesia yang peduli akan kesadaran kesehatan mental. 

Baca juga: Bangun Tidur Langsung Buka HP? Ini Bahaya yang Mengintai Kesehatan Mental dan Fisik Anda

Namun yang menjadi masalahnya banyak dari mereka yang mudah percaya tanpa melihat terlebih dahulu kebenaran dan tidak lanjut berkonsultasi terhadap ahli.

 “Di satu sisi memang sangat baik melihat masyarakat Indonesia mulai mencari informasi tentang kesehatan mental, tapi faktanya enggak banyak yang berlanjut minta pertolongan pada ahlinya,” ujar Rizky dalam Peluncuran Program Kesehatan Mental TikTok bersama WHO di Indonesia, di TikTok | Pos Aja! Creator House, Jakarta Barat, dikutip dari kompas.com (20/11/2024).

Kemudahan mengakses konten edukasi kesehatan mental di media sosial, membuat banyak orang mudah mempercayai sebuah informasi dan bahkan melakukan self diagnose.

Masalahnya, tak semua konten yang ada di media sosial berangkat dari penjelasan ahli atau berdasar dari hasil riset ilmiah.

“Banyak orang yang membuat konten kesehatan hanya berdasar pada pengalaman pribadi hidupnya, padahal hal tersebut tidak bisa digeneralisasikan pada setiap orang,” kata dia. 

Baca juga: Depresi Diam-Diam Mengancam Dunia Kesehatan Mental, Ini Gejala-Gejala yang Perlu Anda Ketahui

Bahkan menurut hasil riset dari komunitas pencegahan bunuh diri Into The Light tahun 2021 lalu mengungkap, hanya terdapat 30 persen orang yang tergerak secara mandiri untuk menemui psikolog atau layanan kesehatan mental lainnya. 

“Kami pernah melakukan riset pada Mei hingga Juli 2021, dari 5.200 orang itu cuma 30 persen yang benar-benar sudah menggunakan layanan kesehatan mental,” jelas Rizky.

Ia menegaskan, seharusnya kedua hal tersebut berjalan selaras agar masyarakat Indonesia tidak termakan informasi yang salah. 

Tak cuma itu, pengguna media sosial juga harus lebih bijak dan selektif dalam mengonsumsi konten yang ada di platform media sosial yang digunakan sehari-hari. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved