Berita Banda Aceh
Lumpur Banjir Bandang Bisa Diolah Jadi Batu Bata, Pernyataan Guru Besar USK, Ahli Bata Ringan
Ratusan ribu korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh kini menghadapi persoalan serius: lumpur yang mengeras di dalam rumah, pekarangan,
Ringkasan Berita:
- Prof. Abdullah USK menyarankan lumpur kering pascabanjir dimanfaatkan sebagai bahan batu bata atau beton ringan.
- Anies Baswedan mendukung ide tersebut, namun menekankan perlunya uji laboratorium untuk memastikan kualitas.
- Pakar menyarankan relokasi warga di daerah rendah karena Aceh memiliki siklus banjir besar setiap 22–25 tahun.
PROHABA.CO, BANDA ACEH - Ratusan ribu korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh kini menghadapi persoalan serius: lumpur yang mengeras di dalam rumah, pekarangan, jalan, ruko, sawah, hingga rumah ibadah.
Lumpur ini menimbulkan kebingungan warga karena tidak tahu ke mana harus membuangnya.
Membuang lumpur ke sungai atau laut bukanlah solusi, sebab dapat mencemari lingkungan dan menyebabkan pendangkalan.
Solusi untuk permasalahan dalam maupun di pekarangan yang pelik ini ditawarkan oleh Prof Dr Ir Abdullah MEng, Dosen Fakultas Teknik Sipil pada Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Menurut Prof Abdullah, secara teknis, komposisi bahan batu bata adalah tanah liat dan pasir.
Lumpur kering yang kini menutupi hampir seluruh daerah terdampak banjir bandang dan longsor di Aceh juga berupa lumpur dan pasir.
Dengan demikian, sangat besar peluang dapat dimanfaatkan sebagai material pembuatan batu bata.
Ia yakin akan itu karena di dalam lumpur kering tersebut sudah tercampur tanah dan pasir, dua material yang memang sangat dibutuhkan untuk membuat batu bata.
Hanya komposisinya mungkin perlu disesuaikan. Bahkan, kalau komposisi tertentu, bahan lumpur banjir ini pun dapat digunakan untuk bahan agregat ringan buatan (artificial light weight aggregates) atau ALWA yang digunakan dalam pembuatan beton ringan structural dan beton ringan untuk elemen struktur.
Ia terangkan bahwa harga jual ALWA sangat tinggi karena dapat menjadi campuran beton mutu struktural dan membuat konstruksi gedung menjadi lebih ringan, sehingga lebih kecil beban gempa yang bekerja, dibandingkan gedung yang dibuat dengan beton beragregat batuan alam.
Namun, ia ingatkan bahwa perlu investasi untuk mempersiapkan sistem pembakarannya.
“Insyaallah ini akan menjadi solusi pemanfaatan lumpur kering yang pascabencana dirasakan sebagai masalah besar oleh para korban banjir dan longsor di Aceh,” kata Abdullah melansir Serambinews di Banda Aceh, Senin (22/12/2025) petang.
Baca juga: Endapan Lumpur Tebal Bikin Empat Puskesmas di Bireuen Belum Beroperasi
Pakar dan pencipta bata ringan ini menambahkan bahwa tentu banyak korban banjir bandang dan longsor yang tidak tahu harus membuang ke mana lumpur di rumah dan di sekitar kediamannya.
Dibuang ke sungai atau ke laut, itu bukanlah solusi yang tepat karena akan mencemari sungai dan laut serta dapat menyebabkan pendangkalan.
Berita Banda Aceh
Banjir Aceh
Banjir Bandang
Lumpur Banjir
batu bata
Guru Besar USK
Bata Ringan
tanah liat
bahan pembuatan batu bata
Prohaba.co
| 69 Siswa SMAN 3 Banda Aceh Tembus PTN Lewat Jalur Prestasi, Didominasi USK |
|
|---|
| Gubernur Aceh Muzakir Manaf Lantik Tiga Kepala SKPA, Tekankan Serapan Anggaran |
|
|---|
| BBPOM Banda Aceh Edukasi Pelaku Usaha Warung Kopi Kajhu Soal Kebersihan dan Pangan Sehat |
|
|---|
| Pemerintah Aceh Usulkan Bantuan Presiden bagi UMKM Terdampak Bencana |
|
|---|
| Kejati Aceh Tahan Tersangka Baru Korupsi Beasiswa Aceh, Tagihan Fiktif Rugikan Negara Rp14 Miliar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Prof-Dr-Ir-Abdullah-MEng-Guru-Besar-Fakultas-Teknik-Sipil-Universitas-Syiah-Kuala-USK.jpg)