Kamis, 18 Juni 2026

Mutiara Ramadhan

114 “Surat Cinta”

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Di Indonesia kita peringati dengan Nuzulul Qur’an pada setiap malam 17 Ramadhan, meski belum tentu juga Al-Qur’an

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
ISTIMEWA/HO
Dr. Marah Halim, S.Ag., M.Ag., M.H, Widyaiswara BPSDM Aceh 

Oleh: Dr. Marah Halim, S.Ag., M.Ag., M.H., Widyaiswara BPSDM Aceh

PROHABA.CO - Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Di Indonesia kita peringati dengan Nuzulul Qur’an pada setiap malam 17 Ramadhan, meski belum tentu juga Al-Qur’an diturunkan malam ke-17 bulan Ramadhan karena ada silang pendapat tentang hal ini.

Namun, begitulah cara dan gaya Indonesia mengangungkan dan membumikan Al-Qur’an.

Masih ada lagi budaya Islam ala Indonesia yang bahkan di negara-negara Timur Tengah tidak ada, misalnya lagi Isra’ Mi’raj dan halalbihalal. 

Orang Arab pun bingung melihatnya.

Semua bentuk kreasi dan inovasi budaya keagamaan tersebut tidak lain berfungsi edukatif sebagai strategi untuk meng-update dan me-refresh nilai-nilai Islam secara simbolik dan substansial.

Sempena peringatan Nuzulul Qur’an pada Ramadhan 1447 Hijriah kali ini, layak kiranyakita menawarkan perspektif baru tentang keberadaan AlQur’an dalam kehidupan kita.

Perspektif yang memandang Al-Qur’an sebagai semata-mata bacaan suci dari Ilahi sepertinya terlalu formal dan kaku.

Apatah lagi menganggapnya setakat manuskrip tua dan kuno yang berisi cerita kenabian, umat, serta bangsa terdahulu.

Padahal, Muhammad Syahrur, pemikir Islam dari Syuriah yang terkenal itu, mengatakan, “Bacalah Al-Qur’an seolah-olah ia diturunkan kepadamu.”

Dalam konteks inilah kita perlu membangun perspektif berdasarkan pembacaan terhadap makna tersirat dari keberadaan Al-Qur’an.

Daripada memersepsikan Qur’an sebagai kaku dan mati, sudah saatnya kita persepsikan Qur’an dengan pendekatan yang lebih santai dan romantis dalam hubungan Khalik dan makhluk-Nya.

Misal, dengan membangun perspektif baru dalam pola piker (mindset) kita bahwa sesungguhnya Qur’an itu adalah korespondensi romantis berupa “surat cinta” Sang Pencinta Sejati kepada makhluk-Nya manusia, makhluk yang diberi potensi merasakan cinta. 

Baca juga: Nuzulul Quran: Awal Turunnya Petunjuk Hidup 

Sang Maha Cinta

“Aku bagaimana persepsi manusia ciptaann-Ku (Ana ‘inda zhanni ‘abdi), sebuah hadis Qudsi riwayat Bukhari dan Muslim.

Sayangnya, para penebar dan penyebar ayatayat-Nya lebih banyak merilis ayat-ayat siksa daripada ayatayat cinta.

Mereka lebih banyak membangun persepsi dan persangkaan yang cenderung bias tentang karakter Si Pengirim 114 surah atau surat. 

Gambaran tentang-Nya lebih didominasi oleh gambaran penegak hukum yang siap menindak para pelanggar dan pendosa.

Hampir saban Jumat khatib “meneror” jemaahnya dengan ayat-ayat siksa; buah dari konstruksi teologis yang telah berusia lebih dari satu milenium yang hingga kini masih bertahan dan dipandang sebagai ‘indisputable’.

Jadinya, beribadah hanya jadi ajang pendekatan (PDKT) dan upaya menyenangkan Sang Pengirim Surat.

Si penebar ayat juga merasa cukup puas melihat jemaahnya pulang dengan jiwa yang ciut memikirkan dosa-dosanya ketimbang jiwa yang tercerahkan. 

Pendekatan ini tentu saja lebih banyak memperdayakan daripada memberdayakan; jemaah lebih banyak dibuat horor dan inferior dalam komunikasi transendentalnya.

Sudah saatnya gambaran tentang Sang Pengirim 114 surah itu digambarkan dengan karakter ramah penuh cinta; bukan karakter marah penuh murka.

Alas pikir untuk menegakkan perspektif ini sangat kuat, bahkan dinyatakan dengan sangat tegas di awal ayat dan surah alQur’an sendiri dengan kalimat “bismillahirrahmanirrahim”.

Bismillahirrahmanirrahim bukanlah setakat formalitas pembuka surat. Ini adalah proklamasi identitas.

Tuhan ingin dikenal pertama kali sebagai Sang Pengasih dan Penyayang, bukan sebagai Sang Penghukum.

Dia memperkenalkan diri-Nya melalui spektrum cinta yang paling luas, yang mencakup segalanya (rahmatan lil ‘alamin).

Baca juga: Momentum Hijrah di Bulan Ramadhan

Persembahan bukti besar cintanya langsung dinyatakan pada ayat kedua, alam semesta di mana segala keperluan hidup manusia telah disediakan-Nya.

Di surah-surah awal Dia juga terus berupaya meyakinkan bahwa rangkain surah-suraah yang Dia kirimkan adalah petunjuk kepada orang-orang yang memahami dan menghayati betapa besar cinta-Nya (muttaqin).

Sepanjang 6.000 lebih kata dan kalimat yang dirangkai dalam surah-surah-Nya itu bertujuan agar makhluk pilihannya membangun peradaban kehidupannya berbasis cinta.

Untuk menguatkan, Dia ceritakan panjang lebar peradaban yang pernah eksis yang hidup dalam kebencian sebagai bandingannya.

Hanya Sang Pencinta sejati yang secara repetitif terusmenerus mengungkapkan kecintaannya.

Surah-surah-Nya itu ada yang Panjang, ada yang pendek.

Baik dalam surah yang panjang atau surat yang pendek intinya Sang Pencinta Sejati hanya berisi dua tema, yakni peringatan dan kabar gembira.

Anjurannya untuk terus-menerus membaca surahsurah-Nya itu tidak lain adalah upaya-Nya menurunkan sifat peuh cinta-Nya kepada manusia makhluk-Nya. 

Semua bentuk komunikasi transendental disyaratkan mengulang-ulang mengutip isi surah-surah-Nya, terutama dalam ibadah shalat semua orang bisa melaksananakannya; dalam apa pun kondisi kita.

Hanya Sang Pencinta sejati yang selalu mengkhawatirkan keselamatan orang yang dicintainya, meski orang yang dikhawatirkan-Nya itu kadang membangkang, bahkan mengingkari apa yang dikatakan dan diperingatkan.

Ibarat besarnya cinta ayah dan bunda kepada putra-putrinya, tidak ada detik yang berlalu tanpa memikirkan keselamatan dan kebaikan hidup anak-anaknya.

Demikian halnya cinta dari Sang Maha Cinta kepada manusia ciptaan-Nya.

Sang Maha Cinta sendiri yang menyatakan bahwa sesungguhnya jiwa kita manusia adalah bagian dari jiwa-Nya (wa nafakhtu fihi min ruuhii). 

Baca juga: Takwa kepada Allah sebagai Inti Kehidupan

Mewujudkan peradaban cinta

Di Indonesia, Nuzulul Qur’an adalah acara kenegaraan, baik yang diadakan dalam acara resmi yang dihadiri para pembesar negeri.

 Lalu, apa pesan dan kesan yang diharapkan dari gala itu?

Alangkah naifnya jika ‘event’ semegah itu hanya menjadi ajang politis untuk menyenangkan pemegang saham terbesar dari eksistensi republik ini.

Pesan yang harus tersampaikan adalah agar jiwa par pembesar dan pemegang kewenangan negara yang besar-besar itu dipenuhi dengan sifat cinta yang digaungkan Sang Pencinta Sejati.

Di tangan mereka nasib 280 juta manusia Indonesia yang mengharapkan kebijakan, pelayanan publik, peraturan, penegakan hukum, bantuan bencana, dan subsidi BBM yang penuh cinta.

Selanjutnya, kesan yang diharapkan dari besarnya ‘event’ Nuzulul Qur’an itu adalah kesan cinta yang awet berkepanjangan hingga 11 bulan yang akan datang, hingga para pembesar itu diundang lagi untuk kembali dibacakan lagi untaian dan uraian ayat-ayat cinta kepada mereka. 

Tanpa kesan yang lama dan panjang, peringatan Nuzulul Qur’an hanyalah sekedar seremoni belaka; ajang kamuflase dan kepura-puraan cinta penguasa dan pengusaha kepada warganya.

Mekar tidaknya cinta dalam hati sanubari para pembesar itu berdampak luas dan mendalam pada kehidupan bangsa ini.

Sadar atau tidak keterpurukan dan ketertinggalan bangsa kita dibandingkan bangsa lain disebabkan oleh defisit dan krisis cinta dan kasih sayang dari penguasa dan pengusahanya.

Berulang kali dalam surahsurah-Nya, Sang Pencinta Sejati mengulas kolaborasi nircinta antara penguasa dan pengusaha plus kaum intelektual seperti kisah Fir’an, Haman, Qarun, dan Samiri.

Cerita peradaban yang sama akan terus berulang sepanjang sejarah; hanya bertukar pemeran.

Istilah-istilah yang menghiasai media untuk menggambarkan karakter-karakter pembawa bencana ini mengalami eufimisme belaka.

Terdengar beradab, tetapi sesungguhnya perilaku dan perlakuannya biadab.

Apa kurang biadabnya kekayaan negara hanya berkisar pada 9 naga? Apa kurang biadabnya mereka berbagi HPH di atas meja.

Apa masih disebut beradab pengusaha yang memagari laut, pengoplos BBM, dan masih banyak lagi.

Dengan berbagai sumber inspirasi cinta, Indonesia sesungguhnya mengalami disrupsi cinta.

Namun, cinta itu hanya menyebar secara horizontal di antara masyarakat banyak yang saban hari dibuat halu oleh cinta kepada negara dan bangsanya. 

Sementara, secara vertical cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan; bukannya cinta yang didapatkan, tetapi pengkhianatan demi pengkhianatan yang berlindung di balik seremoni kenegaraan seperti Nuzulul Qur’an. (*)

Baca juga: Ikhlas: Amal Besar yang Bisa Gugur Tanpa Kita Sadari

Baca juga: Ramadhan, Menyempurnakan Hubungan Sesama Manusia

Baca juga: Sabar: Ibadah Sunyi yang Pahalanya Besar

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
1 - 1
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
4 - 2
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
Live
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
VS
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved