Mutiara Ramadhan
114 “Surat Cinta”
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Di Indonesia kita peringati dengan Nuzulul Qur’an pada setiap malam 17 Ramadhan, meski belum tentu juga Al-Qur’an
Oleh: Dr. Marah Halim, S.Ag., M.Ag., M.H., Widyaiswara BPSDM Aceh
PROHABA.CO - Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Di Indonesia kita peringati dengan Nuzulul Qur’an pada setiap malam 17 Ramadhan, meski belum tentu juga Al-Qur’an diturunkan malam ke-17 bulan Ramadhan karena ada silang pendapat tentang hal ini.
Namun, begitulah cara dan gaya Indonesia mengangungkan dan membumikan Al-Qur’an.
Masih ada lagi budaya Islam ala Indonesia yang bahkan di negara-negara Timur Tengah tidak ada, misalnya lagi Isra’ Mi’raj dan halalbihalal.
Orang Arab pun bingung melihatnya.
Semua bentuk kreasi dan inovasi budaya keagamaan tersebut tidak lain berfungsi edukatif sebagai strategi untuk meng-update dan me-refresh nilai-nilai Islam secara simbolik dan substansial.
Sempena peringatan Nuzulul Qur’an pada Ramadhan 1447 Hijriah kali ini, layak kiranyakita menawarkan perspektif baru tentang keberadaan AlQur’an dalam kehidupan kita.
Perspektif yang memandang Al-Qur’an sebagai semata-mata bacaan suci dari Ilahi sepertinya terlalu formal dan kaku.
Apatah lagi menganggapnya setakat manuskrip tua dan kuno yang berisi cerita kenabian, umat, serta bangsa terdahulu.
Padahal, Muhammad Syahrur, pemikir Islam dari Syuriah yang terkenal itu, mengatakan, “Bacalah Al-Qur’an seolah-olah ia diturunkan kepadamu.”
Dalam konteks inilah kita perlu membangun perspektif berdasarkan pembacaan terhadap makna tersirat dari keberadaan Al-Qur’an.
Daripada memersepsikan Qur’an sebagai kaku dan mati, sudah saatnya kita persepsikan Qur’an dengan pendekatan yang lebih santai dan romantis dalam hubungan Khalik dan makhluk-Nya.
Misal, dengan membangun perspektif baru dalam pola piker (mindset) kita bahwa sesungguhnya Qur’an itu adalah korespondensi romantis berupa “surat cinta” Sang Pencinta Sejati kepada makhluk-Nya manusia, makhluk yang diberi potensi merasakan cinta.
Baca juga: Nuzulul Quran: Awal Turunnya Petunjuk Hidup
Sang Maha Cinta
“Aku bagaimana persepsi manusia ciptaann-Ku (Ana ‘inda zhanni ‘abdi), sebuah hadis Qudsi riwayat Bukhari dan Muslim.
Sayangnya, para penebar dan penyebar ayatayat-Nya lebih banyak merilis ayat-ayat siksa daripada ayatayat cinta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Dr-Marah-Halim-SAg-MAg-MH.jpg)