Jumat, 24 April 2026

Tahukah Anda

Apa Perbedaan Racun dan Bisa di Dunia Satwa?

Meski terdengar mirip, istilah “racun” (poison) dan “bisa” (venom) sebenarnya tidak bisa dipertukarkan. Perbedaan utamanya terletak bukan pada zatnya

Editor: IKL
LIVE SCIENCE
HEWAN BERACUN - Katak biru Dendrobates tinctorius azureus, salah satu hewan beracun. 

Apa Perbedaan Racun dan Bisa di Dunia Satwa?

PROHABA.CO - Kita semua tahu bahwa alam bisa menyimpan bahaya tersembunyi. Mulai dari ular berbisa hingga buah beri beracun, keduanya bisa mengancam nyawa. 

Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa kita menyebut ular sebagai “berbisa” dan buah beri sebagai “beracun”? Bukankah keduanya mengandung zat beracun?
 
Meski terdengar mirip, istilah “racun” (poison) dan “bisa” (venom) sebenarnya tidak bisa dipertukarkan. Perbedaan utamanya terletak bukan pada zatnya, melainkan pada cara zat tersebut masuk ke tubuh korban. 

“Kalau kamu menggigitnya dan kamu sakit, itu berarti beracun. Namun, kalau dia menggigit atau menyengatmu dan kamu sakit, maka itu berbisa,” kata Jason Strickland, ahli biologi dari University of South Alabama yang mempelajari tentang bisa.

Tiga kategori Secara sederhana, bisa adalah zat beracun yang disuntikkan secara aktif oleh hewan,seperti lewat gigitan atau sengatan. 

Sedangkan racun bekerja secara pasif dalam artian seseorang bisa sakit jika menyentuh atau menelan zat tersebut.
Namun, ilmuwan telah mengusulkan satu kategori tambahan dalam Jurnal Biological Reviews tahun 2013: toksungen (toxungen). 

Ini adalah zat beracun yang disemprotkan atau dilemparkan secara aktif, tanpa proses penyuntikan langsung.

Contohnya? Ular kobra penyembur seperti Naja nigricollis (kobra leher hitam) dan Naja philippinensis (kobra Filipina) menyemprotkan racun dari taring mereka untuk pertahanan, sekaligus menyuntikkan bisa saat berburu. 

Baca juga: Bank Aceh Perkuat Kompetensi 56 Karyawan Menyikapi Peningkatan Rahn Emas

Artinya, mereka adalah hewan yang bersifat venomous dan toxungenous sekaligus. Begitu juga salamander api (Salamandra salamandra) yang memiliki racun pada kulit dan juga menyemprotkannya dari mata sehingga menjadikannya poisonous dan toxungenous.

Evolusi zat beracun Zat beracun telah menjadi bagian dari evolusi panjang antara predator dan mangsa. Bisa (venom) telah berevolusi secara independen lebih dari 100 kali di berbagai spesies, mulai dari ular, kalajengking, laba-laba, hingga siput laut (cone snails).

Bahkan, diperkirakan sekitar 15 persen dari semua spesies hewan di Bumi memiliki bisa.

Jenis-jenis zat ini juga sangat beragam secara biologis, yakni:
- neurotoksin (seperti dalam bisa ular mamba) menyerang sistem saraf; dan - hemotoksin (seperti pada bisa ular copperhead) menyerang darah dan jaringan tubuh.

Menariknya, ular derik Mojave (Crotalus scutulatus) punya keduanya sehingga menjadikannya sangat berbahaya.

“Ini bisa menjadi spesies yang sangat tidak menyenangkan jika menggigitmu,” kata Strickland. Cara kerja toksin Tujuan dari zat beracun ini bervariasi, tergantung spesies dan strategi bertahan hidupnya: Semut berbisa mengandalkan bisanya sebagai mekanisme pertahanan, menimbulkan rasa sakit instan. Ular menggunakan bisa untuk melumpuhkan mangsa sebelum memakannya.

Baca juga: Bank Syariah Matahari Milik Muhammadiyah Resmi Beroperasi, Sudah Kantongi Izin OJK 

Di sisi lain, racun pada beberapa hewan bisa mematikan hanya dengan sekali konsumsi. Contohnya, katak panah beracun dari genus Phyllobates menghasilkan batrakotoksin, yang bisa menghentikan aktivitas jantung dan saraf. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved