Khutbah Jumat
Menyelami Hakikat Kemudahan Islam
Islam bukan agama tanpa beban, tapi agama yang syariatnya tidak melebihi batas kemampuan manusia secara wajar.
Tgk. H. Muhammad Iqbal Jalil, M.Ag
PROHABA.CO - Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kemudahan.
Ketika Allah menurunkan syariat kepada umat Nabi Muhammad saw, tidaklah Allah menginginkan kesulitan, tapi justru kemudahan dan kelapangan bagihamba-hamba-Nya.
Dalam AlQur’an Surat al-Baqarah ayat 185, Allah menegaskan: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
Namun hadirin sekalian, jangan sampai kita salah paham. Mudah yang dimaksud bukan berarti Islam itu bebas dari aturan.
Bukan berarti kita bisa melakukan apa saja semaunya dengan alasan ‘agama ini mudah.’
Islam bukan agama tanpa beban, tapi agama yang syariatnya tidak melebihi batas kemampuan manusia secara wajar.
Karena itu, dalam kondisi yang memang berat dan sulit, syariat memberikan rukhsah atau keringanan.
Contohnya, ketika seseorang dalam keadaan safar, maka ia dibolehkan menjamak dan mengqashar shalat.
Shalat Zuhur dan Ashar boleh dijadikan satu waktu, begitu pula Magrib dan Isya, demi memudahkan perjalanan.
Shalat yang biasanya empat rakaat, boleh diringkas menjadi dua.
Bahkan orang yang sakit, jika tak sanggup berdiri, boleh shalat sambil duduk, dan jika tak sanggup duduk, boleh sambil berbaring.
Ini semua adalah bukti nyata bahwa syariat Islam memberikan kemudahan.
Ada tiga ciri utama syariat Nabi Muhammad saw yang membedakannya dari syariat nabi-nabi sebelumnya:
Pertama, Tidak mengandung kesempitan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Masjid-Agung-Al-Falah-KotaSigli.jpg)