Minggu, 10 Mei 2026

Khutbah Jumat

Musibah, Ujiankah atau Azab?

Orang yang menganggap bahwa musibah sebagai azab dengan mengaitkan musibah dengan kebijakan yang disengaja untuk merusak alam

Tayang:
Editor: IKL
FOR PROHABA
MASJID DAN KHATIB - Masjid Al Ikhlas Ie Alang, Kuta Cot Glie, Aceh Besar. Anggota MPU Aceh Besar, Ustaz Afrizal Sofyan MPd (insert), yang menjadi khatib Jumat di Masjid Al Ihklas Kuta Cot Glie pada hari ini, 12 Desember 2025, akan menyampaikan khutbah dengan judul ‘Musibah, Ujiankah atau Azab?.’ 

Mukaddimah
Hujan ekstrem dan badai di akhir November 2025 menyebabkan  banjir bandang dan longsor besar di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 

Menurut data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) banjir dan longsor telah memorak-porandakan ribuan fasilitas publik. 

Banyak wilayah terisolasi seperti di Aceh, akses ke Bener Meriah dan Aceh Tengah terputus total. 

Jembatan rusak di puluhan lokasi, jalan putus, serta longsor di banyak titik. 

Dari data yang sama menyebut kan total korban tewas akibat bencana banjir bandang dan longsor di ketiga provinsi di atas mencapai 914 orang dan masih banyak korban hilang yang belum tercatat, misalnya 389 orang hilang di Aceh.

Musibah ujian atau azab?
Seiring dengan terjadin ya musibah ini, banyak yang mengatakan bahwa itu sebagai ujian. 

Namun, juga tidak sedikit yang berpendapat itu sebagai azab. 

Orang yang menganggap bahwa musibah sebagai azab dengan mengaitkan musibah dengan kebijakan yang disengaja untuk merusak alam untuk berbagai kepentingan dan kerakusan manusia, serta dihubungkan dengan banyak orang muslim meninggalkan shalat, berbuat mabuk, narkoba, zina, curang dalam timbangan, makan riba, menipu, menyakiti tetangga, merampas hak orang lain, korupsi, dan berbagai kemungkaran yang dilakukan secara sengaja dan secara angkuh di hadapan Allah Swt. 

Namun, sebagian lain menilainya sebagai ujian, dengan mengaitkan bahwa negeri Aceh adalah negeri syariat yang ditata dengan hukum yang berlandaskan syariat Allah Swt.  

Manakah yang benar dari keduanya?

Musibah menurut ulama
Para ulama sepakat bahwa setiap musibah tidak bisa langsung dipastikan sebagai azab, kecuali bila ada ‘nash’ (dalil khusus) dan itu tidak berlaku untuk zaman setelah Nabi Muhammad saw.

Seperti unkapan Imam Ibn Taimiyah dalam Majmû‘ al-Fatâwâ (14/305), “Musibah bagi orang beriman adalah rahmat dan penghapusan dosa, sedangkan bagi orang kafir adalah azab. 

Dan musibah itu sendiri tidak bisa dipastikan statusnya, karena tergantung keadaan pelakunya.” 

Musibah bisa menjadi azab, bila ditimpakan kepada kaum yang membangkang, disertai penegasan dari nabi atau wahyu Allah Swt. 

Seperti musibah yang Allah Swt timpakan kepada kaum ‘Ad dengan angin kencang, kaum Tsamud dengan petir, dan kaum Nuh dengan banjir besar disertai dengan wahyu Allah Swt dalam Surah Ali Imran ayat  11, “Allah menghukum mereka karena dosa-dosa mereka.

”Dan semua terjadi pada masa umat terdahulu. Namun, status ini tidak bisa dipastikan pada suatu musibah modern di masa kita sekarang ini seperti banjir bandang dan longsor yang menimpa Aceh, Sumut, dan sebagian Sumatra Barat, karena tidak ada wahyu setelah Rasulullah saw. 

Maka, musibah banjir bandang ini tidak tepat kalau disebut sebagai azab.

Musibah adalah peringatan
Imam Ibn Taimiyah kembali menegaskan dalam Majmû‘ al-Fatâwânya bahwa, “ Musibah yang menimpa manusia bisa jadi azab, bisa jadi ujian, dan kita tidak boleh memastikan musibah yang menimpa pada individu atau daerah ter tentu sebagai azab.” 

Pernyataan ibn Taimiyah juga selaras dengan pernyataan Imam Il-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn dengan menyebutkkan,  “Azab secara umum sudah terputus sejak wafatnya Rasulullah SAW, yang tersisa hanyalah ujian, peringa tan, dan hukuman duniawi yang tidak bisa dipastikan sebagai azab akhirat.” 

Semua muslim harus meyakini  bahwa setiap musibah mengandung hikmah baik untuk membersihkan dosa, mengangkat derajat, sebagai pengingat, atau sebagai azab bagi yang pantas.  Kerana tidak ada suatu musibah pun yang terjadi kecuali dengan izin Allah Swt. 

Sebagaimana Allah Swt tegaskan dalam Surat At-Taghâbun ayat 11, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” 

Imam Ibn Qayyim  dalam kitab Zâdul Ma‘âd menulis, “Jika musibah membuatmu dekat dengan Allah, itu adalah Rahmat. Namun, jika musibah membuatmu jauh dari Allah, maka itu adalah azab.”

Pengelompokan musibah
Para ulama seperti Ibnul Qayyim, As-Sa’di, Ibnu Taimiyah memberikan beberapa indikator dalam mengelompokkan musibah

Pertama, musibah itu sebagai ujian jika membuat manusia bertobat, mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan amal saleh, dan memperbaiki akhlak. 

Kedua, musibah itu bisa sebagai azab, jika musibah itu membuat manusia menambah maksiat, menambah kufur nikmat, menimbulkan kesombongan, dan semakin jauh dari Allah Swt. 

Maka, dapat disimpulkan bahwa jika banjir bandang dan semua efeknya menjadikan kita semakin dekat dan taat kepada Allah Swt, maka musibah ini adalah ujian untuk kita semua, sehingga semua kelelahan, kes ulitan, kesedihan dan kekhawatiran kita adalah pengampunan dosa dan pengangkatan derajat di Sisi Allah Swt. 

Namun sebaliknya, jika musibah ini masih membuat kita lalai dari perintah Allah Swt dan masih bermaksiat kepada-Nya, maka banjir bandang ini menjadi azab bagi kita semua. 

Berikutnya, kita bahas tentang sikap yang tepat bagi seorang muslim dalam meng hadapi musibah

Sikap seorang muslim yang benar dalam menghadapi musibah banjir bandang adalah: 

Pertama, bersabar (ﺍﻝﺹﺏﺭ) dan tidak berkeluh kesah sebagaimana firman Allah, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah berkata: Inna lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.” (Al-Baqarah 155–156). 

Kedua, mengucapkan zikir saat musibah, sebagaimana yang diajarkan Nabi saw, “Sesungguhnya kami milik Allah… Ya Allah, berilah aku pahala dari musibah ini dan gantilah dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim). 

Ketiga,  introspeksi dan memperbanyak tobat (ﺍﻝﺕﻭﺏﺓ). Seorang muslim tidak boleh langsung memastikan bahwa musibah adalah azab, tetapi setiap musibah adalah momentum untuk bertobat. 

Sebagaimana firman Allah Swt, “Musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan kalian, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (Asy Syūrā: 30)

Keempat,  meyakini bahwa musibah menghapus dosa. Sebagaimana Rasulullah saw menyampaikan,  “Tiada seorang muslim tertimpa kesusahan, sakit… hingga duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapuskan sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Kelima, tidak menyalahkan Allah Swt dan tidak berburuk sangka kepada Allah Swt.  Ketika musibah datang, seorang muslim tidak boleh menyalahkan takdir atau marah kepada ketetapan Allah Swt sebagaimana dalam hadis Rasulullah saw, “Jangan kalian mencela waktu (keadaan), karena Allah yang mengatur waktu.” (HR. Muslim) 

Keenam, saling membantu dan menolong korban. Di antara kewajiban seorang muslim kepada yang lainnya saat bencana adalah menyelamatkan, menolong, memberi makan, serta sedekah. 

Sebagaimana yang Rasulullah ajarkan, “Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Muslim) 

Ketujuh,  memperbanyak doa agar musibah diangkat. 

Seorang muslim hendaknya memperbanyak doa Ketika atau setelah musibah seperti, “Ya Allah, angkatlah bencana ini dari kami dan dari negeri kami.” 

Kedelapan, mengambil ibrah (pelajaran)  dan evaluasi lingkungan. 

Hal ini meliputi kerusakan alam, kebiasaan buruk masyarakat, tata ruang yang salah, dan kelalaian menjaga sungai dan hutan. 

Semoga kita semua menjadikan musibah banjir bandang yang melanda Aceh hari ini sebagai ujian dan peringatan dari Allah Swt untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan bertobat dari dosa-dosa kita, sehingga musibah ini dapat mengangkat derajat kita dan menjadi penghapus dosa-dosa kita.  Amiin ya rabbal ‘alamin. (*)

Baca juga: Prinsip Keseimbangan Hukum Tuhan

Baca juga: Judi, Jalan Pintas Menuju Kesengsaraan

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved