Rabu, 22 April 2026

Tahukah Anda

Menurut Studi, Hampir Seperempat Spesies Air Tawar di Dunia Terancam Punah

Sebuah penelitian besar yang meneliti kesehatan hampir 24.000 spesies air tawar menemukan bahwa hampir seperempat dari mereka terancam punah.

Editor: Muliadi Gani
iStockphoto/mel-nik
ILUSTRASI IKAN DANAU - Ilustrasi ini dari iStockphoto/mel-nik (6/2/2025). Sebuah penelitian besar yang meneliti kesehatan hampir 24.000 spesies air tawar menemukan bahwa hampir seperempat dari mereka terancam punah. 

Hilangnya lahan basah tidak hanya mengancam flora dan fauna yang hidup di sana, tetapi juga membatasi kemampuan kita dalam menghadapi perubahan iklim dan mencegah banjir.

Selain itu, sumber air tawar juga menghadapi berbagai ancaman seperti pengambilan air berlebihan, pembangunan bendungan yang mengurangi habitat bagi satwa liar, serta pencemaran limbah industri dan plastik.

Baca juga: Peneliti Temukan Hewan Purba yang Sempat Dikira Punah di Pegunungan Papua

Misalnya, Sungai Colorado kini tidak lagi mencapai laut akibat eksploitasi berlebihan.

Dr Topiltzin Contreras MacBeath, salah satu peneliti dalam studi ini, menegaskan bahwa penting untuk memasukkan data spesies air tawar ke dalam strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya air.

“Investasi yang lebih besar dalam pengukuran dan pemantauan spesies air tawar diperlukan untuk memastikan bahwa tindakan konservasi dan perencanaan penggunaan air didasarkan pada informasi terbaru,” katanya.

Sekitar 10?ri semua spesies di dunia bergantung pada ekosistem air tawar.

Studi ini menyoroti empat kelompok utama yang paling terkait dengan air tawar, yaitu dekakoda, odonata, moluska, dan ikan. 

Dekakoda adalah kelompok krustasea yang mencakup kepiting, lobster, udang karang, udang, dan rajungan.

Sekitar 30?ri spesies dekakoda air tawar terancam punah, terutama akibat pencemaran dari aktivitas pertanian.

Pestisida yang digunakan untuk membasmi serangga juga berdampak buruk pada kepiting dan udang yang hidup di sungai dan danau. 

Odonata, kelompok serangga yang mencakup capung dan capung jarum, menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam bentuk larva di air tawar.

Mereka sangat rentan terhadap kehilangan habitat, dengan lebih dari setengah spesies yang terancam punah akibat konversi lahan basah menjadi lahan pertanian.

Sementara itu, informasi mengenai moluska air tawar seperti siput, remis, dan tiram masih kurang tersedia.

Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari mereka juga berada dalam bahaya kepunahan.

Karena ekosistem air tawar yang luas dan saling terhubung, upaya untuk menghentikan penurunan populasi spesies air tawar bukanlah hal yang mudah. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved