Kamis, 9 April 2026

Berita Banda Aceh

Akademisi UIN Ar-Raniry Soroti Fenomena Selebgram Lelaki Feminin di Aceh

Fenomena konten media sosial yang menampilkan lelaki dengan gaya feminim atau gemulai (dikenal dengan istilah boti) kini menjadi sorotan

Editor: Muliadi Gani
ISTIMEWA
HANIFAH - Akademisi sekaligus Sekretaris Prodi KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Hanifah. Akademisi UIN Ar-Raniry Soroti Selebgram Aceh Konten Lelaki Feminim, Penghasilannya Ikut Haram? 

Laporan Sara Masroni | Banda Aceh

PROHABA.CO, BANDA ACEH - Fenomena konten media sosial yang menampilkan lelaki dengan gaya feminim atau gemulai (dikenal dengan istilah boti) kini menjadi sorotan kalangan akademisi di Aceh.

Salah satunya datang dari Hanifah, dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Dalam riset doktornya yang berjudul “Anomali Komodifikasi Konten Lelaki Feminim Selebritis Instagram Aceh dalam Perspektif Budaya dan Agama”, Hanifah menegaskan bahwa penghasilan yang diperoleh dari konten tersebut dinilai haram karena bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

“Penghasilan yang mereka dapat ikut haram karena dalam Islam ada istilah al-wasilah tubi'u al-ghayah (sebuah perantara akan mengantarkan kepada tujuan).

Meskipun hanya akting atau pura-pura, itu tetap bertentangan dengan kodrat,” ujarnya Hanifah dikutip dari Serambinews.com, Minggu (21/9/2025).

Tak hanya pelaku, Hanifah juga menyoroti netizen yang memberikan apresiasi melalui komentar positif maupun candaan di media sosial.

Menurutnya, itu bisa diartikan sebagai bentuk dukungan terhadap kemungkaran.

Mengacu pada hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ahmad, ia mengingatkan: “Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki.”

Lebih jauh, Hanifah menyebut bahwa para selebgram boti kerap menampilkan diri sebagai pribadi religius, seperti beribadah ke masjid atau umrah. 

Baca juga: Tiga Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juarai Olimpiade Sejarah Islam Nasional

Baca juga: Satpol PP Banda Aceh Amankan Gepeng di Simpang Jambo Tape

Hal ini dinilai menciptakan kebingungan di tengah publik karena munculnya citra keagamaan yang dibungkus dalam perilaku menyimpang.

“Mereka menciptakan ruang liminal feminin tapi religius sehingga membuat pengikutnya bingung.

Ini bisa menormalkan perilaku yang sebenarnya dilarang,” jelasnya.

Sebagai Sekretaris Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Hanifah menyampaikan kekhawatiran jika fenomena ini dibiarkan berlarut.

Terlebih, Aceh merupakan daerah yang menerapkan syariat Islam.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved