Mutiara Ramadhan
Lailatul Qadar: Malam Penuh Cahaya dan Ampunan
Satu hal yang istimewa di bulan Ramadhan ada satu malam yang dalam Al-Qur’an Surah Al-Qadar disebutkan sebagai lebih baik dari 1.000 bulan
Oleh: Dr. K.H. Tafsir, M.Ag. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah
PROHABA.CO - Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Tentu kita sangat bergembira bisa memasuki bulan Ramadhan 1447 Hijriah, bulan yang penuh berkah, syahrul mubarak.
Kadang-kadang di negara lain istilah yang muncul adalah Ramadhan karim, Ramadhan penuh kemuliaan dan kemurahan.
Karena, ketika Ramadhan kita harus menjadi pemurah, menjadi manusia-manusia yang murah hati.
Maka, penyebutannya kadang Ramadhan karim atau Ramadhan mubarak, Ramadhan yang penuh berkah.
Artinya, ziadatus sa’adah, ziadatul khair, bertambahnya kebahagiaan dan bertambahnya kebaikan.
Karena Ramadhan adalah bulan di mana kita memasuki bulan yang penuh kebaikan dan penuh kebahagiaan.
Bahkan, di Indonesia penyebutannya lebih dari itu, selalu mengatakan bulan suci Ramadhan.
Sehingga, di Indonesia, Ramadhan merupakan bulan penyucian.
Maka, tradisinya diawali dengan penyucian diri berupa ‘padusan’, yaitu mandi agar suci untuk memasuki bulan suci dan diakhiri dengan penyucian.
Kalau Ramadhan penyucian kepada Allah, nanti diakhiri penyucian kepada sesama melalui halalbihalal, agar bersih kepada sesama dan tidak ada kesalahan dengan orang lain setelah bersih kepada Allah, sehingga kebersihannya menjadi sempurna.
Satu hal yang istimewa di bulan Ramadhan ada satu malam yang dalam Al-Qur’an Surah Al-Qadar disebutkan sebagai lebih baik dari 1.000 bulan, yakni malam yang bernama Lailatulqadar.
Lailatulqadar sebenarnya merupakan salah satu hal yang bersifat ‘hidden of God’ dalam Islam, rahasia Ilahi.
Kita tidak tahu persis apa yang dimaksud dengan malam 1.000 bulan, yaitu malam ketentuan Lailatulqadar yang memiliki nilai lebih baik daripada 1.000 bulan.
Baca juga: 114 “Surat Cinta”
Apa yang dimaksud ketika ayat ini turun? Apakah suasana di masyarakat lebih baik dari 1.000 bulan yang lalu ataukah salah satu malam di antara satu bulan Ramadhan ada yang bernilai lebih dari 1.000 bulan?
Sekali lagi jawabannya adalah wallahu a’lam bissawab, hanya Allah Yang Tahu. Akan tetapi, inilah bagian dari ta’abbudi dalam Islam, sesuatu yang kita terima dengan hati, bukan dengan akal.
Diterima dengan iman, bukan semata-mata dengan rasional.
Dan itulah bagian dari agama, ada hal-hal yang bersifat ta’abbudi, bukan ta’aqquli.
Namun demikian, kapan Lailatulqadar turun sepenuhnya hanya Allah yang tahu.
Namun, kita sebagai muslim, khususnya di Muhammadiyah, tidak boleh memahami Lailatulqadar secara instan.
Tidak boleh hanya memiliki target tertentu di malam tertentu, lalu tekun beribadah dengan harapa padan pmalam tersebut turun Lailatulqadar, sementara malam yang lain tidak serius beribadah karena menganggap Lailatulqadar tidak turun.
Pemahaman instan seperti ini tentu bukan bagian dari ajaran Islam.
Dalam Islam, berbuat baik, baik ritual maupun sosial, dilakukan secara terus-menerus tanpa harus terkonsentrasi pada waktu tertentu saja.
Bahwa satu malam di antara bulan Ramadhan ada malam Lailatulqadar, artinya kita harus penuh dan total beribadah semaksimal mungkin selama bulan Ramadhan.
Soalnya, kita berkeyakinan satu di antara malam itu adalah malam istimewa yang nilainya lebih baik daripada 1.000 bulan.
Sekali lagi, kita beribadah secara total dan ikhlas dari awal sampai akhir Ramadhan.
Tidak ada prioritas satu malam yang membuat kita lebih bersemangat dibandingkan malam yang lain dalam beribadah.
Baca juga: Nuzulul Quran: Awal Turunnya Petunjuk Hidup
Tidak ada yang instan dalam Islam. Semuanya sesuai dengan sejauh mana kita berbuat, itulah pahala yang kita terima.
Sejauh mana kita berjuang, itulah nilai yang kita dapatkan.
Sehingga, mestinya dari awal sampai akhir Ramadhan bukan mengalami kurva yang menurun, tetapi kurva yang naik.
Semakin hari semakin baik, bukan mencari hari-hari prioritas yang justru melemahkan hari yang lain.
Hal seperti ini tentu tidak sesuai dengan amalan Islam.
Islam mengajarkan bahwa sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan akan diberi pahala oleh Allah.
Namun, yang terbaik adalah semakin hari semakin meningkat, bukan hari ini semangat karena merasa
Lailatulqadar turun, lalu besok tidak bersemangat karena menganggap tidak turun.
Yang seperti ini bertentangan dengan nilai Islam. Islam mengajarkan kita untuk semakin hari semakin baik, bukan semakin hari semakin menurun atau hanya berbuat baik pada hari tertentu saja.
Maka, mari kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, kita tidak terpancang dalam beribadah selama Ramadhan hanya untuk target malam Lailatulqadar saja.
Akan tetapi, bagaimana mengisi Ramadhan dari hari pertama sampai akhir dengan semangat ibadah yang semakin meningkat, bukan flat, tetapi terus meningkat dari hari ke hari.
Itulah mengapa pada puncaknya, sebagaimana Nabi Muhammad teladankan kepada kita, sepuluh hari terakhir menjadi puncak spiritualitas kita dalam menjalani perjalanan spiritual.
Ibarat kita sedang bertapa, sebenarnya puasa itu adalah proses pertapaan.
Pada 20 hari pertama, pertapaan kita masih inklusif.
Kita masih bekerja, masih berbaur, dan masih beraktivitas sebagaimana biasa.
Namun, memasuki sepuluh hari terakhir, kita bertapa secara eksklusif, yaitu iktikaf, berdiam diri di masjid, menjauhi keramaian dan pikiran duniawi, serta fokus untuk muhasabah dan membangun kekuatan spiritualitas.
Namun, ini menjadi paradoks karena sering kali semakin mendekati Idulfi tri, kita justru semakin material.
Bukannya semakin khusyuk di masjid, melainkan sibuk di mal, sibuk di terminal, sibuk di pasar, dan sibuk di supermarket karena kultur kita yang akan berpesta pada saat Idulfitri.
Tentu kita tidak bisa mengabaikan kebutuhan duniawi, tetapi jangan sampai kebutuhan dunia mengganggu kebutuhan spiritualitas kita.
Maka, Lailatulqadar adalah puncak perjalanan spiritual kita di bulan Ramadhan.
Nilainya lebih baik dari 1.000 bulan karena merupakan hasil perjalanan spiritual selama Ramadhan.
Sekali lagi, ini bagian dari ‘hidden of God’, rahasia Ilahi yang kita tidak tahu persis maknanya, kapan turunnya, dan bagaimana gambaran Lailatulqadar, baik secara fisik maupun spiritual.
Mari kita pahami Lailatuqadar sebagai puncak perjalanan spiritualitas selama bulan Ramadhan, sehingga nilainya begitu tinggi dan begitu berharga.
Lebih berharga daripada1.000 bulan. Terima kasih, mudah-mudahan bermanfaat. Kurang lebihnya mohon maaf. (*)
Baca juga: Momentum Hijrah di Bulan Ramadhan
Baca juga: Takwa kepada Allah sebagai Inti Kehidupan
Baca juga: Ikhlas: Amal Besar yang Bisa Gugur Tanpa Kita Sadari
Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Dr-KH-Tafsir-MAg.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.